::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Empat Makam Bersejarah di Tengah Kebun Raya Bogor

Ahad, 08 April 2018 07:15 Fragmen

Bagikan

Empat Makam Bersejarah di Tengah Kebun Raya Bogor
Makam Ratu Galuh. (Foto: Fathoni/NU Online)
Bogor Botanical Gardens atau Kebun Raya Bogor saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga lokasi edukasi kekayaan hayati bagi masyarakat Kota Bogor dan sekitarnya, khususnya para pelajar. Tak kalah penting, keberadaan kebun seluas 87 hektar ini juga berfungsi sebagai paru-paru kota, penyedia oksigen berharga di tengah penat dan polusi kota.

Namun siapa sangka, di tengah rimbunnya pohon dan aneka ragam tumbuh-tumbuhan, ada situs bersejarah berupa makam keramat. Makam ini terletak sekitar 600 meter dari pintu utama 1 Kebun Raya Bogor dan di hari-hari biasa, cukup ramai yang melakukan ziarah. Keramaian pengunjung yang berziarah semakin meruah ketika momen akhir pekan tiba.


Area makam keramat di Kebun Raya Bogor. (Foto: Fathoni/NU Online)

NU Online pada Kamis (5/4/2018) berhasil menelusuri makam yang lokasinya dekat Sungai Ciliwung Cisadane tersebut. Di atas sungai yang membelah kebun raya yang memiliki keragaman flora sebanyak 15.000 lebih ini melintang wahana jembatan gantung berwarna merah. Umumnya makan ini diketahui seiring pengunjung mengarah perjalanannya ke jembatan yang terbuat dari baja dan menjadi ikon Kebun Raya Bogor itu.

Setelah mendekati situs yang telah diresmikan menjadi cagar budaya oleh Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat itu, terdapat empat makam di area seluas lebih kurang 100 meter persegi tersebut. Empat makam tersebut ialah makam Ratu Galuh Mangku Alam Prabu Siliwangi, Mbah Jepra, Mbah Baul, dan Solendang Galuh Pangkuan.

Saat NU Online hendak menemui juru kunci (kuncen) bernama Abdurrohman, biasa disapa Pak Rohman, terdapat beberapa orang yang sedang berziarah dan Pak Rohman sedang mendampinginya. Ia mendampingi peziarah di makam Ratu Galuh yang makamnya terletak berdampingan dengan Mbah Baul. Namun, makan Ratu Galuh memiliki sekat tersendiri.


Peziarah di makam Ratu Galuh. (Foto: Fathoni/NU Online)

Empat makam ini terletak persis di bawah tanah yang membentuk lereng dan di bawah pohon yang cukup besar didampingi pohon-pohon kecil sehingga kondisinya sangat rindang. Permukaan area makam diletakkan batu-batu sungai berukuran sedang untuk melapisi tanah sehingga tidak becek ketika hujan, cukup natural dan artistik.

Adapun makam Mbah Jepra terletak agak tinggian sehingga meskipun peziarah duduk di makam Ratu Galuh yang memiliki sekat, tapi makam Mbah Jepra sangat jelas terlihat. Sedangkan makam Solendang Galuh Pangkuan terletak di luar area pagar.

Empat makam ini terawat dengan baik, para pengunjung tidak hanya disuguhkan keanekaragaman hayati, tetapi juga situs sejarah penting bagi masyarakat Bogor dan Jawa Barat.

Menurut Pak Rohman sang juru kunci, empat makam keramat ini ditemukan sekitar 600 tahun lalu oleh ayahnya, H Rahmat pada tahun 1946. Makam-makam ini diyakini adalah makam Ratu Galuh, istri kedua Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran.

Kemudian Mbah Jepra (Panglima Kerajaan Pajajaran), Mbah Baul (Senopati Kerajaan Pajajaran), dan Solendang Galuh Pangkuan (seorang yang hidup pada era Kerajaan Pajajaran akhir).


Makam Mbah Baul. (Foto: Fathoni/NU Online)

Namun, menurut catatan sejarah Sandi Nusantara (2016) yaitu komunitas yang berkecimpung di dunia kebudayaan dan sejarah Nusantara, makam yang terletak di tengah bukan Ratu Galuh Mangku Alam dalam artian istri kedua Prabu Siliwangi, yakni Nyai Subanglarang, tetapi Ratu Galuh Mangku Alam yaitu Sribaduga Maharaja Prabu Linggabuana.

Adapun maksud dari Ratu Galuh yang berada di Kebun Raya Bogor tersebut ialah Ratu, makna dari “Ra Tunggal” yang berarti Maharaja. Hal demikian bernisbat kepada trah Eyang Sastra yang bermaksud “Ra” adalah Raja Cahaya, sedangkan “Tu” adalah tunggal atau satu.

Ada yang namanya raja, dan ada pula yang namanya maharaja. Seperti misalnya, Prabu Wastu Kencana adalah maharaja yang juga disebut Ratu, karena raja tunggal.

Prabu Wastu Kencana tersebut mempunyai anak Prabu Linggabuana yang juga masih merupakan maharaja. Dari Prabu Linggabuana memecah dua kerajaan; Kerajaan Galuh dan Sunda.

Kerajaan Galuh diberikan kepada anaknya yang bernama Prabu Dewa Niskala. Sedangkan Kerajaan Sunda diberikan kepada anaknya yang bernama Prabu Susuktunggal.

Awalnya, baik Prabu Wastu Kencana maupun Prabu Linggabuana adalah maharaja. Kemudian, setelah kerajaan itu dipecah menjadi dua, Prabu Dewa Niskala dan Prabu Susuktunggal menjadi seorang raja biasa.


Area makam keramat bersejarah di Kebun Raya Bogor. (Foto: Fathoni/NU Online)

Mengenai Mbah Jepra yang mempunyai nama asli Syekh Ja’far Shodiq dan Mbah Baul yang bernama asli Syekh Mambaul Ulum, keduanya merupakan Panglima Prabu Lingabuana.

Terlepas dari perbedaan versi sejarah tersebut, keempat situs makam yang dekat dengan lokasi tumbuhan langka bernama Rafflesia Arnoldi atau Bunga Bangkai ini menarik setiap pengunjung yang datang ke Kebun Raya Bogor.

Menurut Kuncen Pak Rohman, turis mancanegara yang setiap harinya ada untuk berwisata ke Kebun Raya Bogor juga tidak pernah melewatkan salah satu objek wisata sejarah ini.

Dari keempat situs makam ini, lebih lanjut pengunjung bisa mempelajari dan memahami sejarah kerajaan-kerajaan Tatar Sunda seperti Kerajaan Pajajaran atau Kerajaan Pakuan, Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Sunda yang diyakini berdiri antara 1030-1579 masehi. (Fathoni Ahmad)