::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Imam Al-Ghazali Jelaskan Signifikansi Doa di Tengah Takdir Allah

Jumat, 20 April 2018 21:45 Tasawuf/Akhlak

Bagikan

Imam Al-Ghazali Jelaskan Signifikansi Doa di Tengah Takdir Allah
(Foto: ibtimes)
Imam Al-Ghazali mencoba untuk menjelaskan arti sebuah doa di tengah ketentuan Allah untuk manusia. Ia mencoba memahami perintah doa dari Allah sebagai sebuah ibadah tersendiri di sisi Allah.

Upaya Imam Al-Ghazali ini berangkat dari keresahan sebagian orang terkait relasi doa dan ketentuan Allah. Bagi sebagian orang, doa merupakan salah satu perintah Allah yang sulit dimengerti. Sementara Allah sudah menentukan segalanya untuk manusia.

Keterangan Imam Al-Ghazali ini dikuti oleh Imam An-Nawawi sebagai berikut:

فصل : قال الغزالي : فإن قيل : فما فائدة الدعاء مع أن القضاء لا مرد له ؟ فاعلم أن من جملة القضاء : رد البلاء بالدعاء ، فالدعاء سبب لرد البلاء ووجودالرحمة ، كما أن الترس سبب لدفع السلاح ، والماء سبب لخروج النبات من الأرض ، فكما أن الترس يدفع السهم فيتدافعان ، فكذلك الدعاء والبلاء ، وليس من شرط الاعتراف بالقضاء أن لا يحمل السلاح ، وقد قال الله تعالى : (وليأخذوا حذرهم وأسلحتهم) [ النساء : 102 ] فقدر الله تعالى الأمر ، وقدر سببه.

Artinya, “Fasal, Imam Al-Ghazali mengatakan, bila ada pertanyaan, ‘Apa faedah doa di saat yang sama ketentuan (qadha) Allah tak bisa ditolak?’ ketahuilah, kata Imam Al-Ghazali, tolak bala melalui doa merupakan bagian dari qadha secara global. Doa menjadi sebab tolak bala dan sebab turunnya rahmat-Nya sebagaimana perisai menjadi sebab penolak senjata dan air menjadi sebab tumbuhnya tanaman di tanah. Ilustrasinya seperti perisai yang menolak anak panah sehingga keduanya saling berlawanan sebagaimana doa dan bala. Secara sengaja mengosongkan tangan kosong tanpa senjata bukan menjadi syarat atas pengakuan qadha. Allah berfirman, ‘Hendaklah mereka waspada dan siapkan senjata,’ (An-Nisa ayat 102). Allah menentukan suatu hal dan menjadikan penyebabnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 342).

Dari kutipan ini, kita dapat memahami bahwa doa merupakan sebuah perintah Allah yang memiliki nilai ibadah. Selain itu, doa merupakan salah satu bentuk ikhtiar manusia dalam mengatasi masalah-masalah kehidupan mereka.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa doa merupakan salah satu senjata orang beriman dalam menolak bala. Doa dengan keutamaan nilai ibadah di dalamnya cukup efektif untuk menolak atau setidaknya mengurangi bala yang ditentukan oleh Allah SWT.

Kalau secara lahiriyah doa tidak juga menghindari kita dari bala dan bencana yang dikhawatirkan, setidaknya doa sudah menjadi bukti kehambaan kita kepada Allah sebagai keterangan Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berikut ini:

لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه فيقل فهمك عنه .وليكن طلبك لإظهار العبودية وقياماً بحقوق الربوبية

Artinya, “Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah yang itu menunjukkan kekurangpengertianmu terhadap-Nya. Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan.” Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)