::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kang Said: Wali Songo Naikkan Harkat Orang Kecil di Nusantara dengan Ushalli

Ahad, 08 April 2018 14:00 Nasional

Bagikan

Kang Said: Wali Songo Naikkan Harkat Orang Kecil di Nusantara dengan Ushalli
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, kedatangan Islam membawa perubahan sosial pada masyarakat di Jawa. Para dai di masa awal seperti Wali Songo mengajarkan kesetaraan sosial terutama menyangkut harkat orang kecil atau kawulo.

Demikian disampaikan Kiai Said Aqil Siroj pada peringatan Harlah Ke-95 NU di Taman Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4) malam.

Kiai Said menunjukkan bahwa sebelum Islam masuk, orang kecil di Jawa tidak boleh menyebut “ingsun” untuk nama dirinya. “Ingsun” adalah sebutan nama diri untuk raja dan kalangan bangsawan.

“Tetapi para kiai datang mengajarkan, ‘ushalli fardhaz zhuhri’, ‘niat shalat sopo ingsun.’ Shalat zhuhur. ‘nawaitul wudhu’a’ ‘niat sopo ingsun ngambil air wudhu. Orang kecil bahagia karena seumur-umur belum pernah menyebut ‘ingsun’ sebelum masuk Islam,” kata Kiai Said yang juga pengasuh pesantren At-Tsaqafah di Ciganjur.

Menurutnya, perubahan ini merupakan sebuah kontribusi Islam yang luar biasa dari para guru agama yang mengajarkan shalat dengan lafal niat “ushalli” atau “nawaitu.”

“Orang kecil ngomong ‘ingsun’?  Kalau kita ini budak, kawulo,” kata Kiai Said.

Kiai Said menambahkan, kalau belum masuk Islam, sampai hari kiamat orang kecil di Jawa tidak akan menyebut dirinya “ingsun”. Dari sana kemudian orang Jawa berbondong-bondong masuk Islam.

Sebagaimana diketahui, kedatangan Islam juga memberikan akses literasi kepada masyarakat kecil yang saat itu masih terkotak dalam kasta. Sejak Islam datang, masyarakat pada kasta yang rendah sekalipun mendapat akses untuk membaca dan menulis.

Dengan tradisi literasi yang terbuka itu, masyarakat secara umum dapat mengakses ilmu pengetahuan yang sebelumnya hanya dimonopoli oleh kelas sosial tertentu. (Alhafiz K)