: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pesawat Mendarat di Matahari

Kamis, 12 April 2018 17:30 Humor

Bagikan

Pesawat Mendarat di Matahari
Siang itu, diselimuti cuaca berawan dan angin yang semilir, Gus Dur bercerita tentang seorang Menteri Riset dan Teknologi yang sedang berkunjung ke Pulau Garam, Madura.

Si menteri ini memberikan sambutan di hadapan warga Madura mengenai prestasi anak bangsa yang mampu merakit pesawat sendiri bahkan bisa merakit pesawat yang bisa turun ke bulan.

“Jadi saudara-saudara, poro kiai, dan bapak/ibu, kita harus bangga dengan prestasi anak bangsa tersebut. Setuju?” pekik sang menteri.

Hadirin diam, tak merespon. Sang menteri mencoba bertanya kembali, “Apakah saudara-saudara bangga?”

“Kalau saya tak bangga sama sekali Pak Menteri,” celetuk seorang santri yang duduk di pojokan.

“Kenapa kok tidak bangga, dik?” tanyanya.

“Soalnya sudah ada yang begitu Pak. Saya akan bangga kalau bikin pesawat yang bisa ke matahari, tak iye...” ucap sang santri dengan logat Maduranya.

“Oohh...begitu ya. Apakah adik tahu mendarat ke matahari itu tidak mungkin,” kata Pak Menteri sambil pringisan.

“Loh, kenapa tak mungkin Pak?” si santri ngeyel.

Pak Menteri menjelaskan panjang lebar kepada si santri yang intinya, jangankan mendarat, baru mendekat sekian juta kilometer saja pesawat bisa meleleh sebab panas.

“Kalau masalahnya itu mudah saja Pak,” kata sang santri pede.

“Loh, mudah gimana?” Pak Menteri makin bingung dengan si santri.

“Kalau takut pesawatnya meleleh karena panas, berangkatnya habis Maghrib saja Pak, kan sudah dingin, tak iye...” seloroh si santri. (Fathoni)

Kisah ini disarikan dari buku “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” karya Muhammad AS Hikam (2013).