::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Rasulullah Bersumpah Tiga Hal Ini Pasti Terjadi

Ahad, 25 Maret 2018 20:15 Ubudiyah

Bagikan

Rasulullah Bersumpah Tiga Hal Ini Pasti Terjadi
Imam Jalaludin As-Suyuthi di dalam kitabnya al-Jâmi’us Shaghîr merekam satu sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam

ثلاث أقسم عليهن: ما نقص مال قط من صدقة فتصدقوا، ولا عفا رجل عن مظلمة ظلمها إلا زاده الله تعالى بها عزاً فاعفوا يزدكم الله عزاً، ولا فتح رجل على نفسه باب مسألة يسأل الناس إلا فتح الله عليه باب فقر

Artinya: “Tiga hal yang aku menyumpahinya; (1) tak akan berkurang harta karena sedekah, maka bersedekahlah; (2) tidaklah seseorang memaafkan suatu penganiayaan yang dialaminya kecuali Allah menambahkan baginya kemuliaan karena penganiayaan itu, maka maafkanlah niscaya Allah akan menambah kemuliaan bagimu; (3) tidaklah seseorang membuka bagi dirinya pintu meminta-minta di mana ia meminta-minta kepada manusia kecuali Allah bukakan baginya pintu kefakiran.” (Jalaludin As-Suyuthi, al-Jâmi’us Shagîr dalam al-Faidlul Qadîr, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012, jilid III, halaman 393 – 394)

Dari hadits di atas dituturkan ada 3 (tiga) hal yang Rasulullah bersumpah akan kebenaran ketiga hal tersebut. Semestinya apa pun yang disampaikan oleh Baginda Rasul sudah pasti kebenarannya meski tanpa sumpah sekalipun. Adanya Rasulullah bersumpah pada tiga hal ini merupakan penguat akan kebenarannya dan menunjukkan betapa pentingnya umat beliau menaruh perhatian kepadanya.

Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, Rasulullah bersumpah bahwa tidak akan berkurang harta seorang hamba karena disedekahkan.

Tidak berkurangnya harta ketika disedekahkan bukan berarti secara kasat mata harta itu benar-benar tidak berkurang jumlahnya. Jelas setiap kali harta ditasarufkan pastilah jumlahnya berkurang. Abdur Rauf Al-Munawi dalam kitabnya al-Faidlul Qadîr (Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012, jilid III, halaman 393) menuturkan bahwa meski harta yang disedekahkan secara kasat mata berkurang jumlahnya namun kemanfaatan harta tersebut di akherat kelak tetap kekal, tidak berkurang.

Sebagaimana diketahui bahwa manusia hidup di dua alam, yakni alam dunia dan alam akherat. Ketika ia memberikan sebagian hartanya untuk disedekahkan maka sesungguhnya yang ia lakukan adalah memindahkan manfaat harta itu dari alam dunia ke alam akherat. Secara kasat mata memang jumlah hartanya berkurang di dunia ini, namun di akherat kelak ia akan bertemu kembali dengan harta yang ia sedekahkan itu dalam bentuk nilai manfaat yang jauh lebih berharga. Inilah yang dimaksud tak akan berkurang harta karena disedekahkan.

Dalam kehidupan sehari-sehari kita bisa melihat dengan mata kepala betapa orang-orang yang mudah mensedekahkan hartanya justru kekayaannya makin bertambah banyak. Ketika ia berikan sebagian hartanya memang pada saat itu jumlah hartanya berkurang. Namun pada saat berikutnya ia dapatkan kembali rejeki yang lebih melimpah sehingga makin bertambah harta yang dimilikinya.

Mengapa demikian? Karena dengan mensedekahkan sebagian harta Allah akan memberkahi harta pelakunya sehingga semakin bertambah banyak di dunia untuk menutup harta yang berkurang secara fisik karena disedekahkan. Sementara di akherat kelak Allah akan membalas sedekah tersebut. Demikian Al-Munawi menuturkan.

Tidak akan berkurangnya harta karena sedekah disumpahi oleh Rasulullah akan kebenarannya. Bukti di lapangan pun telah nyata. Meski demikian, banyak orang yang tidak mengimaninya sehingga merasa berat bila harus memberikan apa yang ia miliki untuk disedekahkan kepada orang lain yang membutuhkan atau untuk kepentingan syiar agama.

