NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Harta Kita, Manfaat untuk yang Lain

Selasa, 03 April 2018 13:30 Ngobrolin Duit

Bagikan

Harta Kita, Manfaat untuk yang Lain
Kita diajari untuk tidak menumpuk harta. Dengan kata lain, ada empat tantangan dalam menyiapkan hari depan: harus tetap menabung sekaligus menjaga daya beli kita dari harga berbagai kebutuhan hidup yang kian tinggi, sambil memastikan bahwa uang simpanan kita tetap berguna bagi banyak orang, serta sesuai prinsip syariah. Tantangan menabung, mudah kita lakukan. Tetapi bagaimana dengan kedua tantangan lainnya? 

Jawabannya untuk tantangan menjaga daya beli adalah investasi. Investasi berbeda dari menabung. Ketika menabung, kita sekedar menyimpan uang untuk membeli sesuatu di kemudian hari. Intinya, uang tak dicuri orang. Ketika berinvestasi kita menyimpan uang sambil menumbuhkannya melalui berbagai instrumen, termasuk saham, obligasi dan reksa dana. Dalam jangka panjang, investasi pasar modal seperti saham, obligasi dan reksa dana telah terbukti memberikan hasil lebih dibanding bunga tabungan bank.

Bermanfaat bagi banyak orang
Tantangan ketiga: memastikan uang kita tidak sekedar ditimbun, tetapi tetap berguna bagi banyak orang. Orang yang merasakan manfaat dari harta kita bukanlah sanak saudara dekat kita. Harta yang dititipkan kepada kita wajib diusahakan untuk dapat bermanfaat bagi mereka yang jauh, bahkan mungkin tidak kita kenal sekalipun. Sulit? Tak perlu.

Ketika berinvestasi pada saham, obligasi dan reksa dana, secara tidak langsung kita “meminjamkan” modal kepada berbagai perusahaan terpercaya untuk berekspansi. Jangan langsung berpikir bahwa kita cuma memperkaya konglomerat pemilik perusahaan-perusahaan raksasa. Pikirkan juga karyawan-karyawan perusahaan tersebut yang kesejahteraannya akan ikut meningkat ketika ekspansi bisnis perusahaan tersebut berhasil. 

Sesuai ajaran agama
Tantangan keempat adalah yang terpenting: sesuai syariah. Beruntunglah, di Indonesia saat ini investasi syariah telah dikelola dengan sangat baik. Enam bulan sekali, pada bulan Mei dan November, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan daftar perusahaan-perusahaan terbuka, surat hutang syariah (SUKUK) yang memenuhi syarat sebagai instrumen investasi syariah, daftar tersebut sering disebut Daftar Efek Syariah (DES).

Jika berinvestasi langsung di saham syariah dan sukuk begitu menyita waktu dan memerlukan pengetahuan yang tidak sedikit, reksa dana syariah dapat kita jadikan alternatif. Reksa dana syariah dikelola oleh Manajer Investasi yang memiliki Unit Pengelola Investasi Syariah (UPIS) dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS), seperti Reksa Dana Manulife. Pengelolaan reksa dana syariah diatur dalam peraturan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001.

Mari melangkah untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik dari hari ini, manfaatkan harta kita untuk memberi manfaat bagi orang banyak melalui investasi.