NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gula Kawung

Sabtu, 31 Maret 2018 08:30 Cerpen

Bagikan

Gula Kawung

Oleh Abdullah Alawi


Jalu mengayunkan gegender pada tandan langari pohon kawung. Suaranya menyatu dengan gemuruh arus Cicatih yang menampar-nampar lamping cadas ditumbuhi pohon kiray. Arusnya berpusar-pusar di mulut sedong. Benda yang hanyut akan diputar-putar seperti digiling.

 

Gegender masih berayun teratur di tangan Jalu. Suaranya kadang menimbulkan gaung berulang-ulang di permukaan leuwi. Mulutnya kemudian bergumam...

 

Yun ka kidul nyiuk ti sagara kidul

 

Yun ka kaler nyiuk ti sagara kaler…

 

Angin bertiup menerpa tubuh Jalu yang berkeringat. Baju hitamnya yang lusuh berkibar-kibar. Daun-daun bergesekan di pepohonan. Batang-batang bambu berderit-derit. Sesekali burung pipit bercericit sambil berloncatan di gerumbulan semak yang dirimbuni pohon bersulur. Tonggeret menjerit-jerit seperti menghembuskan kidung terpencil. Itulah suara yang ditabuh nayaga alam di lamping Cicatih. Sementara matahari senja mulai tunggang gunung.

 

Kemudian perlahan-lahan Jalu menuruni sigay. Di pundaknya tergantung lodong penuh nira. Keringatnya becucuran menuruni lekuk tubuhnya. Lututnya gemetar. Perasaannya miris seperti mendengar sembilu bambu dikerik pisau. Jeram Cicatih yang bergumpal-gumpal seperti menarik-nariknya terjun. Seandainya terpeleset, tubuhnya langsung menimpa rumpun semak belukar yang ditumbuhi pohon kaso, harendong, cariang dan gadung kemudian terguling-guling, lalu diterkam jeram Cicatih yang akan menyeretnya ke sedong. Lalu digiling. Tenggelam dan hanyut terbentur batu.

 

Dia memang trah penyadap kawung. Meski begitu, lututnya tetap gemetar ketika kakinya menginjak tanah. Dia menyeka keringat di wajah dengan lengan bajunya sambil memandang pohon kawung setinggi 12 meter itu. Inilah pertama kali ia menyadap nira.

 

Sebelumnya ia tak terbayangkan bisa melakukannya. Dan dia baru sadar telah melapalkan kalimat-kalimat ketika memukul tandan langari. Kalimat yang tak pernah dikenal dan dipelajarinya. Mulutnya seperti ada yang menuntun. Tangannya juga seperti ada yang membimbing mengayunkan gegender.

 

Apa betul pernyataan kakeknya tempo hari tentang ikut campurnya karuhun dalam hal ini?

***

 

“Mbah, semalam aku mimpi,” kata Jalu ketika bersama kakeknya di tepas, suatu pagi. Di hadapannya dua singkong bakar yang dialasi daun pisang, satu buah ceret dan dua gelas.

 

 

Sementara kakeknya sibuk menganyam benang, membikin kecerik. Sesekali tangannya melinting rokok daun kawung dengan tembakau mole yang sengak.

 

“Mbah, semalam aku mimpi,” Jalu mengulang kalimatnya.

 

“Apa?”

 

Jalu tak langsung menjawab karena mulutnya dipenuhi singkong. Tenggorokannya terasa kering. Dia minum terlebih dahulu.

 

“Mimpi apa?” Mbah Jaro mengulang pertanyaannya, “mimpi basah? Kalau itu, tak usah diceritakan! Cukuplah dinikmati sendiri. Tak usah berbagi.”

 

“Bukan!” 

 

“Lalu, mimpi apa?”

 

“Mimpi menggiring air dari lembah sampai ke bukit.”

 

“Apa?” Mbah Jaro kaget, seolah pantatnya disengat tawon.

 

“Mimpi menggiring air dari lembah ke bukit.”

 

“Sampai ke bukit?”

 

“Iya. Sampai ke bukit. Kira-kira apa makna mimpi itu?”

 

Mbah Jaro terdiam. Tangannya berhenti menganyam.

