NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Partai Allah dalam Tafsir Al-Quran

Ahad, 22 April 2018 19:25 Tafsir

Bagikan

Partai Allah dalam Tafsir Al-Quran

Kata “hizbullah” bisa diterjemahkan kelompok Allah, golongan Allah, pengikut Allah, teman Allah, partai Allah, dan seterusnya. Kata ini dapat ditemukan pada dua surat di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Maidah ayat 56 dan Surat Al-Mujadalah ayat 22.

Pada Surat Al-Maidah ayat 56 Allah berfirman sebagai berikut:

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Artinya, “Siapa saja yang menjadikan Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh golongan Allah itulah yang menang.”

Ayat ini turun terkait keberpihakan seseorang terhadap kelompok kafir atau kelompok Muslim. Seseorang yang berpihak kepada umat Islam yang tulus termasuk golongan Allah atau “partai Allah” sebagai keterangan di dalam At-Tafsirul Wajiz berikut ini:

ومن يستنصر بالله ورسوله والمؤمنين الصادقين القائمين بنصر شرع الله فإن أنصار دين الله هم الغالبون لتأييد الله لهم بنصره. وسبب النزول ما تقدم من تمسك عبد الله بن أبي بحلفه مع بني قينقاع وتبرؤ عبادة من حلفهم

Artinya, “Siapa saja yang meminta pertolongan Allah, rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang benar dan menolong syariat-Nya, maka sesungguhnya penolong agama Allah itulah yang menang karena pertolongan Allah di pihak mereka. Sebab turun ayat ini sudah dijelaskan telah lalu, yaitu konsistensi sumpah Abdullah bin Ubay (munafiq) dengan Bani Qainuqa dan pembebasan diri Ubadah dari sumpah mereka,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhaily, At-Tafsirul Wajiz, [Damaskus, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan kedua, halaman 118).

Siapakah orang beriman sungguhan itu? Pada ayat 55, Allah menjelaskan sifat-sifat orang yang beriman yang dimaksud pada ayat 56. Mereka adalah mereka yang melakukan shalat dan zakat karena tunduk kepada Allah, bukan karena agenda lain sebagai keterangan Tafsir Mahasinut Ta’wil berikut ini:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ( المفيض عليكم كلّ خير) وَرَسُولُهُ(الذي هو واسطة) وَالَّذِينَ آمَنُوا (المُعِينون في موالاة الله ورسوله بأفعالهم، لأنهم) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ (التي هي أجمع العبادات البدنية) وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ (القاطعة محبة المال الجالب للشهوات) وَهُمْ رَاكِعُونَ (حال من فاعل الفعلين، أي يعملون ما ذكر-من إقامة الصلاة وإيتاء الزكاة-وهم خاشعون ومتواضعون لله ومتذللون غير معجبين. فإن رؤيتهم تؤثر فيمن يواليهم بالعون في موالاة الله ورسوله

Artinya, “(Penolongmu adalah Allah) yang mengalirkan semua kebaikan kepadamu (rasul-Nya) yang menjadi perantara kebaikan Allah (dan orang-orang beriman) yang membantu kamu melalui perilaku keseharian mereka dalam menjadikan Allah dan rasul-Nya sebagai penolong karena mereka (mengerjakan shalat) ibadah fisik terlengkap (menunaikan zakat) sebagai cara pemutus cinta kita terhadap harta yang dapat mengobarkan syahwat, (sedang mereka rukuk) hal dari dua fi‘il. Mereka mengamalkan semua itu baik shalat maupun zakat dalam keadaan khusyuk, tawadhu, dan merendah kepada Allah tanpa ujub. Pasalnya, pandangan mereka berpengaruh pada siapa yang membantu mereka dalam menjadikan Allah dan rasul-Nysa sebagai penolong,” (Lihat M Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil, [tanpa catatan kota dan tahun], cetakan pertama, juz V, halaman 2042).

Kata “hizbullah” atau “partai Allah” juga dapat ditemukan pada Surat Al-Mujadalah ayat 22 berikut ini:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya, “Kau takkan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan rasul-Nya sekalipun mereka adalah bapak, anak, saudara, atau keluarga mereka sendiri. Allah telah menitipkan keimanan di hati mereka dan meneguhkan mereka dengan roh dari-Nya. allah akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal di dalamnya. Allah rela terhadap mereka. mereka pun rela terhadap-Nya. Mereka adalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang akan menang.”

