::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Kiai Ma’ruf Memaafkan Sukmawati, Malah Berbuah Hujatan

Senin, 09 April 2018 12:32 Nasional

Bagikan

Kiai Ma’ruf Memaafkan Sukmawati, Malah Berbuah Hujatan
Sukmawati mencium tangan Kiai Ma'ruf via Dream.co
Jakarta, NU Online 
Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menganjurkan umat Islam untuk memaafkan Sukmawati Soekarnoputri yang telah mengaku khilaf. Menurut Kiai Ma'ruf, Sukmawati tak memiliki niatan untuk menghina agama Islam. Ia juga menganjurkan kepada pihak yang melaporkan kasus itu untuk tidak menindaklanjutinya. 

"Kami mengajak seluruh umat Islam menerima ppermintaan maaf beliau (Sukmawati, red.) dan tidak mengeluarkan hujatan di media, menghentikan upaya ke pengadilan, dan kita kembali membangun keutuhan bangsa dan negara," katanya di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (5/4) lalu. 

Namun, pernyataan Ketua Umum MUI tersebut malah menuai hujat dan hinaan dari pihak yang tak ingin memaafkan. Padahal Nabi Muhammad sendiri, sebagai teladan umat Islam, adalah sosok pemberi maaf. 

Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini mengatakan, sikap-sikap tersebut menghina dan menghujat ulama, bukanlah akhlak yang diajarkan oleh ulama-ulama Nusantara. 

“Ajaran ulama sangat jelas bahwa dahulukan adab dan etika di atas ilmu. Tindakan menghujat, apalagi sampai menyerang pribadi dan menghina ulama adalah akhlak yang sangat tidak terpuji,” jelas Helmy, Senin (9/4).

Dalam pandangan Helmy, sikap KH Ma’ruf Amin dalam memafkan Sukmawati merupakan sikap khas ulama. 

“Memafkan adalah prinsip Islam. Jika ada pihak yang telah mengakui kesalahan dan kekhilafannya, maka kita harus berbesar hati dan memafkan yang bersangkutan,” jelas Helmy.

Ulama, lanjutnya, adalah mereka yang memandang umat dengan pandangan kasih sayang. Jika ada yang salah dan yang bersangkutan sudah minta maaf, tugas ulama dan juga bahkan tugas kita semua adalah memaafkannya. (Abdullah Alawi)