::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Berislam Tanpa Melepas Baju Indonesia

Kamis, 12 April 2018 15:45 Pustaka

Bagikan

Berislam Tanpa Melepas Baju Indonesia
Masyarakat Indonesia sejak dulu sudah akrab dengan ritus yang ditradisikan secara turun temurun. Hampir semua suku mengenal upacara-upacara adat, sejak kelahiran seseorang hingga kematiannya. Melihat hal tersebut, pendakwah Islam di tanah Nusantara ini enggan menghilangkan budaya itu mengingat eratnya ikatan dengan khalayak. Justru, para dai itu menjadikan budaya sebagai media guna mengantarkan Islam ke hati masyarakat Nusantara. Tak ayal, Islam sebagai agama baru bertahan lama hingga saat ini. Tidak seperti di belahan wilayah lain yang masuk dengan peperangan.

Islam di Indonesia tidak memandang sebelah mata terhadap agama lainnya. Mereka bersatu padu dalam bingkai kenegaraan. Persaudaraan antarmuslim (ukhuwah islamiyah), persaudaraan antar sesama bangsa (ukhuwah wathaniyah), dan persaudaraan antarmanusia (ukhuwah basyariyah/insaniyah) menjadi landasan masyarakat Islam di Nusantara dalam menjaga hubungan baik dengan semua elemen bangsa tanpa membedakan suku, agama, ataupun ras, golongan. Hal itu juga memberikan pandangan kenegaraan mereka tidak eksklusif. Artinya, sistem kenegaraan tidak berdasarkan agama, tetapi berdasarkan kedamaian (darussalaam).

Namun belakangan, ada kelompok baru yang mengatasnamakan Islam tetapi enggan mengadaptasi budaya. Mereka juga seperti tak ingin melihat perbedaan. Padahal itu merupakan fitrah dan sudah ada sejak mereka sendiri belum diadakan. Keyakinan kuat dengan dasar lemah mereka membuatnya eksklusif setiap pandangannya. Mereka ingin semuanya seragam.

M Zidni Nafi’ menguraikan permasalahan itu secara rinci dalam bukunya. Tak hanya membeberkan masalahnya saja, tentu ia juga memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Zidni mendasari pandangannya pada literatur-literatur klasik dan kontemporer sehingga pembahasannya cukup komprehensif. Ia juga mengutip pandangan ulama terkini sehingga betul-betul tidak kehilangan konteksnya.

Buku pertamanya ini semakin lengkap dengan pengambilan contoh dari dua begawan besar Islam Nusantara,  yakni Gus Dur dan Gus Mus. Ia menuliskan intisari pandangan dua ulama itu dalam bukunya, baik berdasar tulisannya maupun laku dan ceramahnya.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama Romantisme Keislaman dan Keindonesiaan membahas hubungan agama dan kenegaraan. Bagian kedua Tantangan Keberagaman dan Keberagamaan menguraikan toleransi dan hubungan persaudaraan. NU, Pesantren, dan Komitmen Kebangsaan menjadi bagian ketiga yang menjelaskan peran santri, kiai, pesantren, dan NU dalam menjaga kedaulatan negara. Gus Dur dan Gus Mus, Para Guru Pencerah Bangsa menjadi bagian puncak buku ini. Bagian terakhir ini menguraikan dua pandangan kiai besar itu tentang permasalahan di Indonesia.

Buku ini ditulis untuk menyadarkan pembaca bahwa mengenakan pakaian Islam itu tidak perlu melepas baju kebangsaan kita sebagai warga negara Indonesia.

Peresensi: Syakir NF

Data Buku:

Judul : Menjadi Islam, Menjadi Indonesia
Penulis : M Zidni Nafi’
Kata Pengantar : Ahmad Baso
Penerbit         : Elex Media Komputindo
Tebal : xvi + 349
Cetakan         : Pertama, Maret 2018.