::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Catatan Jelang Seabad NU di Surakarta (3)

Selasa, 10 April 2018 21:30 Fragmen

Bagikan

Catatan Jelang Seabad NU di Surakarta (3)
Kiai Ma'ruf Mangunwiyoto
Sejak awal, sikap anti kepada penjajah telah diperlihatkan NU, baik dengan cara simbolis melalui pengharaman berpakaian menyerupai kaum penjajah, maupun dengan berbagai tuntutan langsung kepada kebijakan-kebijakan pemerintah Hindia Belanda, yang dinilai banyak merugikan bangsa dan khususnya kepada umat Islam.

Dalam upaya perjuangan melawan penjajah ini, puncaknya pada masa peperangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, para kaum santri pun ikut turun ke medan peperangan dengan semboyan : Isy kariman au mut syahidan! (hidup mulia atau mati syahid). Mereka siap ikut berperang jihad fi sabilillah mengusir penjajah dari Tanah Air.

Para pemuda Ansor NU ikut bergabung ke dalam Barisan Hizbullah dan Sabilillah. Para ulama pun tak mau ketinggalan dengan membentuk ‘Barisan Kiai’. Tokoh NU Surakarta, Kiai Ma’ruf Mangunwiyoto bahkan diangkat menjadi Pemimpin ‘Barisan Kiai’ Jawa Tengah.

Kiai Ma’ruf yang juga pengasuh Pesantren Jenengan (terletak di gang sebelah selatan Kantor PCNU Surakarta, pen) bersama kiai lainnya seperti Kiai Ahmad Siradj, Kiai Abdul Rahman, Kiai Martowikoro juga menjadi tempat rujukan para pejuang, untuk meminta wejangan serta tambahan doa.

Sementara itu, kaum wanita yang tergabung dalam Muslimat NU ikut berjuang di garis belakang. Para pejuang dari kaum wanita yang antara lain dimotori oleh Nyai Mahmudah Mawardi, ikut membantu di ‘Balai Kesehatan Hizbullah’, yang terletak di sebelah utara Masjid Tegalsari Bumi Laweyan. (Soepanto, 1992)

Di Solo, pelatihan para kiai dipusatkan di Lapangan Kartopuran Solo. Selama 1 minggu, sebanyak 40 kiai dari wilayah Karesidenan Surakarta. Di bawah bimbingan Kiai Isa (Kota Barat), para peserta dilatih baris-berbaris dan latihan perang.

Mereka yang mengikuti kegiatan pelatihan tersebut, antara lain : Kiai Imam Nawawi (Matesih Karanganyar), Kiai Asfani (Bakdalem Karanganyar), Kiai R Salimulhadi (Karanganyar), Kiai Abdul Muslim (Bolong Parakan), Kiai Muslih (Blimbing Sukoharjo), Kiai Zaeni (Wonorejo Sukoharjo), dan Kiai Abdul Syukur (Glondongan). Sedangkan di Sragen, Barisan Kiai dipimpin oleh KHM Bolkin, bersama sejumlah kiai lain di antaranya KH Muslim, K Ridwan, K Sujak, K Djarkasi.

Sementara itu, dalam menindaklanjuti untuk persiapan pembentukan Hizbullah, umat Islam dari Karesidenan Surakarta mengirimkan 25 pemuda untuk mengikuti pelatihan calon Hizbullah. Para pemuda yang dikirim, berasal dari pesantren dan sekolah Islam seperti Mambaul Ulum, Al-Islam, Muslimin Muhammadiyah, HIS Surakarta, dan MULO-Mualimin Yogya. Sekembalinya dari latihan pusat, mereka disambut dengan meriah oleh umat Islam di Masjid Agung Surakarta.

Kemudian pada 21 Juni 1945, umat Islam di Surakarta mengadakan latihan kemiliteran bertempat di Pesantren Prasojo Gambuhan, kemudian disusul pelatihan di Masjid Agung Surakarta dan Kustati yang dipimpin oleh Hadisoenarto. Sekitar 3 ribu orang pemuda, ikut dalam pelatihan tersebut. Dari pelatihan itu pula, kemudian tersusun organisasi Laskar Hizbullah di Surakarta, yang kelak dikenal sebagai Divisi Sunan Bonang. (Ajie Najmuddin)