::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Peristiwa Isra' Mi'raj, Momentum Penataan Hidup

Jumat, 13 April 2018 19:00 Daerah

Bagikan

Peristiwa Isra' Mi'raj, Momentum Penataan Hidup
KH Syeh Sholeh Basalamah
Brebes, NU Online
Pengasuh Pesantren Darussalam Jatibarang Brebes KH Syeh Sholeh Basalamah menjelaskan, segudang hikmah ada dalam peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Namun inti dari semua hikmah adalah Isra' Mi'raj membawa kita kepada penataan hidup, hidup yang tertata, tentu jadi indah.

Demikian disampaikan Syeh Sholeh Basalamah saat ngaji di depan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Brebes, di Pendopo Bupati Brebes, Jumat (13/4).

Syeh Sholeh menerangkan, gedung yang besar dengan perabotan yang lengkap tetapi berantakan tidak elok dipandang mata bila dibandingkan dengan rumah kecil namun tertata rapi maka akan indah.
 
Dikatakan, cikal bakal peristiwa Isra' Mi'raj terjadi pada tahun ke 13 kenabian Rasulullah ketika tantangan dakwah Rasulullah tidak ringan karena pendampingnya paman Abu Tholib dan istrinya Siti Khadijah. Kehendak Allah SWT tersebut, dilakukan agar Nabi bisa menata diri tidak hanya bergantung kepada paman atau istrinya, tetapi bergantunglah langsung pada Allah SWT.

“Manusia jangan mengadu pada manusia,” tandas Syeh Sholeh yang juga a'wan PCNU Brebes.

Saat itu, lanjutnya, Nabi mengadu kepada Allah SWT tentang tiga hal penting yakni Nabi mengalami kelemahan agar kuat, menemui kebuntuan butuh solusi dan dirinya terasa terhina agar mulia.

Dalam peristiwa Isra' Mi'raj, Nabi diperlihatkan Surga dengan kekaguman sebagai manusia pada umumnya.  

Bila ingin ke surga, pertama harus berjuang. Surga diperuntukkan bagi hamba-hambanya yang berjuang membela Islam. Bahwasanya, setiap zaman ada perjuangan dengan cara yang berbeda ketika zaman Rasulullah yang harus mengangkat pedang melawan kaum kafir. 

“Yang mau berjuang, pastilah ditunggu bidadari di surga,” terangnya.

Perjuangan sekarang, kata Syeh Sholeh, adalah perjuangan usaha memperkuat iman. Sebab, iman manusia bisa tambah bisa kurang, bisa kuat, bisa lemah.

Ibarat sebuah kendaraan, iman fungsinya sebagai gas dan rem dalam mengendalikan roda kehidupan. Dengan keimanan yang kuat seseorang bisa mencapai kesuksesan, menjadikan makmur. 

“Bekerja seharusnya dilandasi keimanan jangan karena gaji, bila ingin memperjuangkan negara otomatis kita akan mendapatkan rejeki halal dan berlimpah,” ungkapnya. 

Dikatakan, untuk mendaftarkan diri ke surga harus rajin-rajin menuntut ilmu. Ibadah Shalat, Puasa, Haji, bukan jaminan menjadi tiket masuk surga kalau tidak berilmu. Semua bisa menggiring ke surga bila didasari ilmu. 

“Namun jangan beranggapan, ngapain shalat puasa dan haji kalau akhirnya tidak masuk surga,” ungkit Syeh Sholeh.

Perintah menuntut ilmu, dalam Al-Qur'an mencapai 114 ayat. Setanpun akan tertawa ketika manusia melaksanakan shalat tetapi tidak berilmu shalat. Orang yang menempuh perjalanan menuju ke pengajian cari ilmu, akan dimudahkan pula jalan menuju surga.

Jangan yang penting sholat, karena untuk memperkuat kehidupan juga ada kapsul yang ampuh yakni shalat. Dengan shalat yang didasari dengan ilmu, maka akan kuat pendirian, kuat ekonomi, kuat iman islam, seluruh sisi kehidupan kita akan kuat bila tidak tinggalkan sholat. (Wasdiun/Muiz)