::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARLAH KE-95 NU

NU Harus Jadi Model Persaudaraan Universal

Selasa, 10 April 2018 15:30 Daerah

Bagikan

NU Harus Jadi Model Persaudaraan Universal
Jember, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember KH Abdullah Syamsul Arifin  menegaskan pentingnya warga NU menjadi model bagi terjalinnya ukhuwah atau persaudaraan dalam segala level pergaulan. Sebab, selain jumlah warga NU cukup banyak, NU juga mempunyai konsep ukhuwah yang khas, yang memungkinkan  terkikisnya sekat-sekat penghalang terjalinnya persaudaraan universal.

“NU punya tiga rumus untuk menjalin persaudaraan dengan  siapapun yang berbeda latar belakang politik, ormas dan bahkan negara,” jelasnya saat memberikan pengarahan dalam peringatan Harlah Ke-95 NU di aula PCNU Jember, Senin (9/4) malam.

Menurut Gus A’ab sapaan akrabnya, NU mempunyai rumus trilogi ukhuwah yang dicetuskan oleh KH Ahmad Shiddiq. Yaitu ukhuwah islamiyah (persudaraan antar sesama muslim), ukhuwah wathoniyah  (persaudraan antar sesama warga Indonesia) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan antar  sesama manusia).  

Jika misalnya warga NU harus berinteraksi bahkan berhadapan dengan muslim yang beda polihan politiknya, beda oganisasi, suku dan sebagainya, maka tak perlu bermusuhan. 

“Sebab, mereka diikat oleh kesamaan agama. Yaitu Islam. Dan ini harus selalu kita ingat, lebih-lebih saat ini kita menghadapi tahun politik, dan banyak umat Islam, bahkan warga NU yang beragam pilihan politiknya ,” tukasnya.

Demikian juga, kalau warga NU hidup di tengah-tengah warga non muslim di daerah yang terpencil sekalipun,  atau ada orang non muslim hidup di tengah-tengah warga NU, maka persaudaraan tak boleh lepas, karena mereka masih sama-sama warga negara Indonesia. 

“Ini yang mengikat kita adalah ukhuwah wathoniyah,” lanjutnya.

Sedangkan ukhuwah basyariyah menjadi pengikat sekaligus perekat ketika warga NU berhadapan  dengan orang yang beda negara. 

“Orang Prancis, Belanda, dan sebagainya tetap saudara kita, karena meski berbeda negara tapi sama-sama manusia, ciptaan Allah,” jelasnya (Aryudi Abdul Razaq/Muiz).