::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Jadikan Shalat Sarana Kepasrahan Diri kepada Allah

Jumat, 13 April 2018 00:00 Daerah

Bagikan

Jadikan Shalat Sarana Kepasrahan Diri kepada Allah
KH Fuad Habib, Tremas
Pacitan, NU Online
Pengasuh Pesantren Tremas Pacitan KH Fuad Habib Dimyathi kembali mengingatkan sejarah awal diperintahkannya shalat lima waktu yang diterima langsung oleh Nabi Muhammad dari Allah melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Peristiwa itu merupakan sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa yang hanya ada pada diri Nabi Muhammad.

Shalat, lanjutnya memiliki hikmah dan fungsi untuk mengingatkan manusia akan sebuah hakikat bahwa ia hanyalah  seorang hamba Allah. Shalat menjadi perantara seorang hamba untuk mengabdi kepada Allah SWT.

“Shalat, shalat, dan shalat. Berapa kali disebutkan. Berapa kali didengungkan. Tapi apakah kita sudah benar-benar shalat. Apakah kita sudah benar-benar ngabekti (berbakti) kepada Allah melalui perwujudan shalat kita," demikian kata Kiai Fuad dalam peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh santri Pesantren Tremas Pacitan, Kamis (12/4) malam.

Menurut kiai lulusan pesantren Krapyak Yogyakarta itu, shalat lima waktu merupakan perintah agama yang sangat tinggi kedudukannya. Sehingga dalam kondisi apapun shalat tidak boleh ditinggalkan. Demikian pula shalat harus dilakukan dengan benar sesuai dengan tuntunan agama.

"Ojo pisan-pisan kok tinggalke sholatmu (jangan sekali  kali meninggalkan shalatmu).  Ojo kok entengke sholatmu. (Jangan sekali-kali meremehkan shalatmu). Kalaupun sampai tertinggal (waktunya) harus segera diqodho," pesanya dihadapan ribuan santri yang memenuhi halaman masjid pesantren tersebut.

Bagi seorang hamba, imbuh Kiai Fuad, sayogyanyalah tidak menghitung-hitung pahala dari ibadah shalat yang telah dia kerjakan. Namun shalat harus dikerjakan semata-mata dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"Sing penting shalat. Dilakoni toto corone ( yang penting menjalankan shalat dengan melakukan tata  caranya). Setelah itu kita pasrahkan shalat kita kepada yang maha kuasa. Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil alamin," tuturnya.

Lebih lanjut, Kiai Fuad mengajak santri untuk lebih giat lagi dalam menjalankan ibadah yakni dengan melakukan berbagai ibadah shalat sunah.

"Syukur-syukur shalat kalian ditambahi dengan shalat qobliyah-ba'diyah, shalat dhuha, shalat taubat, shalat tasbih, shalat tahajud. Nanti dengan anugerah dan keutamaan dari Allah, Insyaallah shalat-shalatmu sing tambahan itu iso nambeli shalat sing keter-keter tadi (insya Allah dengan tambahan shalat sunah tadi dapat menutup shalat-shalat yang kurang sempurna itu)," pungkasnya. (Zaenal Faizin/Muhammad Faizin)