::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sebab Mimpi Sama, 25 Orang Purwokerto Bai’at Tarekat Syatariyah

Selasa, 10 April 2018 09:30 Fragmen

Bagikan

Sebab Mimpi Sama, 25 Orang Purwokerto Bai’at Tarekat Syatariyah
KH Mustahdi Abbas
Di suatu desa di Purwokerto, Jawa Tengah, masih banyak orang yang berlaku bejat. Ada yang suka mabok, berjudi, dan pekerjaan maksiat lainnya. Pada suatu malam, 25 orang di antara mereka bermimpi hal yang sama.

Dalam mimpinya, seorang kiai ngendika kepada mereka, “Hei orang Purwokerto, naiklah kereta dari Purwokerto. Turunlah di Mertapada. Dari situ, jalanlah ke arah utara sekian meter dan mampir ke rumah yang menghadap ke utara.”

Pada suatu pagi, mereka bertemu dan menceritakan mimpinya. Ternyata benar, mereka mimpi mereka sama persis. Akhirnya mereka bersepakat untuk lekas mengikuti perintah mimpi itu.

Sampai di rumah itu, mereka tak mendapati seseorang yang mereka ingin temui. Mereka menanti kedatangan seseorang yang mendatangi mereka pada mimpinya itu selama tiga hari.

KH Mustamid Abbas mengabari 25 orang itu, bahwa kiai yang mereka ingin temui sedang berada di Jakarta. Kiai Mustamid pun meminta mereka pulang, tetapi mereka enggan.

Namun, karena penantian mereka tak kunjung hasil, maka mereka putuskan untuk kembali ke desanya. Kiai Mustamid berjanji akan mengabari kiai yang mereka ingin temui itu bahwa ada sekelompok orang dari salah satu desa di Purwokerto ingin bertemu.

Di desanya, mereka kembali ke dalam penasaran mereka. Salah seorang di antaranya menemui ayahanda KH Muhammad Ridwan Sururi, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur, Kedung Banteng, Purwokerto. 

Ia bercerita tentang mimpinya. Ayah Kiai Sururi terheran-heran, kok orang yang belum pernah bertemu dan mengenal seseorang kiai, tetapi mengetahuinya dengan persis.

Akhirnya, pada suatu hari, kiai yang mereka nanti itu datang menemui mereka di Purwokerto. 25 orang itu dibai’atnya Tarekat Syatariyah. Kiai itu adalah KH Mustahdi Abbas, sesepuh Pondok Buntet Pesantren pada saat itu. Ia juga merupakan mursyid Tarekat Syatariyah.

*Diceritakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren KH Muhammad Ridwan Sururi saat memberikan mauidzah hasanah pada Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren, Sabtu (7/4). (Syakir NF)