::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Said Aqil Siroj: Kholid Potret Pengusaha NU Sukses Kelola Coklat (1)

Rabu, 28 Maret 2018 09:30 Pemberdayaan

Bagikan

Kiai Said Aqil Siroj: Kholid Potret Pengusaha NU Sukses Kelola Coklat (1)
Blitar, NU Online
Penempatan acara pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blitar Jawa Timur masa khidmah 2018-2023 di Kampung Coklat Blitar Selasa (27/3) bukan tanpa sebab. 

Pasalnya, di kampung inilah Wakil Bendahara PCNU Kabupaten Blitar Kholid Mustafa pemilik lahan sekaligus usaha merintis usaha dari nol hingga besar seperti sekarang ini.

Owner Kampung Coklat, Kholid Mustafa, disela-sela acara pelantikan mengatakan,  memang seluruh karyawan Kampung Coklat adalah warga nahdliyin sehingga wajar bila mereka sumpah janji berkhidmah kepada ulama dan akan selalu mengikuti dawuh-dawuh para ulama-ulama NU.

Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj  menceritakan bahwa usaha Kholid di bidang kakao adalah bagian dari potret sukses NU di bidang ekonomi yang melibatkan masyarakat banyak.
 
Banyak kegiatan NU dan banomnya diselenggarakan di Kampung Coklat mulai PKD Ansor, IPNU dan IPPNU, PMII, Fatayat, Muslimat, maupun PCNU. 

Kholid bersyukur jika Kampung Coklat bisa memberikan manfaat bagi Nahdlatul Ulama. “Yang penting manfaat untuk NU dan tempat ini,’’ itulah kalimat yang sering dikatakan Kholid ketika banyak dari aktivis NU  mengadakan aktivitas di Kampung Cokelat.

Kholid bercerita awal memulai usaha kakao yang kini menjadi kampung kakao,  budidaya kakao terinspirasi di kebun belakang rumah istrinya, dimana dilahan seluas 700m2  terdapat 120 pohon kakao yang berdiri tidak terawat tapi tumbuh dan berbuah apalagi jika dirawat.

Ia berkeyakinan bahwa biji kakao pasti memiliki pasar. Akhirnya ia mencari informasi dan akhirnya menemukan bahwa tengkulak biji kakao ada di Sumberpucung Kabupaten Malang. Ia pun  membawa seberat 1,5 karung terjual dengan nilai sekitar Rp800 ribu. 

Dari sini ia memutuskan untuk fokus pada budi daya kakao, kemudian memutuskan untuk magang belajar kakao ke Puslit Kabupaten Jember. Hanya modal kerja keras sosialiasi terus ia lakukan, banyak rintangan yang Kholid lewati. Akhirnya di tahun 2005 ia mendirikan kelompok tani Guyub Santoso.

Memanfaatkan jaringan dari Puslit Jember akhirnya Kholid mendapatkan informasi harga kakao di pergudangan Pelabuhan Perak Surabaya. Ternyata selisih harga antara tengkulak yang mencapai 7000/kilo membuat Kholid bertekad untuk memperjuangkan petani kakao agar terhindar dari permainan harga tengkulak.

Bermodal bondo nekad (Bonek) akhirnya Kholid mampu menembus gudang di Pelabuhan Perak dan mendapatkan kepercayaan dari pabrik olahan coklat dengan mensuplai 3,2 ton setiap bulan bahkan saat ini sudah mampu mensuplai sekitar 300 ton setiap bulan. 

Semangatnya tidak berhenti disana, setelah sukses di biji kakao akhirnya Kholid memutuskan untuk terjun ke bisnis olahan kakao di tahun 2013 dan akhirnya juga membangun Kampung Coklat di Tahun 2014.

Atas kegigihannya mengelola kakao, Ia diganjar sebagai Tokoh petani kakao dengan menerima berbagai penghargaan dari Gubernur bahkan Presiden. Ia memiliki jaringan bisnis yang mengakar sampai puluhan ribu petani kakao di Jawa Timur tidak heran jika banyak tokoh politik mendekatinya. (Imam Kusnin Ahmad/Muiz