 

Jalu memandang muka kakeknya dengan tegas. Seperti sedang menghitung keriput di  wajahnya. Seolah menagih jawaban dari keriputnya. Sementara mata kakeknya menatap ke arah lain. Kemudian senyum mengembang. Tapi belum juga berkata. Malah tangannya yang kehitaman mengambil singkong bakar yang masih panas. Sisa-sisa abu dari hawu masih menempel. Dia memecah singkong itu. Asap mengepul. Dia meniupnya. Uap putih tipis-tipis mengepul. Sekarang dia mulai mengunyah.

 

“Kakek sudah tua,” katanya sambil menuangkan air dari ceret ke gelas.

 

“Sudah tahu! Semua orang tahu kakek itu tua. Apa memang merasa muda? Siapa bilang masih muda? Keterlaluan!”

 

“Sudah capek.”

 

“Ya pasti capek, Kek. Seumur hidup di sawah, di kebun, menyadap kawung, mengantar gula ke warung-warung dan sesekali lintar di Cicatih.”

 

“Kakek juga dulu mimpi hampir sama seperti itu, cuma tidak sampai ke bukit,” katanya sambil mengunyah. “ingat! Kita adalah keturunan gula kawung. Kerabat pohon kawung. Dari karuhun, kita diwarisi keahlian menyadap. Turun-temurun. Mulai dari ki Jabog, ki Martabi, ki Rusbi, eyang Inok, dan ki Aim. Mereka adalah penyadap kawung. Ahli gula. Kebun kita di lamping Cicatih ditumbuhi kawung setiap musim. Musang selalu menanamnya tanpa meminta imbalan. Kitalah yang memenuhi kebutuhan gula di kampung ini. Bahkan sesekali sampai ke kampung tetangga kalau gula melimpah. Padahal banyak gula dari luar, tapi lidah mereka sudah terikat dengan gula kita.”

 

“Apa maksudnya Kakek bercerita seperti itu? Aku mimpi menggiring air, Kakek malah bercerita gula, musang, nira dan  orang-orang tak saya kenal diabsen satu per satu.”

 

“Nah, mimpimu semalam itu adalah panggilan mereka. Tanganmu sudah diminta menyadap kawung yang sedang subur-suburnya di lamping Cicatih di samping pohon loa dan jati.”

 

“Apa secepat itu, Kek?”

 

“Ya.”

 

Jalu melongo. Belum paham keterangan kakeknya. Terbayang tiap pagi dan sore menggendong lodong berisi nira seperti kakeknya. Ada sesal menyergap kenapa menceritakan mimpinya semalam. Dia terdiam, memandang ke arah lain. Pikirannya entah ke mana.

 

Sekarang mbah Jaro memandangi cucu berusia 16 tahun itu yang sejak kecil yatim piatu.

 

 “Tidak, Kek. Aku tak ingin jadi penyadap kawung. Tak mau jadi tukang gula.”

 

“Tidak bisa! Kamu harus mau. Jangan seperti bapakmu. Kamu tidak bisa menghindar dari panggilan karuhun. Kau satu-satunya penerus gula kawung,”

 

“Tapi kan aku terlalu muda untuk menjadi penyadap.”

 

“Ki Jabog, ketika dipanggil karuhun, lebih muda darimu. Pada masa dialah gula melimpah hingga bisa membeli sawah dan kebun buat keturunan-keturunannya.”

 

Jalu teridam. Meski kakeknya suka membanyol, tapi perintahnya tak bisa ditolak. Keinginan untuk keluar desa seperti teman-temannya, mencari hidup yang lain, terhalang sudah.

 

“Terimalah panggilan ini dengan lapang. Semoga zaman keemasan ki Jabog terulang kembali.”

 

“Aku belum siap. Tali-parantinya juga tidak tahu. Memukul lengan langari, menaiki sigay yang tinggi itu bukan pekerjaan mudah.”

 

“Itu masalah kecil. Karuhun akan menuntunmu. Mereka bertanggung jawab sepenuhnya. Pokoknya lusa kamu sudah harus memulainya. Besok kakek membersihkan harupat dan ijuknya.”