Tidak salah kiranya bila kita belajar kepada mereka yang gemar melakukan perjudian. Mereka tidak eman-eman dengan uang yang mereka miliki. Berapapun akan mereka keluarkan demi satu harapnn, menang dengan hasil yang lebih melimpah dari yang dipasangkan. Padahal diakui bahwa apa yang mereka harapkan adalah semu. Namun kecintaan mereka pada dunia menjadikan mereka begitu yakin akan harapan-harapan semu itu. Bila mereka kalah berjudi mereka tidak putus asa dan dengan mudahnya mengeluarkan uangnya lagi demi berharap kemenangan. Bila mereka menang berjudi maka akan lebih banyak uang yang dikeluarkan demi berharap kemenangan yang lebih besar lagi.

Sementara harapan akan bertambah banyak dan berkahnya harta karena disedekahkan adalah harapan yang pasti benarnya, adalah harapan yang nyata, bukan semu. Namun kecintaan kepada dunia menjadikan lunturnya keimanan pada harapan-harapan nyata itu.

Kedua, Rasulullah menyumpahi satu kebenaran bahwa tidaklah seorang yang dizalimi lalu ia mau memaafkan orang yang menzaliminya kecuali Allah akan mengangkat kemuliannya.

Dalam riwayat yang lain disebutkandengan redaksi:

ولا ظلم عبد مظلمة صبر عليها الا زاده الله عز وجل عزا 

Artinya: “Tidaklah seorang hamba didzalimi yang ia bersabar menghadapinya kecuali Allah akan menambahnkan kemuliaan baginya.” (Jalaludin As-Suyuthi, al-Jâmi’us Shagîr dalam al-Faidlul Qadîr, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012, jilid III, halaman 394)

Ya, kemuliaan akan diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang disakiti oleh orang lain namun ia tetap bersabar atas perlakuan itu dan dengan lapang hati mau memaafkan orang yang menyakitinya. Ia tidak menaruh benci dan dendam kepada orang tersebut. Kesalahan dan perbuatan aniaya yang dilakukan kepadanya ia maafkan dengan menghapusnya dari memori hati dan pikirannya.

Ini adalah sikap yang sulit dan berat, tak setiap orang mampu melakoninya. Namun justru karena sulit dan berat itulah maka Allah berkenan memberikan kemuliaan di dunia dan akherat bagi siapa saja yang melakukannya.

Di dalam hal ini Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd (Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyah, 2010, halaman 13) memberi contoh Nabi Yusuf ‘alaihis salâm. Ketika difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara Nabi Yusuf tetap bersabar menghadapi perilaku dzalim tersebut. Ia tidak dendam kepada Zulaikha yang menjadi penyebab kesusahannya. Dan pada akhirnya Allah mengangkat derajat Nabi Yusuf menjadi seorang pembesar di negeri Mesir. Ia dimuliakan setelah sebelumnya ia dihinakan.

Ketiga, tidaklah seseorang membuka bagi dirinya pintu meminta-minta kepada manusia kecuali Allah akan bukakan baginya pintu kefakiran.

Orang yang suka meminta-minta kepada orang lain untuk memberikan sejumlah harta kepadanya, dengan menampakkan kefakiran dan kebutuhannya, disumpahi oleh Rasulullah bahwa Allah akan membukakan baginya pintu kefakiran yang tidak pernah ia sangka. Kepadanya Allah akan menguasakan sesuatu yang dapat menghancurkan apa saja harta yang dimiliki orang tersebut sehingga ia jatuh melarat dengan kondisi yang lebih jelek dari yang ia tunjukkan kepada orang saat ia meminta-minta. Demikian Al-Munawi menjelaskan.

Kiranya hadits ini tidak sedang berbicara tentang para pengemis papa yang setiap hari berkeliling meminta-minta dari satu pintu rumah ke rumah yang lain. Ini berbicara tentang orang-orang yang sesungguhnya memiliki cukup harta untuk memenuhi kebutuhannya namun karena kerakusannya ia lakukan segala cara agar orang lain mau memberinya harta. Untuk maksudnya itu ia tampakkan kondisi seakan ia tak memiliki apa-apa, ia seakan membutuhkan sesuatu namun tak bisa mencukupinya.

Kiranya hadits ini berbicara tentang orang-orang yang suka meminta-minta secara tidak hak. Dengan berbagai dalih dan alasan ia meminta kepada orang lain yang berkeperluan dengannya untuk memberikan sesuatu yang tidak semestinya ia terima.

Mereka yang suka melakukan hal ini pada akhirnya nanti akan difakirkan oleh Allah. Bila sebelumnya ia memiliki banyak harta maka pada saatnya kelak hartanya itu akan dibinasakan Allah sehingga ia menjadi benar-benar fakir dan membutuhkan pemberian orang lain. Na’ûdzu billah. Hal ini disumpahi oleh Rasulullah akan kebenarannya.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)