NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Masa Kecil dan Remaja Kiai Ali Mustafa Yaqub

Sabtu, 07 April 2018 09:15 Tokoh

Bagikan

Masa Kecil dan Remaja Kiai Ali Mustafa Yaqub
Kiai Ali Mustafa Yaqub merupakan sosok ulama ternama yang baru beberapa tahun lalu meninggalkan kita. Kiprah beliau untuk umat islam, khususnya di Indonesia, sangatlah besar. Dalam bidang keilmuan pun tak dapat diragukan lagi, hadis adalah nafasnya, hingga beliau dikenal dengan kedalaman ilmu haditsnya. Dengan demikian, marilah kita mengenal sosok ini.

Kelahiran
Kiai Ali Mustafa dilahirkan di Desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada tanggal 2 Maret tahun 1952. Beliau lahir dari pasangan KiaiYaqub dan Siti Habibah. Ali Mustafa adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Keenam saudaranya adalah Ahmad Damanhuri, Lin Maryuni, Ali Jufri, Sri Mukti, Moh. Zainul Muttaqin, dan Zahrotun Nisa. Kelak, putra-putri Kiai Yaqub banyak yang menjadi tokoh dan ulama, baik lokal maupun nasional.
Dari Kiai Yaqub inilah  jiwa keulamaan Ali Mustafa tumbuh berkembang, sebab ayahanda Ali Mustafa, selain berdagang dan bertani, beliau juga mengemban tugas sebagai kiai masjid. 

Adapun riwayat pendidikan ayahandanya, Kiai Yaqub pernah nyantri di Desa Lebo, Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang pada usia 17 tahun, tepatnya dari tahun 1925-1926 di bawah bimbingan Kiai Masyhuri. Kemudian oleh Kiai Subari Subah diajak nyantri ke Desa Banyutowo, Kabupaten Kendal, untuk ngaji pada Kiai Ahmad Nur Halim selama dua tahun tepatnya 1926-1928.

Secara pendidikan, ayahanda Kiai Ali ini memang bukan tokoh yang pernah mengenyam pendidikan yang tinggi. Meski begitu, beliau memiliki tekad dan tirakat yang kuat untuk membekali putra-putrinya dengan pendidikan formal maupun nonformal. Faktor ini pula yang menjadikan anak-anaknya menjadi tokoh yang berpengaruh, begitu pun dengan Kiai Ali Mustafa di kemudian hari.

Masa Kanak-kanak
Untuk memprediksi masa depan seseorang sejak masa kecilnya sangatlah rumit. Tak jarang kita menemukan ulama besar, namun di masa kecil ternyata nakalnya minta ampun, atau masa kecilnya penuh dengan riang gembira yang sulit bagi kita untuk memprediksi bahwa dia akan menjadi seorang tokoh. Lagi-lagi meski ini tidak mutlak, dalam artian banyak pula ulama besar yang sejak kecilnya sudah diarahkan oleh Allah Swt kepada hal itu.

Ali Mustafa kecil, tak pernah terbersit dalam dirinya bahwa dia kelak akan menjadi ulama kenamaan. Justru cita-cita beliau sangat berbeda dengan kenyataan yang terjadi di masa yang akan datang. Cita-cita Ali Mustafa kecil adalah menjadi seorang dokter. 

Masa-masa itulah ketika beliau belum nyantri, mengenal kitab kuning dan berbagai tradisi kepesantrenan, yang dominannya dia lebih asyik dan masygul dengan dunia anak sebayanya.

Warna-warni masa kecil inilah di mana beliau mengenal segala hal, dari mulai kegemaran hingga kecenderungan bermain. Ali Mustafa kecil tak jauh berbeda dengan teman sebayanya, sering bermain, salah satunya main mobil-mobilan. 

Konon beliau sering bermain mobil-mobilan dengan teman-temannya. Tentunya mobil mainan pada saat itu berbeda dengan mobil-mobilan saat ini, yang mana dahulu kala anak-anak harus mendesain dan membuatnya sendiri dengan cara yang tradisional.

Ali Mustafa kecil memulai pendidikannya di sekolah rakyat (SR) yang tak jauh dari rumahnya, hanya dipisahkan oleh kebun milik ayahnya. Selepas sekolah, biasanya beliau langsung shalat dzuhur dan makan sejenak, kemudian keluar bersama temannya, si Ireng, untuk menggembala kerbau. Tak jarang pula beliau bermain bersama adiknya, Zainul Muttaqin.

Ketika itu Ali Mustafa mempunyai dua tugas dari ayah dan ibunya yang tidak boleh ditinggalkan. Pertama mencari pakan kerbau.Itu adalah tugas dari ayahnya. Tugas yang kedua adalah dari ibunya, yaitu mengambil air.

Ketika mengenyam pendidikan di sekolah rakyat, Ali Mustafa kecil memang sudah menonjol sisi kepintarannya. Hal inilah yang dianggap istimewa oleh adiknya, Zainul Muttaqin. 

Keistimewaan lainnya adalah keberanian beliau untuk dikhitan (disunat) semasa masih duduk di bangku SD. Umumnya anak-anak masyarakat Desa Kemiri ketika itu di-khitan ketika sudah duduk di bangku SMP. 

Itulah kehidupan beliau pada masa kanak-kanak, meski sama dengan teman sebayanya, beliau pun memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya beda. (Amien Nurhakim)