 

“Tapi aku masih belum siap.”

 

“Tak ada tapi-tapi!” tukas kakeknya dengan nada tinggi.

 

Jalu kembali terdiam. Pikirannya meracau. Apa betul kata-kata kakeknya? Kenapa tidak bisa keluar dari titah karuhun? Kenapa orang yang telah lama menyatu dengan tanah masih mencampuri orang hidup? Pertanyaan-pertanyaan yang hanya menyelinap dalam hatinya.

 

“Tidak ada yang sulit, Jalu. Tanganmu nanti ada yang menuntun. Segala seluk-beluk penyadapan tak perlu kamu pelajari. Dia hadir dengan sendirinya karena kamu adalah trah penyadap kawung. Mimpi semalam adalah bukti. Yang penting saat nyadap, kamu jangan mandi dulu. Kalaupun mandi karena mimpi basah misalnya, kamu jangan mandi pakai sabun.” Banyolan kakeknya kembali keluar. Singkong bakar yang gosong kelihatan di sela giginya yang jarang-jarang. Tapi Jalu tak tertarik dengan gurauan itu. Terasa hambar.

 

“Bau sabun atau parfum bisa membuat pohon aren pundung,” sambung kakeknya, “dia tak akan meneteskan niranya. Dia lebih senang bau keringatmu. Terus, sebelum memanjat sigay, batang aren ditinggur tujuh atau sembilan kali agar nira keluar dengan lancar dan bagus. Terakhir, jangan pernah memberi siapapun yang meminta nira di jalan. Orang kampung sini sudah paham. Bukan karena pelit, tapi dari karuhunn sudah begitu.”

 

Keduanya terdiam. Masing-masing mengunyah singkong bakar. Matahari sudah mulai panas. Langit cerah. Angin berhembus perlahan.

***

 

Sejak kecil Jalu sudah kenal dengan pohon kawung. Di rumah kakeknya ditemukan bagian-bagian dari pohon itu. Mulai dari lintingan rokok. Sapu lidi neneknya untuk menyapu halaman. Alu untuk menumbuk di lesung. Jeruji jendela yang sudah mengilap. Juga dahan kawung kering untuk kayu bakar. Karenanya kakek sering menasihati supaya hidup seperti pohon kawung, banyak manfaatnya. Buahnya bisa dibuat kolang-kaling. Batangnya bisa dibuat tepung. Niranya disadap jadi gula. Nasihatnya itu sering disempali banyolan-banyolan. Tapi keinginannya keras, tak bisa dibantah.

 

Dan kini, semenjak mimpi yang diterjemahkan kakeknya sebagai panggilan karuhun, dia semakin dekat dengan kawung. Pagi dan sore ke lamping Cicatih. Pagi mengambil nira yang dipasang sore kemarin. Kemudian memasang lodong pagi ini untuk diambil sorenya. 

 

Hanya dalam beberapa hari saja, nira itu melimpah. Sering lodongnya tak cukup menadah tetesan nira. Gula kawung melebihi biasanya. Tangan ki Jabog mengalir di tubuhnya. Jalu mulai kerasan sebagai penyadap.

 

Tapi ketika ketemu Euis, tetangganya, tubuhnya menggigil, lebih gemetar ketimbang menaiki sigay. Perasaan-perasaan yang entah apa namanya, menyergap tiba-tiba. Tiba-tiba saja, menggedor dadanya seperti gegender memukul-mukul langari. Gemuruh di dadanya melebihi arus Cicatih yang jeramnya bergumpal-gumpal. Susah-payah dia menekan perasaan itu. Senyum gadis itu lebih rawan daripada jatuh tersungkur ke semak belukar di lamping. Jalu bertanya dalam hatinya, apakah karuhun juga ikut bertanggung jawab atas perasaan itu?

\

Sukabumi, 2006

 

 

Yun ka kidul nyiuk ti sagara kidul,

Yun ka kaler nyiuk ti sagara kaler:

berayun ke utara, menciduk dari samudera utara, berayun ke selatan meciduk dari samudera selatan.

Gegender: alat pemukul langari

Langari: tandan buah aren, sumber nira

Lamping: kontur tanah yang miring

Sedong