: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Zainab binti al-Harits, Perempuan Yahudi yang Meracuni Rasulullah

Sabtu, 14 April 2018 08:00 Hikmah

Bagikan

Zainab binti al-Harits, Perempuan Yahudi yang Meracuni Rasulullah
Balas dendam adalah motif yang digunakan Zainab binti al-Harits sehingga ia sampai meracuni Rasulullah. Zainab adalah istri Salam bin Misykam, salah seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir di Khaibar. Ia memendam dendam yang mendalam terhadap pasukan umat Islam, terutama Rasulullah, karena telah membunuh  suami, ayah, dan pamannya pada saat perang Khaibar. 

Akhir abad ke-6 H, Rasulullah beserta pasukan umat Islam pergi ke Khaibar, sebuah wilayah yang terletak 150 kilometer ke arah laut kota Madinah dan menjadi basis kaum Yahudi. Ketika sampai di Khaibar, Rasulullah meminta penduduknya menyerah karena sebelumnya diketahui bahwa Khaibar dijadikan tempat konsolidasi untuk menyerang Madinah. Namun, penduduk kaum Yahudi menolak seruan Rasulullah hingga akhirnya terjadi perang yang memakan banyak korban.

Perang Khaibar diakhiri dengan perundingan damai antara kaum Muslim dan penduduk Khaibar. Mereka sama-sama sepakat untuk mengakhiri perang dengan beberapa poin kesepakatan bersama. Salah satunya adalah penduduk Khaibar harus menyerahkan separuh hasil panen kepada umat Islam Madinah mengingat pertempuran Khaibar dimenangkan umat Islam. Perlahan-lahan Khaibar menjadi kota yang damai, namun tidak sedikit penduduknya yang masih menyimpan dendam.

Zainab binti al-Harits adalah salah satu Yahudi Khaibar yang tidak terima dengan hasil perang Khaibar. Ia tidak rela dengan kaum Muslim karena telah membunuh orang-orang terkasihnya. Ia mencari berbagai macam cara untuk membalas dendam dan membunuh Rasulullah, pimpinan tertinggi kaum Muslim.  

Dikutip dari buku Para Penentang Muhammad saw., Zainab binti al-Harits mulai melancarkan rencananya setelah perundingan damai dijalankan dan kaum Muslim masih berada di Khaibar. Mula-mula ia bertanya kepada salah seorang sahabat perihal makanan kesukaan Rasulullah.

Setelah mengetahui bahwa makanan kesukaan Rasulullah adalah bagian dada depan dan pundak domba, Zainab kemudian menyiapkan hidangan domba panggang dan menaburinya dengan racun yang paling mematikan. Domba panggang itu kemudian diberikan kepada Rasulullah pada petang hari, selepas sang nabi selesai menunaikan salat Maghrib.

Awalnya, Rasulullah ‘ragu’, namun Zainab meyakinkan bahwa domba panggang itu adalah hadiah, bukan sedekah. Lalu Rasulullah menerima tanpa ada kecurigaan sedikit pun. Rasulullah bersama para sahabat memakan domba panggang tersebut dengan lahap. Hingga ketika hendak menyantap bagian paha depan, Rasulullah baru menyadari kalau hidangan itu mengandung racun setelah melihat kaki domba. Riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah diberi tahu oleh tulang domba yang berada di tangannya (setelah mendapatkan wahyu Allah) kalau makanan itu beracun. 

Sontak saja Rasulullah menyuruh para sahabat yang ikut makan domba panggang itu dibekam untuk mengeluarkan racun. Namun demikian, insiden domba panggang beracun itu menewaskan salah satu sahabat Rasulullah, Bisyr bin al-Barra’, meski ia sudah dibekam. 

Racun dalam peristiwa domba panggang ini memiliki efek jangka panjang terhadap kesehatan Rasulullah. Merujuk pada buku Sirah Nabawiyyah karangan Al-Mubarakfuri, Rasulullah merasakan sakit yang sangat akibat racun dalam peristiwa Khaibar itu satu hari sebelum hari wafatnya. 

“Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut," kata Nabi Muhammad saw. seperti diriwayatkan Imam Bukhari.

Setelah insiden 

Zainab binti al-Harits menjadi orang yang paling dicari setelah insiden domba panggang beracun itu. Setidaknya ada tiga riwayat yang menceritakan keadaan Zainab setelah insiden maut itu. Pertama, masuk Islam. Zainab langsung mengucapkan dua kalimat syahadat setelah menyaksikan langsung bahwa Muhammad adalah benar-benar Rasulullah (utusan Allah) dalam insiden domba panggang beracun itu. Hal ini diceritakan oleh Imam al-Zuhri dan Ibnu Hajar al-Asqolani dalam kitabnya Fath al-Bari Syarh Shahih Bukhari.

Kedua, dimaafkan. Banyak sahabat yang gregetan dan berniat untuk membunuh Zainab binti al-Harits karena telah membunuh Bisyr bin al-Barra’ dan membahayakan nyawa Rasulullah. Namun, Rasulullah melarang dan mencegah para sahabat untuk membunuh Zainab sebagaimana yang tertera dalam hadist riwayat Muslim. 

Ketiga, dibunuh. Di riwayatkan bahwa Rasulullah menerapkan hukuman qishas (pembalasan yang sama) kepada Zainab binti Zainab membunuh Bisyr bin al-Barra’, maka Zainab dibunuh setelah keluarga Bisyr menuntut untuk diberlakukan hukum qishas.

Jika dicermati lebih dalam, riwayat-riwayat tersebut tidak lah saling bertentangan, namun terjadi secara berurutan (sequence). Pada saat Bisyr belum meninggal, Rasulullah memaafkan Zainab. Namun ketika Bisyr meninggal akibat racun Zainab dan keluarganya menginginkan untuk menerapkan hukuman qishas, maka Rasulullah memerintahkan sahabatnya untuk menjalankan qishas. (A Muchlishon Rochmat)