::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Masa Depan Anak Tergantung Orang Tuanya

Selasa, 17 April 2018 08:30 Nasional

Bagikan

Masa Depan Anak Tergantung Orang Tuanya
Ilustrasi (via stan.kz)
Jakarta, NU Online
Manusia terlahir ibarat kertas kosong yang belum ditulis apa-apa. Hal ini disampaikan oleh Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Masudi pada pengajian daring kitab Jawahir al-Bukhari pada Senin (16/4) sore.

Penjelasan itu ia dasarkan pada sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.

وَ عَنْهُ اَيْضًا اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَا مِنْ مَوْلِدٍ اِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِتْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah juga, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali dia terlahir atas fitrah (kesucian seperti tabula rasa, kertas yang belum ditulis apapun, masih putih). Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.

Hadis yang sangat populer ini menegaskan bahwa sesungguhnya semua manusia baik karena lahir dalam keadaan suci.

“Ibarat kertas, semua manusia itu terlahir seperti kertas putih, tanpa noda, tanpa cacat,” kata Kiai Masdar.

Hadis itu juga menunjukkan bahwa orang tua memiliki peran besar terhadap warna keagaman anaknya. Orang tua dapat memengaruhi keagamaan anaknya menjadi Yahudi, Nasrani ataupun Majusi. Orang tua yang dimaksud dalam hadis itu bisa berupa orang tua biologis, yakni ibu dan ayah kandungnya. 

Kiai Masdar menyatakan bahwa keduanya sangat dominan memberikan corak warna anaknya. Tidak hanya secara fisiknya saja, baik itu hidung, mata, ataupun lainnya, tetapi juga corak batinnya. Hal itu terserah orang tuanya.

“Jadi di sini, hadis menggarisbawahi betapa dominannya pengaruh orang tua terhadap anaknya bukan hanya secara fisik biologis, tapi juga secara mental spiritual akan dapat diberi warna oleh orang tuanya,” katanya.

Oleh sebab itu, berdasarkan hadis tersebut, orang tua memberikan peranan besar terhadap masa depan anaknya. 

Bahkan, menurut Kiai Masdar, terhadap jalan hidup yang bakal anaknya arungi.

Kiai asal Banyumas itu menjelaskan bahwa anak akan mengikuti perilaku orang tuanya. Jika telah mendidiknya dengan akhlak mulia dan baik sejak dini, maka akan berpengaruh terhadap perilaku dan kecerdasan anaknya. Meskipun, mungkin tidak seratus persen, setidaknya mendekatinya.

Sebaliknya, jika orang tua memberikan contoh negatif, maka anak juga akan menirukan hal yang sama. Misalnya, orang tua memberi ucapan kasar terhadap anaknya, bertindak keras, melakukan kebohongan dan fitnah.

Orang tua bakal menjadi orang yang mendapat ‘bonus’ pertama, menurut Kiai Masdar, jika anaknya berhasil menjadi saleh. Anak berlaku negatif juga orang tua yang menentukannya.

Kiai yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, itu mengajak penyimak yang terlahir dari orang tua yang membimbing mereka ke jalan yang benar untuk bersyukur. Hal itu berarti orang tua telah memberikan asupan spiritual juga, tidak sebatas makanan minuman yang menjadi kebutuhan fisik.

“Karena itu berarti sejak awal orang tua kita tidak hanya melahirkan, memberikan modal secara fisik dengan memberikan asupan makanan minuman yang kita butuhkan, tetapi juga telah memberikan kepada kita makanan spiritual rohani, batin, itu berupa keyakinan, keimanan, dan kemuliaan akhlak sebagai ekspresi dari keimanan itu,” jelasnya.

Hadis ini memberikan kekuasaan begitu besar kepada orang tua. Orang beragama karena hidayah, dalam pandangan Kiai Masdar, itu betul. Tetapi ia juga mengingatkan, bahwa di luar hidayah atau intervensi langsung Allah, juga ada pengaruh orang tua.

“Anak itu ya ngikut apa dan bagaimana orang tuanya,” ucap alumnus Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, itu.

Hal itu bukan berarti anak yang tumbuh dari orang tua yang berantakan (broken home) tidak dapat menjadi baik. Hal itu, menurut Kiai Masdar, mungkin saja terjadi.

“Orang tua memang sangat menentukan, tetapi tentu ada yang mahamenentukan lagi yaitu Allah SWT,” katanya.

Pengajian Kiai Masdar ini disiarkan langsung melalui akun Facebook Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat setiap hari Senin sore. (Syakir NF/Muiz)