::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Sinergi Pekerja dan Pengusaha Dukung Perekonomian Nasional

Senin, 16 April 2018 18:15 Nasional

Bagikan

Sinergi Pekerja dan Pengusaha Dukung Perekonomian Nasional
Jakarta, NU Online
Di tengah perkembangan ekonomi dunia yang kian kompetitif, dibutuhkan pertumbuhan yang lebih cepat. Oleh karena itu, semua pihak harus bahu membahu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia agar lebih baik lagi.

Berdasarkan ranking Global Competitiveness Index, daya saing Indonesia terus meningkat. Saat ini Indonesia ada di peringkat ke-36 dari 190 negara. Posisi ini membaik lima peringkat dibanding tahun sebelumnya.

"Namun begitu, untuk terus meningkatkan daya saing dibutuhkan kontribusi dan kerja sama dari masing-masing pelaku usaha termasuk didalamnya unsur pekerja, pengusaha dan pemerintah," kata Dirjen PHI dan Jamsos Kemnaker, Haiyani Rumondang saat mewakili Menteri Ketenagakerjaan RI menyampaikan sambutan dalam acara Peringatan Hari Ulang Tahun Serikat Pekerja Sucofindo ke-19 di Jakarta, Senin (16/4/).

Dirjen Haiyani mengatakan  hubungan industrial memiliki kontribusi yang cukup signifikan dalam meningkatkan daya saing dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Kolaborasi dan komitmen diantara para pelaku Hubungan Industrial akan mendorong terciptanya target pertumbuhan ekonomi.

Pada tahun 2018 ini, Bank Indonesia memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar antara 5.1 sampai 5.5 persen. Sedangkan Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,3 persen.

"Laporan Forum Ekonomi Dunia tersebut juga membantu kita dalam mengidentifikasi tantangan yang harus diatasai  dan merancang strategi pertumbuhan ekonomi," kata Dirjen Haiyani.

Beberapa tantangan ketenagakerjaan yang harus dihadapi Indonesia saat ini, kata Dirjen Haiyani, antara lain masih rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Dimana angkatan kerja Indonesia masih didominasi lulusa SD-SMP.

Selain itu, revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan revolusi digital, menuntut adanya transformasi industri yang menyebabkan adanya perubahan pada karakter dan jenis pekerjaan.

Menurut Dirjen Haiyani, proses ini akan terus berjalan dan kita harus bisa menepis dampak negatifnya. Salah satu antisipasinya adalah untuk semakin membangun modal manusia (human capital). "Hanya mereka yang berkompetensi dan berinovasi yang bisa bertahan," ujarnya.

Agar seluruh stakehokder mampu mengantisipasinya dengan baik, Dirjen Haiyani menekankan pentingnya dialog sosial.

Menurutnya, dialog sosial inilah sarana bagi semua pihak untuk menuangkan gagasannya. Termasuk, mencari jalan keluar manakala terjadi perselisihan. "Dalam interaksi hubungan industrial, kita ini kan mitra yang sejajar. Artinya sejajar, keterbukaan harus dikedepankan," pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)