::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Merenungi Petuah Cucu Rasulullah

Selasa, 24 April 2018 10:30 Pustaka

Bagikan

Merenungi Petuah Cucu Rasulullah
KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh (w. 2014) pernah mengataka, jika kehidupan saat ini masuk pada 'Era Tinggal Landas'. Sebutan itu muncul karena melihat zaman yang semakin berkembang dan kemajuan tehnologi makin canggih membuat banyak manusia tergerus oleh kehidupan duniawi, sehingga urusan akhirat terabaikan. 

Dampaknya jiwa mulai terusik. Gersang. Dan hatipun tak lagi merasakan ketenangan. Karena cenderung mementingkan urusan jasmani dibanding ruhani. Meskipun hidup lebih dari sejahtera, namun tidak memiliki ketenangan hati. 

Di tengah-tengah keadaan yang demikian, Royhan Firdausy sebagai penulis buku ini mencoba untuk menghidangkan 28 kumpulan nasihat bijak sebagai pengisi spiritual dan penyeimbang ruhani terhadap jasmani. Membagikan resep agar manusia tetap berada pada kepentingan duniawi dan ukhrawi.

Nasihat-nasihat yang dihidangkan dalam buku ini merupakan kutipan dari petuah Sayyidina Zainal Abidin yang mempunyai gelar as-Sajjad (Sang ahli sujud). Beliau merupakan putra Sayyidina Husain, cucu Rasulullah Saw. yang menjadi satu-satunya sumber utama lahirnya keturunan-keturunan Rasulullah. Selain memiliki nasab mulia, akhaknya juga indah. Iman dan takwanya sangat tinggi. Dan sujud kepada Allah menjadi kebiasannya. 

Dalam buku ini, penulis memulai nasihatnya dengan menyentuh tentang arti dan makna kehidupan. Tulisnya, dalam hidup, sepatutnya kita menyadari makna hidup itu sendiri, yakni untuk apa dan bagaimana, dari mana dan hendak ke mana. Pertanyaan yang semestinya selalu hadir dalam benak kita, agar kita menyadari bahwa hidup adalah kesempatan yang mengantarkan kita pada kebahagiaan jika kita memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu, butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menggapai suatu kebahagiaan, (hal. 8).

Tentu saja dalam buku ini tidak terbatas pada satu pembahasan tentang arti kehidupan, namun lebih luas lagi, yakni mencakup perihal akhlak, motivasi dalam ibadah, hubungan kemasyarakatan, keberkahan dalam rizki dan tangga menuju kebahagiaan dunia akhirat. 

Dalam setiap poinnya penulis memberikan pemaparan yang cukup komprehensif. Penulis tidak hanya berhenti pada kutipan saja. Namun juga mengkolaborasikannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis dan pendapat para ulama. Sehingga setiap nasihat tersebut mengandung pesan yang dalam dan pengetahuan yang luas.

Di antaranya, Royhan menuliskan jika hakikat kekayaan tidak melulu pada banyaknya materi, begitu juga kebahagiaan tidak terletak pada kekayaan. Namun, hakikat kekayaan adalah kayanya hati (hati yang merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas. Keterangan ini sebagaimana dijelaskan oleh hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Selain ungkapan hadis tersbeut, penulis menambahkan pernyataan Ibnu Hajar al-Asqalani, yang menyatakan bahwa orang yang disifati dengan kaya hati ialah orang yang selalu qanaah (merasa cukup) dengan rezeki yang Allah berikan. Ia tidak rakus untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih dalam mengumpulkannya. Ia pun tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridha dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang seperti inilah yang akan kaya selamanya, (hal. 44-45).

Selain sebuah pemaparan, penulis juga memberikan sebuah kesimpulan, atau sebuah solusi. Sebagaimana dalam nasihat perihal “senang atas perbuatan dosa”, sebagai penutup dituliskan, kunci agar seseorang kembali dari kesenangan yang membutakan, dan kembali menuju pada kesadaran akan kebenaran adalah dengan banyak beribadah dan berdoa. Beribadah dari yang wajib hingga yang sunnah serta berbuat kebaikan terhadap sesama makhluk. Sedangkan melalui doa, Allah akan meluluhkan hati yang sudah membatu dan menyinari jiwa yang gelap gulita, (hal. 194).

Di sela sela menikmati hiruk pikuknya kehidupan, nasihat-nasihat seperti yang dihidangkan dalam buku ini sangat perlu dipertimbangkan. Pembaca akan mendapati nasihat cucu Rasulullah yang dikemas dengan gaya bahasa yang indah. Maka buku ini layak dibaca untuk semua kalangan, tidak terbatas pada remaja atau orang tua. Sebab pembahasan di dalamnya juga merupakan sebuah nasihat umum yang menyejukkan setiap hati yang mau merenungkan, terlebih mengamalkan isinya. 

Peresensi adalah Siti Lailatul Qomariyah, Peneliti di Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Ciputat.

Judul Buku: Pelita Sang Ahli Sujud: 28 Nasihat Penenang Hati
Penulis: Royhan Firdausy
Penerbit: Quanta - PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia
Cetakan: Pertama, Desember 2017
Tebal: 231 halaman
ISBN: 978-602-04-5145-9