: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Bias Gender Teknologi

Senin, 02 April 2018 18:15 Opini

Bagikan

Bias Gender Teknologi
Ilustrasi (via Pinterest)
Oleh Muhammad Ishom

Teknologi kadang memang bias gender karena dunia teknik hingga sekarang masih didominasi kaum laki-laki. Dominasi ini disebabkan karena kaum perempuan umumnya termarginalisasi dalam bidang-bidang teknik terutama permesinan. Akibatnya perspektif perempuan kadang tidak terakomodasi dalam desain dan aplikasi teknologi.

Untuk membuktikan tesis di atas, coba kita lihat sekolah-sekolah teknik menengah atau program studi teknik di perguruan tinggi. Mayoritas siswa atau mahasiswanya laki-laki karena bidang teknik telah dianggap sebagai wilayah laki-laki. Tentu saja ini berdampak pada produk-produk yang mereka hasilkan ketika sudah terjun ke dunia kerja memenuhi permintaan pasar. Sebut saja, misalnya, seatbelt, alat kontrasepsi, dan lain sebagainya.

Seatbelt (sabuk pengaman) di dalam mobil adalah salah satu contoh produk teknik yang tidak ramah perempuan. Desain benda ini tidak ramah perempuan karena, menurut pengakuan perempuan, menggangu kenyamanan wilayah dada mereka. Apalagi ketika mereka sedang hamil tua atau dalam masa menyusui bayi, seatbelt tidak nyaman dipakai dan menimbulkan persoalan yang tidak menguntungkan mereka. 

Bagi laki-laki seatbelt dengan desain yang rata dan melintang secara diagonal tak bermasalah karena karakter wilayah dada mereka memang cenderung rata. Bahkan kalaupun didesain horizontal dengan sudut 180 derajat dan melintangi wilayah dada mereka tidak menimbulkan masaalah berarti. Hal ini tentu berbeda dengan wilayah dada perempuan yang tidak bisa dibelah secara diagonal sehingga menimbulkan ketidaknyamanan karena tertekan atau terhimpit tali seatbelt.

Contoh lain lagi adalah alat-alat kontrasepsi yang macamnya lebih banyak dan lebih diperuntukkan bagi perempuan dari pada laki-laki. Hal ini terjadi karena laki-laki enggan mengendalikan organ tubuhnya, tetapi malahan mengendalikan organ perempuan untuk kenikmatan dan kepuasan dirinya sendiri. Mana ada alat-alat kontrasepsi yang bikin nyaman perempuan. Hampir semuanya menyiksa mereka. Padahal secara nalar sehat, yang seharusnya ber-KB adalah laki-laki karena sperma berasal dari organ tubuh mereka. 

Jadi memang teknologi terkadang bias gender karena secara faktual lebih banyak dikendalikan oleh laki-laki dari pada perempuan. Namun demikian produk-produk khas untuk perempuan seperti underwear (CD, bra dan sebagainya) atau pembalut wanita sudah didesain sedemikian rupa sehingga nyaman bagi mereka. 

Artinya, desain produk-produk khas untuk perempuan selama ini sudah disesuaikan sedemikian rupa dengan karakter tubuh perempuan sehingga nyaman bagi mereka. Sudah barang tentu hal ini karena ada keterlibatan perempuan dalam mendesain produk-produk tersebut. Sedangkan dalam produk-produk yang dianggap uniseks seperti seatbelt di atas tidak mengisyaratkan adanya keterlibatan perempuan. Jadilah desain produk teknik ini kurang mempertimbangkan kenyamanan bagi tubuh mereka. 

Di masa depan harus ada inovasi baru terkait dengan desain seatbelt sebab kini semakin banyak perempuan mengendara mobil seiring dengan semakin maju tingkat pendidikan dan ekonomi mereka serta terbukanya ruang-ruang publik yang lebih luas bagi mereka. Diperbolehkannya perempuan menyetir sendiri di Saudi Arabia harus bisa ditangkap oleh pabrikan sebagai peluang pangsa pasar yang makin luas sehingga diperlukan desain seatbelt yang ramah perempuan. 

Untuk itu suara perempuan terkait dengan teknologi khususnya seatbelt  harus terus didengungkan agar didengar dengan baik pabrikan industri mobil. Demikian pula derita perempuan yang terus membelenggu mereka terkait pemakaian alat-alat kontrasepsi yang tidak adil harus semakin lantang diteriakkan. Pabrikan alat-alat kontrsepsi harus memperbanyak macam-macam alat kontrsepsi yang diminati laki-laki seperti yang sekarang ini akan segera terwujud, yakni pil KB laki-laki. Ini semua demi tercapainya keadilan bersama. 


Penulis, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta