::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Suami-Istri Berpisah Kubur demi Melestarikan Tali Persaudaraan

Jumat, 27 April 2018 07:30 Hikmah

Bagikan

Suami-Istri Berpisah Kubur demi Melestarikan Tali Persaudaraan
Ketika Mbah Sakdullah masih hidup, beliau sudah berwasiat agar kelak dimakamkan di desa kelahirannya di Kalioso Sragen. Sedang istrinya, Mbah Ngismatun, tidak berwasiat apa pun terkait tempat pemakamannya sehingga pihak keluarga memakamkan Mbah Ngismatun di Makam Pajang Saripan Makamhaji Kartosuro Sukoharjo. Berpisahnya kubur pasutri tersebut tidak perlu dipandang negatif sebab bertujuan mulia, yakni melestarikan tali persaudaraan anak-anak keturunan mereka dengan saudara-saudara dari kedua jalur – ayah dan ibu. 

Mbah Sakdullah Solo (biasa dipanggil Mbah Dullah) adalah keturunan ke-6 dari Mbak Kiai Abdul Jalal I Kalioso Sragen, seorang tokoh yang mendapat tanah pardikan dari Raja Keraton Surakarta PB IV pada tahun 1788 untuk menyebarkan dakwah Islam di daerah itu. Sedang Mbah Ngsimatun (biasa dipanggil Mbah Ngis) adalah putri Mbah Kiai Abdul Mannan, salah seorang pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, didirikan tahun 1930-an. Mbah Dullah wafat pada tahun 2005, sedangkan Mbah Ngis wafat 11 tahun sebelumnya, yakni pada tahun 1994. 

Dua Jalur Nasab 

Setiap anak manusia secara biologis memiliki dua jalur keturunan atau nasab yang tak bisa dipungkiri yang berasal dari kedua orang tuanya, yakni ibu dan ayah. Secara hukum agama, jalur nasab bisa berasal dari salah satu saja, dari ibu atau ayah. Dalam Islam jalur keturunan berdasarkan garis keturunan dari ayah. Sedangkan dalam Yahudi, jalur keturunan ditentukan dari garis ibu. Itulah sebabnya Nabi Ismail diyakini sebagai keturunan Arab dan Nabi Ishaq keturunan Yahudi disebabkan salah satunya karena perbedaan ras antara Siti Hajar dan Siti Sarah. 

Jika ketentuan hukum Islam tersebut diterapkan secara ketat tanpa mempertimbangkan sudut pandang biologi, tentu kita akan sulit menghubungkan silsilah Sayyidina Hasan bin Ali dan Sayyidina Husain bin Ali secara vertikal dengan Nabi Muhammad ﷺ karena Sayyidina Ali radliyallahu ‘anh yang menurunkan kedua cucu Rasulullah ﷺ tersebut adalah anak laki-laki Abu Thalib. Ketersambungan silsilah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain dengan Nabi Muhammad ﷺ secara biologis melalui ibu mereka, yakni Sayyidah Fathimah binti Muhammad ﷺ. 

Sebuah hadits riwayat Thabrani menyatakan bahwa garis keturunan anak-anak yang dilahirkan Sayyidah Fathimah bersambung kepada Rasulullah ﷺ secara agama merupakan kekhususan sebab dalam Islam memang jalur nasab mengikuti ayah. Hadits tersebut selengkapnya berbunyi: “Semua bani Untsa (manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” 

Dalam konteks seperti itulah, wasiat Mbah Dullah untuk dimakamkan di desa kelahirannya menemukan relevansinya bahwa menjaga hubungan persaudaraan atau nasab yang berasal dari masing-masing dari kedua orang tua harus dijaga. Beliau menyadari betul hubungan putra-putrinya dengan saudara-saudaranya di Kalioso tidak cukup dekat karena secara geografis letak Kalioso cukup jauh dari kota Solo - tempat Mbah Dullah dan keluarganya tinggal setelah hijrah dari desa kelahirannya pada tahun 1950-an. 

Melestarikan Tali Persaudaraan

Mbah Dullah mengkhawatirkan sepeninggal beliau tali persaudaraan antara anak-anaknya dengan saudara-saudaranya di Kalioso bisa putus di kemudian hari jika tidak ada usaha-usaha konkret untuk melestarikannya. Kekhawatiran seperti itu tidak cukup kuat terhadap saudara-saudara Mbah Ngis yang memang sebagian besar tinggal di Solo sehingga sering bertemu. 

Untuk itulah, Mbah Dullah berwasiat dimakamkan di desanya, yakni di Makam Keluarga Putra- Wayah Kiai Abdul Jalal I yang terletak persis di sebelah barat Masjid Jami’ Kalioso Sragen. Sedangkan Mbah Ngis atas kesepakatan dalam musyawarah keluarga dimakamkan di Makam Pajang Saripan Makamhaji Kartosuro Sukoharjo, di sebelah kiri ayahanda—Mbah Kiai Abdul Mannan. 

Dengan dimakamkannya Mbah Dullah di Kalioso Sragen, maka setiap kali putra-putri Mbah Dullah menziarahi makam beliau, kesempatan bertemu dan bersilaturrahim dengan paman, bibi, saudara-saudara sepupu dan para keponakan dari jalur Mbah Dullah sangat besar terutama di hari-hari Lebaran karena jarak antara makam dengan tempat tinggal mereka cukup dekat. Sedangkan ziarah ke makan Mbah Ngis di Pajang Kartosuro Sukoharjo lebih sering karena lokasinya dekat dengan tempat tinggal anak-anak Mbah Dullah dan Mbah Ngis di Solo. 

Wasiat Mbah Dullah untuk dimakamkan di desa kelahirannya memang bertujuan melestarikan kesinambungan hubungan persaudaraan dalam rangka menjaga garis keturunan atau nasab sebagaimana dianjurkan dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Bukhari, “Ketahuilah nasab-nasabmu sekalian agar tali persaudaraanmu terus bersambung. Sesungguhnya jika hubungan keluarga senasab itu terputus maka menjadi jauh. Sebaliknya hubungan keluarga senasab itu akan dekat bilamana kamu terus menyambungnya sekalipun telah jauh hubungannya.” 

Dengan demikian, wasiat Mbah Dullah agar beliau dimakamkan di desa kelahirannya dan terpisah dari kubur atau makam Mbah Ngis sejalan dengan hadits diatas sekaligus menunjukkan kecerdasan futuristik Mbah Dullah. Wasiat tersebut hanyalah salah satu cara bagaimana hadits tersebut dapat diamalkan dengan baik khususunya oleh anak-anak Mbah Dullah sendiri. 

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta