::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tasamuh Tak Boleh Mencederai Aqidah

Ahad, 22 April 2018 02:00 Daerah

Bagikan

Tasamuh Tak Boleh Mencederai Aqidah
Jember, NU Online
Salah satu prinsip Nahdlatul Ulama (NU) yang cukup populer dalam berbangsa dan bernegara adalah tasamuh (toleransi). 

Sejak awal NU memang dikenal mempunyai tolerasi yang tinggi terhadap sesama umat beragama. Bahkan kehidupan beragama di Indonesia  yang sangat kondusif diyakini karena buah dari tasamuh yang dikembangkan NU. 

“Namun jangan semata-mata karena toleransi lalu aqidah tercederai,” tandas Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin saat menjadi  nara sumber dalam Seminar & Konferensi ISNU Cabang Jember di Hotel Bintang Mulia, Kamis (19/4).

Menurut Gus A’ab, sapaan akrabnya, tasamuh  harus diterapkan secara  proporsional dan terukur. Tasamuh  adalah memberi ruang kapada orang lain untuk melaksanakan keyakinannya tanpa harus terlibat untuk membenarkan keyakinan mereka.  

Dikatakan, umat Islam wajib meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang paling benar. Namun keyakinan tersebut tidak boleh menjadi penghalang untuk memberi ruang  bagi non muslim untuk meyakini agama mereka  yang menurut mereka paling benar, bukan menurut umat Islam. 

“Itu tasamuh dan itu sudah cukup, artinya, jangan sampai kita sebagai muslim ikut membenarkan keyakinan mereka. Kita  cukup memberi ruang bagi mereka untuk meyakini agamanya. Tapi kita tidak boleh membenarkan keyakinan mereka. Kita harus bisa membedakan antara toleransi dan melegitimasi kebenaran,” urainya.

Dalam lingkup yang lebih kecil, Gus A’ab mencontohkan dalam organisasi. Sebagai orang  sunni, warga nahdliyin harus  yakin bahwa Ahlussunah wal Jama’ah adalah  satu-satunya ajaran yang paling benar dalam menjalankan  syariat Islam. Tetapi keyakinan  tersebut tidak boleh menutup pintu bagi kelompok untuk menyakini ajarannya. 

“Bahasanya begini, sebagai orang NU, saya yakin Ahlussunnah wal Jama’ah yang paling benar, tapi saya harus menghargai saudara-saudara kita yang  salafi, syiah dan sebagainya untuk meyakini  ajarannya yang paling benar menurut mereka, bukan menurut saya. Sehingga saya tak perlu ikut membenarkan keyakinan mereka,” ungkapnya. (Aryudi Abdul Razaq/Muiz).