: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Agenda Muskerwil NU Jateng

Senin, 16 April 2018 21:15 Daerah

Bagikan

Ini Agenda Muskerwil NU Jateng
Wakil Ketua PWNU Jateng, Najahan Musyafa'
Semarang, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah akan menggelar Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) pada Jumat-Minggu (20-22 April) mendatang di Purbalingga.

Ketua Panitia Musykerwil, H Najahan Musyafa' mengatakan, muskerwil ini menjadi ruang yang cukup strategis di mana tantangan dan problem yang dihadapi oleh NU di bidang kemasyarakatan dan kebangsaan dipetakan sekaligus dicarikan solusinya.

“NU harus secara terus menerus melakukan konsolidasi diri, menyusun agenda-agenda strategis dalam memperkuat komitmennya dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara yang bersih dan bermartabat,” kata Najahan di Kantor PWNU Jawa Tengah, Senin (16/4).

Selain itu, Muskerwil juga menjadi ajang di mana kesadaran untuk disiplin berorganisasi harus terus menerus ditumbuhkan.

“Juga dalam hal menjam'iyyahkan jama'ah, agar jama'ah NU juga turut berpartisipasi dalam menguatkan organisasi,” tambah Najahan, yang juga Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah tersebut.

Peran NU lainnya yang hendak dikonsolidasi dalam Muskerwil adalah kemampuan NU untuk menjawab problematika kekinian, yang sudah barang pasti membutuhkan jawaban baru.

Untuk itu, forum bahtsul masail memiliki posisi yang vital untuk terus dikembangkan di pelbagai tingkatan untuk semua tema.

Berkaitan dengan tema yang diangkat, Ketua PWNU Jawa Tengah, H Abu Hapsin mengatakan, kemandirian itu tidak berarti mengabaikan sinergi. Bekerjasama dengan multi pihak tetap dibutuhkan, mengingat tantangan yang dihadapi tidaklah ringan.

“Bekerjasama dengan banyak elemen tetap dibutuhkan. Hanya saja, sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, NU memang dituntut untuk terus menjaga independensinya,” kata Abu.

Abu Hapsin menambahkan, dinamika NU sebagai organisasi keagamaan besar di Indonesia tidak bisa dillepaskan dari konstelasi sosial, budaya, ekonomi dan politik di Indonesia. Respon terhadap kondisi tersebut mutlak dibutuhkan.

“Muskerwil ini adalah wadah dimana situasi kebangsaan itu juga diperbincangkan. Harapannya, warga NU turut mengambil peran sesuai kapasitasnya masing-masing,” terang pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo tersebut.

Pandangan NU yang menjangkarkan dirinya pada penghargaan terhadap keragaman, semangat toleransi, dan keterbukaan, diharapkan mampu memberikan sumbangsih bagi penguatan semangat kebangsaan.

Komitmen untuk menjaga NKRI agar tetap ada dalam payung Pancasila dan UUD 1945 adalah salah satu kontribusi nyata NU dalam lipatan sejarah bangsa Indonesia.

Najahan menambahkan, selain Bahtsul Masail, Musykerwil juga akan diramaikan dengan ekspo, pentas budaya, lomba rebana, seminar dan lain sebagainya.(Red: Muiz)