::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Bukti Islam Cinta Damai

Rabu, 28 Maret 2018 22:00 Opini

Bagikan

Bukti Islam Cinta Damai
ilustrasi (ist.)

Oleh: Rohmatul Izad

Hari ini, dunia Islam bukan hanya dikenal sebagai agama yang membawa misi kedamaian dan keadilan. Lebih dari itu, Islam juga dikenal sebagai agama yang membawa kekerasan atau ekstremisme yang hobinya berkonflik dan laku perpecahan. Belum lagi, adanya sikap Islamophobia yang menganggap Islam menggambarkan ajaran-ajaran yang begitu menakutkan.

Secara fitrah, Islam pada dasarnya membawa misi keadilan, perdamaian, dan rahmat bagi semesta. Namun, citra Islam ternyata seringkali dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dengan membawa pesan benci dan tidak menginginkan Islam berkembang di muka bumi ini.

Agar lebih mudah dipahami, kita perlu menunjukkan bukti-bukti yang mengarah pada satu paradigma bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin. Bukan agama yang membawa kerusakan atau perpecahan di tengah-tengah kita. Mengingat, begitu banyaknya pesan-pesan damai yang diajarkan oleh Al Qur’an.

Rasulullah misalnya, tidak selalu melakukan peperangan jika hal tersebut bukan satu-satuya jalan dan instrumen untuk menyebarkan ajaran Islam. Tentu, kedamaian dan keadilan adalah hal yang paling utama dilakukan Rasulullah agar dunia makin baik dan manusia makin bermoral.

Dalam QS. Al Anfal : 61, ditegaskan bahwa Islam adalah agama yang condong kepada perdamaian, dan itu akan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Seseorang yang condong kepada perdamaian, maka ia adalah orang-orang yang paling mengerti tentang maksud dan tujuan diselenggarakannya agama Islam di muka bumi ini.

Selain perdamaian, ayat ini secara inheren juga menegaskan tentang betapa konflik tidaklah diperlukan dan tidaklah elok jika sesama umat manusia terpecah belah satu sama lain, apalagi sesama umat Islam yang maha santun.

Seruan kepada perdamaian juga menjadikan umat Islam patuh pada aturan Tuhan dan sisi lain dari bentuk ketakwaan kepada ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Ini dapat dibuktikan misalnya, bagaimana Rasulullah seusai perang tidak lantas menghabiskan seluruh orang-orang non-muslim, apalagi kepada penduduk yang tidak bersalah.

Justru Rasulullah merekonstruksi dan memberikan kesejahteraan untuk membangun keadilan pada masyarakat waktu itu, tanpa memandang suku, agama, bahasa, apalagi warna kulit yang sama sekali tidak substansial ataupun hakiki.

Selain itu, ada hal lain lagi yang dapat membuktikan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai, seperti ajaran tentang larangan membunuh. Dalam QS. Al Maidah: 32 dijelaskan bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

Secara Islami, perbuatan membunuh bukanlah sesuatu yang diperintahkan. Ajaran Islam tidak pernah memandang membunuh sebagai hal yang baik kecuali dalam konteks menegakkan aturan karena kejahatan itu sudah sungguh sangat terlalu dan berlebih-lebihan. Dalam Islam, membunuh bisa berarti sebuah hukuman di medan peperangan, tetapi aturan membunuh tidak boleh sembarang dilakukan dan harus sangat hati-hati.

Dalam konteks keindonesiaan, membunuh hanya boleh dilakukan oleh pemerintah dan tentu saja hal itu dilakukan atas dasar kejahatan besar dan sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Islam tidak punya hak atas aturan ini, sehingga ajaran Islam terselamatkan dari praktik membunuh dan hanyalah negara yang punya hak.

