::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Yang Membuat Abu Bakar Marah

Selasa, 17 April 2018 07:00 Hikmah

Bagikan

Yang Membuat Abu Bakar Marah
Abu Bakar adalah sahabat yang paling percaya dengan Nabi Muhammad. Ia meyakini semua yang disampaikan Muhammad adalah sesuatu yang benar (haq), tidak ada kebatilan sedikit pun di dalamnya. Ketika Islam didakwahkan kepadanya, Abu Bakar langsung memeluk Islam tanpa ada keraguan sedikit pun di hatinya. 

Ketika banyak umat Islam saat itu yang tidak percaya dengan Isra’ Mi’raj, Abu Bakar adalah orang pertama yang percaya. Maka tidak salah, jika Nabi Muhammad memberikan julukan as-Shiddiq (jujur) kepada Abu Bakar. Kejujuran, kejernihan pikiran, dan ketulusan hati Muhammad lah yang membuat Abu Bakar tidak memiliki rasa ragu sedikitpun terhadap Islam. 

Abu Bakar merupakan sahabat nabi yang memiliki sifat lemah lembut, tenang, serta tidak mudah terpancing hawa nafsu dan emosi. Saking lembut hatinya, Abu Bakar kerap kali menangis manakala membaca surat Al-Qur’an saat menjadi imam shalat. 
Dia merupakan ‘antitesa’ dari Umar bin Khattab yang terkenal ‘galak’, tegas, keras, dan tidak sungkan untuk marah. Hanya sedikit sekali riwayat yang menceritakan tentang kemarahan Abu Bakar.

Merujuk buku Abu Bakar As-Shiddiq: Sebuah Biografi karangan Muhammad Husain Haikal, ada dua kejadian yang membuat Khulafaur Rasyidin yang pertama ini sampai naik pitam. Pertama, kaum Muslim diejek oleh kaum Musyrik saat Kerajaan Persia berhasil mengalahkan Romawi. Ceritanya, kaum Musyrik ‘menyamakan’ kaum Muslim dengan kaum Kristen Romawi. 

Kaum Musyrik menuduh bahwa kekalahan Romawi atas Persia adalah disebabkan karena mereka (kaum Kristen Romawi) juga Ahli Kitab sebagaimana kaum Islam. Informasi ini sampai di telinga Abu Bakar dan membuatnya marah. 

Kedua, saat Finhas mengolok-olok ajaran Islam. Suatu ketika Abu Bakar menghampiri segerombolan Yahudi di Madinah. Ia menyeru kaum Yahudi tersebut untuk menerima Islam dan menyembah Allah. 

Salah seorang Yahudi, Finhas, menjawab ajakan Abu Bakar itu dengan ejekan dan cemoohan yang cukup keterlaluan. Kepada Abu Bakar, Finhas mengatakan bahwa Tuhan lah yang membutuhkan mereka, bukan sebaliknya. Finhas juga mengejek bahwa jika Tuhan itu kaya maka, maka Dia tidak akan meminta pinjaman kepada hambanya. 

Cemoohan Finhas ini merupakan satire dari Surat al-Baqarah ayat 245; Siapakah yang hendak meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, yang akan Dia lipatgandakan dengan sebanyak-banyaknya.

Apa yang dilakukan Finhas itu membuat Abu Bakar menjadi geram. Dia langsung memukul Finhas dengan sekuat tenaga. Tapi, karena pada saat kejadian ini ada perjanjian damai antara kaum Muslim dan Yahudi, maka Abu Bakar tidak meneruskan untuk menghajar Finhas.

Abu Bakar adalah orang yang tidak suka mengedepankan kekerasan dan amarah.  Ia hanya akan berubah menjadi keras dan marah apabila ajaran Islam dipermainkan. (A Muchlishon Rochmat)