::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

HARLAH KE-95 NU

Kiai Said Cerita Asal Nama Semar, Gareng, Petruk, Bagong dalam Pewayangan

Ahad, 08 April 2018 07:30 Nasional

Bagikan

Kiai Said Cerita Asal Nama Semar, Gareng, Petruk, Bagong dalam Pewayangan
KH Said Aqil Siroj. (Foto: Ahmad Labieb)
Jakarta, NU Online
Dalam banyak kesempatan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan Islam menjadikan budaya sebagai infrastruktur agama. Budaya yang kokoh, Islam pun akan kuat.

Pernyataan serupa kembali disampaikan sesaat menjelang pagelaran wayang kulit dengan lakon Jamus Kalimasada, Sabtu (7/4) malam.

(Baca: Suara Kebenaran Pengiring Pagelaran Jamus Kalimasada)
Dikatakan cerita wayang yang berasal dari India. Oleh Raden Muhammad Said (Sunan Kalijaga) wayang yang semula tersaji dalam gambar-gambar di atas kertas, lalu dipindahkan dalam media wayang kulit.

“Bahkan disispkan nilai-nilai ajaran Islam,” kata Kiai Said.

Salah satu bentuk penyisipan nilai-nilai ajaran Islam adalah ditambahkanya beberapa tokoh yang merupakan adaptasi dari sabda Sayidina Ali.

Samir khairan fatruk mabagha. Bergegaslah melaksanakan kebaikan, tinggalkan hal-hal yang menyimpang. Oleh orang Jawa dimudahkan penyebutannya. Semar, Gareng, Petruk, Bagong,” papar Kiai Said.

(Baca: Kiai Said: Wayang Sarat Filsafat Kehidupan)
Karenanya wayang merupakan dakwah bil khikmah. Dakwah tersebut ternyata berhasil terbukti selama 50 tahun yakni tahun 1450-1500, Islam tersebar di Nusantara melalui budaya, salah satunya wayang.

“Islam tersebar tanpa kekerasan, tanpa darah dan caci maki,” ujar pengasuh Pesantren Atsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini. (Kendi Setiawan)