M Jamaluddin Al-Qasimi mencoba menjelaskan lebih lanjut kata hizbullah, partai Allah, golongan Allah, atau kelompok Allah pada keterangan berikut ini:

الخامس: قوله تعالى )فَإِنَّ حِزْبَ اللّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ (معناه: فإنهم هم الغالبون. فوضع الظاهر موضع الضمير العائد إلى (من) دلالة على علة الغلبة . وهو أنهم حزب الله . فكأنه قيل : ومن يتولّ هؤلاء فهم حزب الله . وحزب الله هم الغالبون. وأصل (الحزب) القوم يجتمعون لأمرٍ حَزَبَهَمْ . وقيل : الحزب جماعة فيهم شدة . فهو أخصّ من الجماعة والقوم

Artinya, “Kelima, makna firman Allah (golongan Allah itulah yang menang) adalah bahwa mereka itulah yang akan menang. Isim zhahir ditempatkan di tempat isim dhamir yang merujuk pada ‘man’ sebagai alasan kemenangan. Mereka adalah golongan Allah. Seolah dikatakan, ‘Siapa saja yang mengangkat mereka sebagai penolong, maka mereka itu golongan Allah. Golongan Allah itulah yang akan menang.’ Kata ‘hizb’ atau golongan asalnya adalah sekelompok orang yang bersatu karena sebuah motif yang mempersatukan mereka. Ada ulama yang mengatakan, ‘hizb’ atau golongan atau partai merujuk pada sekelompok orang yang kompak dan solid. Kata ‘hizb’ lebih khusus dibanding kata ‘jemaah’ dan ‘kaum’,” (Lihat M Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil, [tanpa catatan kota dan tahun], cetakan pertama, juz V, halaman 2042).

Syekh Wahbah Az-Zuhaily menjelaskan bahwa golongan Allah atau partai Allah adalah umat Islam yang menjaga loyalitasnya untuk kepentingan Islam. Mereka lebih rela mengorbankan apa saja untuk kepentingan Islam sebagai berikut ini:

لا تجد قوما يؤمنون بالله واليوم الآخر يحبون ويوالون من عادى الله ورسوله وخالف أحكامه أي لا ينبغي لهم ذلك ولو كانوا آباءهم أو أبناءهم أو إخوانهم أو أقرباءهم. أي ولو كان المحادون لله ورسوله آباء الموادين .. إلخ فالإيمان يمنع ذلك 

Artinya, “(Kau takkan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir di mana mereka mencintai dan menjadikan orang yang menentang Allah dan rasul-Nya serta menyalahi putusan hukum-Nya sebagai teman dekat mereka). Maksudnya, orang beriman tidak seharusnya menjadikan orang kafir sebagai teman dekat sekalipun mereka itu orang tua, anak, saudara, atau kerabat mereka sendiri. Maksudnya, sekalipun mereka yang menentang Allah dan rasul-Nya adalah ayah-ayah yang mereka cintai... karena keimanan kepada Allah melarang yang demikian itu,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhaily, At-Tafsirul Wajiz, [Damaskus, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan kedua, halaman 546).

Mereka, kata M Jamaluddin Al-Qasimi, adalah orang-orang yang hatinya terang oleh cahaya ilahi. Mereka memiliki batin yang kuat dan teguh dalam keimanan sebagai berikut ini:

أُوْلَئِكَ (إشارة إلى الذين لا يوادّونهم )كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ( أي أثبته فيها) وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ (أي بنور وعلم ولطف حيَّت به قلوبهم في الدنيا

Artinya, “(Mereka) isyarat yang merujuk pada orang-orang yang tidak mencintai orang kafir (Allah telah meneguhkan keimanan di hati mereka) Allah memantapkannya di batin mereka. (Allah menguatkan mereka dengan roh dari-Nya) dengan cahaya, ilmu, dan kelembutan di mana hati mereka menjadi mulia di dunia,” (Lihat M Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil, [tanpa catatan kota dan tahun], cetakan pertama, juz XVI, halaman 5729).

Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat menyimpulkan bagaimana kerasnya sikap hizbullah, golongan Allah, atau partai Allah terhadap hizbus syaithan atau golongan setan yang terdiri atas orang-orang kafir.

Di sini perlu dibedakan secara jelas antara kafir dan dzimmi. Yang mesti dimusuhi adalah golongan kafir. Sementara golongan dzimmi harus diperlakukan sebagai saudara sebagai persaudaraan dengan sesama Muslim. Dzimmi adalah non-Muslim yang hidup rukun dengan umat Islam.

M Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsirnya menyebutkan sejumlah riwayat bagaimana kedekatan Rasulullah dan Yahudi yang saling menjamu seperti diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Ia juga mengisahkan bagaimana Sayyidina Umar menempatkan setara posisi dzimmi dan Muslim sehingga non-Muslim memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara Muslim. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)