Logikanya, tindakan membunuh walau bagaimana pun adalah bentuk dari mengambil hak hidup bagi manusia. Sementara hidup itu sendiri adalah mutlak pertanggungjawaban setiap individu di hadapan siapapun, bisa dihadapan masyarakat, Tuhan atau negara. Mengingat, kedamaian dalam konteks Islam pastilah jauh diprioritaskan daripada melakukan perang atau saling membunuh.

Ada lagi satu kecenderungan yang mengarah pada keadaan di mana Islam tidak cinta damai, meski perbuatan itu berasal dari luar. Misalnya seperti orang-orang non-muslim yang membenci Islam itu sendiri. Dalam QS. At Taubat: 32, Allah menjelaskan bahwa ada sekelompok orang-orang diluar Islam yang memang sengaja mengolok-olok Islam dan tidak menginginkan Islam menjadi agama yang sempurna.

Ayat itu menjelaskan tentang betapa banyak orang-orang non-muslim yang tidak suka dengan Islam dan justru mencibir ajaran Islam. Ini artinya perspektif kedamaian dalam Islam tidak dilakukan oleh mereka yang di luar Islam. Ayat itu membuktikan bahwa yang mengolok-olok bukanlah umat Islam atau ucapan-ucapan yang mengarah pada konflik, tetapi dilakukan oleh orang-orang di luar Islam.

Seperti zaman dahulu kala, ajakan berperang bukan saja berasal dari Islam. Orang-orang di luar Islam bahkan bangsa-bangsa yang begitu maju menjadikan perang sebagai media paling ampuh untuk berkuasa. Di zaman kita saat ini, perang pun masih ada, meski tidak menggunakan cara-cara fisik, seperti perang mulut di media sosial, adu argumentasi, menebar kebencian, mencaci maki, bahkan membawa berita palsu untuk mengadu domba dan memecah belah bangsa. Begitu miris dan memprihatinkan.

Ada lagi bukti tentang Islam cinta damai, misalnya Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan untuk memaksakan keyakinan. Meski tidak berarti Islam membenarkan semua agama, dalam hal ini Islam justru menyerahkan seluruh dimensi keyakinan pada pilihan individu masing-masing, yang penting pada akhirnya nanti ia dapat mempertanggungjawabkan imannya di hadapan sang Tuhan yang maha benar. Keterangan tentang sikap inklusifisme Islam ini bisa dilihat dalam QS. Al Kafirun.

Dengan itulah, dalam upaya menjaga perdamaian dalam Islam dan sesama umat manusia di muka bumi ini, seseorang tidak boleh mencampuradukkan hubungan sinkronis antara Islam dan Iman misalnya, atau Iman dan moralitas dari bentuk tingkah laku yang baik, apalagi saling menghina perbedaan. Jika ini dilakukan, pada akhirnya kita akan memilih jalan saling menghargai pilihan masing-masing, menjaga kerukunan dan perdaiaman antar sesama.

Yang terakhir dan paling utama sebagai seorang muslim, sudah sepatutnyalah dapat menyebarkan dakwah yang santun. Seperti firman Allah SWT dalam QS. An Nahl: 125: "Serulah kepada jalan Tuhan dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara-cara yang baik".

Ayat ini menunjukkan betapa Islam adalah agama yang mengajarkan dakwah dengan bil hikmah. Rasionalitas dalam berdakwah harus mengarah pada dimensi kesadaran manusia dengan cara-cara hikmah dan pelajaran yang baik, karena ini sifatnya mengajak bukan memerintah apalagi memaksa, yang pada intinya adalah menggunakan bahasa yang baik yang sekiranya itu dapat menggungah kesadaran manusia secara primordial.

Ajaran perdamaian dalam Islam harus benar-benar lebih dikedepankan, karena ini menjadi bagian penting dari tujuan diselenggarakannya penciptaan manusia dan makhluk-makhluk lain. Dengan itu, setiap muslim harus menjadi agent of change dan menjaga keutuhan bumi ini melalui cinta dan kasih, agar Islam semakin berkembang, maju, berpihak kepada yang lemah, dan makin dicintai oleh umat manusia.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.