::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Bani Salimah Ingin Pindah Rumah Dekat Masjid Nabawi

Kamis, 26 April 2018 11:15 Hikmah

Bagikan

Kisah Bani Salimah Ingin Pindah Rumah Dekat Masjid Nabawi
Ilustrasi: Miniatur Masjid Nabawi zaman Nabi (Foto Slide Share)
Adalah Bani Salimah, sebuah keluarga yang tinggal di salah satu ujung Kota Madinah. Mereka sangat ingin sekali untuk selalu bisa shalat berjamaah di Masjid Nabawi bersama Rasulullah. Namun mereka mengeluhkan jauhnya rumah mereka dari masjid sehingga cukup merepotkan bila harus bolak-balik ke masjid dengan jarak yang cukup jauh.

Keinginan dan keadaan ini menjadikan Bani Salimah berkeinginan berpindah rumah ke tempat yang lebih dekat dengan masjid. Apalagi masih banyak tanah kosong di sekitaran Masjid Nabawi.

Kabar perihal keinginan pindah rumah ini sampai ke telinga Rasulullah. Maka ketika bertemu dengan Bani Salimah beliau mengonfirmasi kabar tersebut dan ketika mereka membenarkannya beliau menitahkan, “Tetapilah rumah kalian, jejak kalian akan ditulis. Tetapilah rumah kalian, jejak kalian akan ditulis.”

Mendengar titah Rasulullah ini Bani Salimah berujar, “Tak ada yang menggembirakan kami untuk pindah rumah.” Ya, mereka tak jadi pindah rumah.

Baca juga: Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah
Kisah ini banyak direkam oleh para ulama hadits seperti Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, Baihaki dan lainnya.

Imam Muslim sebagaimana dikutip oleh Imam Nawawi dalam kitab Raudlatus Shâlihîn meriwayatkan kisah tersebut sebagai berikut:

وعن جابر  رضي الله عنه  قَالَ: خَلَت البِقاعُ حولَ المَسْجِدِ، فَأَرَادَ بَنُو سَلمَةَ أَنْ يَنْتَقِلُوا قُرْبَ المَسْجِدِ، فَبَلَغَ ذَلِكَ النبي  صلى الله عليه وسلم  فَقَالَ لَهُمْ:  انه بَلَغَنِي أنَّكُم تُريدُونَ أَنْ تَنْتَقِلُوا قُرْبَ المَسْجِدِ قالوا: نعم، يا رَسُول اللَّهِ، قَدْ أرَدْنَا ذَلِكَ. فَقَالَ: بَنِي سَلِمَةَ دِيَارَكُم تُكْتَبْ آثارُكُمْ، دِيَارَكُمْ تُكْتَبْ آثارُكُمْ  فقالوا: مَا يَسُرُّنَا أنَّا كُنَّا تَحَوَّلْنَا

Artinya: Dari Jabir radliyallâhu ‘anhu ia berkata, “Ada beberapa petak tanah yang kosong di sekitar masjid Nabawi. Maka Bani Salimah berkeinginan untuk berpindah ke dekat masjid. Hal itu sampai kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka kepada mereka beliau berkata, “telah sampai kepadaku berita bahwa kalian ingin berpindah ke dekat masjid?” Mereka menjawab, “Benar, wahai Rasulullah. Kami menginginkan itu.” Maka Rasul bersabda, “Wahai Bani Salimah, tetapilah rumah kalian, akan dicatat jejak kalian. Tetapilah rumah kalian, akan dicatat jejak kalian.” Mereka berkata, “Tak ada yang membahagiakan kami untuk berpindah rumah.”

Demikianlah para sahabat Nabi, generasi terbaik umat ini yang mesti menjadi teladan bagi umat masa kini. Dalam hadits yang lain mereka berharap menjadi kaya bukan karena ingin menikmati hidup yang penuh dengan kemewahan, namun karena dengan melimpahnya harta mereka bisa bersedekah sesuka hati dan sebanyak-banyaknya. Dalam hadits ini mereka berkeinginan berpindah rumah pun bukan karena jeleknya rumah yang mereka tempati kemudian ingin membeli rumah baru yang lebih bagus dan megah. Keinginan mereka untuk berpindah rumah ke dekat masjid termotivasi karena keinginan ukhrawi bukan duniawi, yakni agar dapat selalu melaksanakan shalat berjamaah di masjid bersama Rasulullah tanpa kesusahan dan kepayahan karena jauhnya jarak yang harus ditempuh.

Baca juga: Ketika Para Sahabat Nabi Berharap Menjadi Kaya
Adalah sebuah motivasi yang sangat baik. Namun meski demikian mereka kemudian mengurungkan niatnya, tak jadi pindah rumah. Pun juga karena motivasi ukhrawi yang bagi mereka dirasa lebih menguntungkan. Ketika Rasulullah mengabarkan bahwa setiap langkah yang ditapakkan dari rumah ke masjid akan ditulis sebagai pahala maka ini menjadi motovasi yang kuat bagi para sahabat untuk mengurungkan niatan berpindah rumah ke dekat masjid. Bagi mereka biarlah rumah mereka tetap jauh dari masjid, asalkan setiap langkah yang mereka tapaki setiap kali pulang dan pergi ke masjid dihitung ibadah dan berpahala di sisi Allah. Semakin jauh rumah dari masjid, semakin banyak langkah kaki, semakin banyak pula tabungan pahala yang ditulis dan didapatkan.

Kuatnya motivasi para sahabat nabi dalam mendapatkan kebaikan ukhrawi ini juga ditunjukkan dalam sebuah hadits yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hadits ersebut Ubay bin Ka’b menceritakan ada seorang sahabat yang rumahnya sangat jauh dari masjid Nabawi, tak ada yang lebih jauh darinya. Namun demikian ia tak pernah melewatkan shalat berjamaah di masjid. Seseorang menyarankan kepadanya untuk membeli seekor himar yang bisa ia tunggangi ketika pergi ke masjid di waktu gelapnya malam dan di saat panas yang terik. Atas saran ini sahabat tersebut berujar, “Aku tak merasa senang bila rumahku ada di samping masjid. Aku ingin setiap langkahku ketika pergi ke masjid dan ketika pulang ke rumah dicatat oleh Allah.” Mengetahui hal ini Rasulullah bersabda, “Sungguh, Allah telah mengumpulkan semua itu untukmu.”

Membaca itu semua di manakah motivasi umat masa kini dalam hal shalat berjamaah di masjid dibanding semangat para sahabat yang begitu besar dalam meraih kenikmatan ukhrawi dan keridloan Allah yang abadi. Melihat realita yang ada, mereka yang rumahnya dekat tak datang, yang rumahnya jauh tak bertandang. (Yazid Muttaqin)