::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sajak-sajak Budhi Setyawan

Sabtu, 24 Maret 2018 11:00 Puisi

Bagikan

Sajak-sajak Budhi Setyawan
Tentang Doa

doa adalah rangkaian tulang dari keberadaan
yang menopang daging harapan untuk bertahan
ketika segala riuh dan pikuk
menyerbu tubuh dari segala pintu
membandang bagai bah menerjang
berangkat dari sungai dendam
legam berkepanjangan

di dalamnya tersusun sumsum
dari buliran keyakinan dan pengakuan
pada nirmala hayat di atas langit
yang mendesir dan mengalir
menderas di pembuluh waktu
membasahi kanal kanal rindu

adalah doa yang menegakkan badan
dalam melanglang ke segala ranah rasian
menerobos panas dan hujan
menembus angin dan bebatuan
dengan bermata panah hening
yang runcing beruliran dan berlumur harum
keabadian

Bekasi, 2015 

 
Jalan Doa

berbagai jalan telah kita kenali
hanya kusut serupa temali
karena gelegak berpaut diri
kerap menjejakkan duri nyeri

hanya kepenatan kita tangkap
dari pergumulan riuh menghisap tubuh
sementara teriak ruh nyaris tak terdengar telinga waktu
dan isak sunyi merintikkan serpih haru

ke mana pertanyaan akan pulang
karena ruang menanggung beban himpitan
yang diturunkan dari nujum perhitungan
tentang alur nasib dan peruntungan

dan,
akhirnya hanya kepada doa
kita kembali menaruh isi dada dan kepala
karena doa adalah juru selamat semesta
dari taring cemas yang suka memangsa
kerlip rindu dan cinta

Jakarta, 2015 
 
Teduh Doa

ingatan tentangmu
membekukan kecemasan
cahaya malam pun pendar di ranting kesunyian

lirih jalan napas
makin hunjam
hingga sisakan gema panjang
merasuk senyap selepas hujan
dan suara angin keluar dari lubang seruling
kirimkan lagu lama
lalu terbayang rerumpun bambu
batang batang bergesekan
dengan senandung derit menyayat langit
terlingkar utas sulur dan duri
serta miang yang jatuh ke tanah
bersama selaput kering, pasrah

aku sendiri
aku bersama
sedih sekalian gembira

dan pada doa kutitipkan gugusan air mata
berharap kelak menjadi rumah
yang teduh bagi keasingan usia 

Jakarta, 2015 
 
Penulis dilahirkan di Purworejo, Jawa Tengah, pada 9 Agustus 1969. Buku puisi terbarunya Sajak Sajak Sunyi (2017). Mengelola komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB). Blog sastranya https://budhisetyawan.wordpress.com Facebook: Budhi Setyawan, Instagram: busetpurworejo. Bekerja sebagai peneliti di Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan di Jakarta. Saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat.