::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mel Shandy: Berjilbab Tetap Rock Metal

Sabtu, 28 April 2018 22:00 Wawancara

Bagikan

Mel Shandy: Berjilbab Tetap Rock Metal
Tak biasanya, Jumat (23/3) malam itu di gedung PBNU terdengar Imagine miliknya John Lennon dengan iringan musik kolaborasi tradisional dan modern, Ki Ageng Ganjur. Lagu itu dinyanyikan lady rocker tahun 90-an, Mel Shandy. 

Lagu itu didengar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan beberapa pengurus PBNU lainnya, serta para hadirin seperti Ketua Muslimat NU Hj. Aniroh dan Ny. Nurhayati Said Aqil, Yenny Wahid dan puluhan santri. 

Pada saat itu, Kiai Said tak mengomentari lagu itu. Juga tak melarangnya. Ia malah mengutip sorang sufi besar Islam, Syekh Dzu Nun Al-Mishri yang mengatakan, musik adalah suara kebenaran. 

“Musik,” kata Kiai Said sambil melirik ke belakang, seraya tangan kanannya menunjuk ke alat-alat musik milik Ki Ageng Ganjur, “tidak pernah berbohong. Yang berbohong itu mulut,” katanya. 

Barangsiapa, lanjut Kiai Said mengutip Syekh Dzu Nun, mendengarkan suara musik dengan betul-betul mencapai hakikat, dengan tujuan positif, dia akan mencapat kepada hakikat. Tapi barangsiapa mendengarkan musik dengan syahwat, dia akan pada kezindiqan, terlempar dari kebenaran.

Mel Shandy yang kini selalu tampil berjilbab, tapi tetap rock, setuju dengan apa yang dikatakan Kiai Said. Bagi dia, bermusik itu tergantung niat. Musik toh bisa dimanfaatkan untuk syiar Islam. “Melalui musik kan enggak bikin jenuh kan,” katanya. 

Bagaimana cerita perempuan kelahiran Bandung ini bermusik, kemdian pentas bersama grup musik Ki Ageng Ganjur ke pesantren-pesantren, hingga kini berjilbab. Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarainya. Berikut petikannya: 

Bisa cerita pengalaman bersinggungan dengan orang NU dan pesantren, berkolaborasi dengan musik tradisional?

Saya dari tahun 2000 bersama Mas Sastro (maksdunya Al-Zastrouw Ngatawi, Ketua Lesbumi PBNU 2010-2015) hingga membawa saya berjilbab. 

Nah, itu, bagaimana ceritanya?

Dulu saya merah-merah rambutnya, kan. Saya bersama Ki Ageng Ganjur (grup musik asuhan Al-Zastrouw Ngatawi) sejak tahun 2000, berjilbab tahun 2007. Jadi, selama itu berjuang ingin berhijrah itu susah. Saya kan ke pesantren-pesantren. Tapi berjilbabnya 2007. 

Apa ada kiai yang menyuruh? 

Enggak, ah. Gimana kesadaran kita aja. Enggak nuntut. Enggak apa-apa, cuek aja.  

Kenapa bisa memutuskan berjilbab? 

Hidayah itu datangnya tidak diduga ya. Ya dari hidayah aja sih. Sering ketemu pesantren, sering ketemu kiai, kan, aku juga tidak tahu kenapa, pengen berhijab aja. Berhijrah. 

Ada yang berkesan ketemu dengan santri atau kiai? 

Banyak. Aku di Mandailing Natal, aku lupa namanya, santrinya banyak banget kan, sampai ada sesuatu yang membikin takjub ya. Mereka pada berhijab, malah aku enggak. 

Apa ada kiai yang komentar tentang tidak berhijab?

Enggak ada yang komentar. Pak kiai juga tidak ada yang marah. Bilangnya, ‘ih rambutnya bagus’. Rambutku merah, kan. Pak kiai dari Jawa Timur, siapalah, lupa namanya. 

Kiai tak ada yang komentar belum sempurna imannya karena tak berjilbab? 

Enggak, ah, pak kiai enggak ada yang keras, memaksakan kehendak. Enggak. 

Dari perjalanan semacam itu, bagaimana memahami cara dakwah para kiai? 

Islam itu tidak memaksakan ya. Pak kiai juga tahu hidayah itu datang dengan sendirinya. 

Ohya, selama tujuh tahun itu diupayakan berjilbab?

Iya, tapi belum siap. Gimana dong? Belum pas. Akhirnya buka tutup aja. Kalau acara, tertutup. Tapi sesudahnya ya aku buka lagi. Pakai celana sobek lagi. 

Ke Gedung PBNU pernah berapa kali?

Aku dulu sering. 

Bernyanyi Bianglala dan Imagine di gedung PBNU bagaimana rasanya?

Lain aransemennya, kan ada aura Jawanya. Kan aku mah ti Sunda ya. Sunda kan. Ada aura Jawa, kan lain. Ada aura yang beda, begitu. 

Pernah dengar, dulu Teteh seorang qariah. Apa betul? Bisa cerita?  

Ya begitu deh. Awalnya ngaji dulu. Ngaji dulu, shalawat, baru di acara terakhir, lagu-lagu rocknya keluar kayak Bianglala, kan kalau terakhir bebas kan, shalawat udah, ngaji udah. 

Saya dengar pernah ikut MTQ, sampai tingkat apa?

Dulu mah saya sampai tingkat kecamatan, Bandung Wetan. Jadi aku mah belum sempat se-Jawa Barat, nasional.

Rock untuk dakwah menurut Teteh bagaimana?

Ya enggak masalahlah. Maksudnya, kan kita berdakwah melalui musik kan. Musik rock dikolaborasikan dengan gamelan kan sesuatu yang luar biasa toh. Aku kolaborasi dengan keroncong udah, sama jazz, sama Jawa, gamelan udah. Udah sering banget melanglang buana ke Qatar, Doha, Dubai, pokoknya aransemennya dibikin unik aja, etnik gitu kan. 

Komentar Teteh soal musik menurut Kiai Said bagaimana? Ia menyatakan bahwa bermusik yang mendekatkan diri kepada Allah bisa mengantarkan kepada kebenaran?

Kan banyak banget ya yang menyerang musik, musik itu haram. Sebanarnya ya, tergantung kita menyampaikannya. Terus kalau mendengarkannya pakai nasfsu kan, kata Pak Kiai Said juga, kalau mendengarkannya dengan benar bisa sampai hakikat, begitu kan kata Pak Kiai. Gimana niat sih. Sekarang lagi rame kan, musik haram. Itu haram dari segi apanya, toh syiar melalui musik kan enggak bikin jenuh kan, daripada teriak-teriak kata Mas Sastro haha; teriak, teriak marah begitu. Tapi kalau lewat musik kan ada seninya. Kalau misalkan kita bermusik dengan berpakaian seronok dengan suara yang bikin nafsu birahi, nah, itu yang haram. Ini kan shalawat toh, dengan pakaian sopan juga, enggak vulgar, tergantung niatnya juga. 

Cita-cita ke yang belum tergapai di bidang musik apa? 

Pokoknya aku mah jalani apa adanya, karena usia kan, tidak muda kan. Kalau dulu zaman muda kan obesesi ingin go internasional kayak Anggun, kayak Agnes. Yang pasti cita-citaku terlaksana menjadi seorang artis. Kan karena ibu mengaharapkan anaknya menjadi penyanyi. Kan terlaksana ya. Bisa membahagiakan keluarga. Membahagiakan orang tua. Sampai sekarang pun, saya alhamdulillah masih eksis. Allah masih mempercayai di jalan, di jalur ini. Malah sekarang ini, setelah aku berhijab, ada nilai tambahnya. Yang dulunya di musik rock aja kan, tambahnya ada, di religi, kan. Jadi, saya itu berhijab itu kan diundang ngaji juga. Jadi, religi, kan, kalau diundang ngaji. 

Ngaji? Diundang ceramah? 

Enggak. Kalau ceramah mah, masih perlu diceramahin. Ngaji qira’ah, qira’ah. Cuma langgam saya berbeda dengan qira’ah-qira’ah internasional kan. Kalau saya langgam semampunya saya aja, yang penting tidak fals. Kadang saya kalau ngaji ada seraknya juga, habis gimana penyanyi rock disuruh ngaji. 

Komentar teman-teman di rock karena sekarang berjilbab, bergaul dengan kiai dan pesantren? 

Mereka malah justru pada kepengen ikut-ikutan juga. Teman-temanku sekarang pada berhijab; kayak Inka, Yosie Lucky, penyanyi sudah pada berhijrah. Dulu Gito Rolies. Sebetulnya aku jrang ketemu mereka. Cuma mungkin di satu sisi, setelah saya berhijab kan, bukan mereka ngikutin aku, tapi mereka juga udah dapat hidayah juga dari Allah. Juga penggemar-penggemar juga yang tadinya gimana, ngikutin, gaya jilbabku. Yang tadinya tidak berjilbab, jadi ingin berjilbab. Aku berjilbab juga syiar juga, kan. 

Nyaman tidak bergaul dengan pesantren yang dulunya tidak pernah dekat.

Waduh, pokoknya ada sesuatu yang luar biasa ya. Tapi sebenarnya dari dulu kan, didikan orang tua, saya kan enggak pernah berbuat nakal ya, enggak pernah terjun ke narkoba, atau segala macam, meskipun dunia saya seperti ini ya, yang identik, pasti kena. Tapi dasarnya kan, dari awalnya aku tidak suka begitu. Ya, jalani apa adanya. 

Caranya bagaimana?

Bagaimana ya, ya pokonya jangan ikut-ikutan aja. 

Tapi ajakan ada?

Banyak, dari SMA, kan. Di lingkungan musik kan cewek satu-satunya grupku Elpamas, Godbless, Power Metal. Kumpul sama mereka. Ada yang minum ada yang enggak. Aku ceweknya sendiri. Saya dianter sama papa. Enggak pernah mencoba untuk terjun ke terjeremus kepada hal-hal begitu. Tergantung kitanya. Kalau kita niatnya enggak, ya enggak. Meskipun ada yang nyekokin, tapi Allah lindungi saya. Ada aja yang nolongin. Ada yang nyekokin nih, ada aja yang nolongin. Eh, jangan, kasihan. Saya bismillah. Saya dengan niat baik saya karena ingin membahagiakan keluarga. Akhirnya ketemu Mas Sastro momentum PKB yang sampai Gus Dur naik jadi presiden. Di situ, diundang di Kediri, ya sudah terus. Keliling ke Jawa Timur, ke pesantren-pesantren, ke Sumatera. Asyik aja. Jadi, luar biasa. Bianglala dipaduin dengan gamelan, jadi, sesuatu yang luar biasa. 

Punya cerita tentang Gus Dur?

Oh iya dong. Bikin saya bertambah ilmu juga, bertambah religi juga. Tadinya urakan, tadinya sering pakai celana sobek-sobek, lama-lama mikir juga. Ada kenikmatan tersendiri. Saya kan sekarang sudah berkeluarga, sudah punya anak, kan masa, Mbak Reny Jayusman sekarang sudah berjilbab, hijrah. Hari Mukti, Gito Rolies. 

Tanpa mengurangi rocknya ya?

Iya, tetap konsep rock metal, selama saya masih mampu, selama masyarakat masih menginginkan, kita enggak vulgar saja. 

Bagaiman pandangan Teteh terhadap NU?

Aku juga warga NU. Aku mah dari dulu NU, turun-temurun dari papa. Semua di rumahku NU. Kita ngikutin apa yang kita percaya.