NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Maaf Rasulullah untuk Buron Hukuman Mati, Ikrimah bin Abu Jahal

Sabtu, 28 April 2018 07:00 Hikmah

Bagikan

Maaf Rasulullah untuk Buron Hukuman Mati, Ikrimah bin Abu Jahal
Jika ditanya siapa musuh bebuyutan Islam pada zaman Rasulullah, nama yang segera muncul biasanya adalah Abu Jahal. Ia disebut-sebut sebagai “Fir’aun”-nya umat di masa dakwah Islam pertama. Namun, sebetulnya ada yang level permusuhannya terhadap Islam melebihi Abu Jahal, yakni putranya Ikrimah bin Abu Jahal.

Karena kezaliman dan kekejamannya yang luar biasa kepada kaum muslimin, sampai-sampai muncul pengumuman di kalangan umat Islam untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Ikrimah. Darah permusuhan Abu Jahal mewaris dengan baik kepadanya, ditambah dendam kusumat yang membara setelah kematian sang ayah.

Amânî Zakariyya ar-Ramâdî dalam kitab Akhlâqun Nabiyy Shallallahu ‘alaihi wa Sallam fil Harb menceritakan bahwa di perang Khandamah Ikrimah berduel dengan Khalid bin Walid, prajurit Muslim yang terkenal tangguh. Ikrimah berhasil dipukul mundur, hingga lari keluar kota Makkah untuk menyelamatkan diri. Ia sedang berusaha menuju Yaman dengan mengendarai kapal.

Ikrimah bin Abu Jahal pun resmi menjadi buron. Dalam konteks momen Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah) yang menjadi puncak kekuasaan Islam zaman itu, situasi tersebut tak hanya kian memojokkan dirinya, tapi juga membuat keluarga Ikrimah sangat cemas. Istrinya, Ummu Hakim binti al-Harits bin Hasyim, yang sudah masuk Islam lebih dulu betul-betul khawatir memikirkan nasib sang suami yang bisa kapan saja dan di mana saja terbunuh karena status buronan hukuman mati.

Dalam kondisi genting itu, Ummu Hakim memberanikan diri berangkat ke bukit Shafa bersama penduduk Makkah lain yang sudah masuk Islam. Di sana ia menghadap Rasulullah dan memohon grasi atau pengampunan atas kesalahan suaminya selama ini. Ummu Hakim berharap Ikrimah dapat kembali ke Makkah dalam kondisi aman sebagaimana Shafwan bin Umayyah.

Konteks Ikrimah sebenarnya berbeda dari Shafwan. Sebab, Ikrimah bukan saja terkenal bengis menganiaya umat Islam tapi juga masih terus melakukan perlawanan meskipun sudah Fathu Makkah. Rasulullah menjamin keamanan seluruh warga termasuk yang semula memusuhinya, kecuali bagi mereka yang masih hendak memberontak. Maka status sebagai buron pun disematkan kepada Ikrimah.

“Ikrimah telah kabur darimu menuju Yaman karena takut dibunuh, wahai Rasulullah. Mohon kiranya engkau jamin keamanannya,” pinta Ummu Hakim.

Dengan ringan Nabi menjawab, “Dia aman.”

Raslullah tak menyinggung soal darah ikrimah yang halal karena jadi bunonan hukuman mati, tidak pula membahas masa lalu Ikrimah yang membunuh dan menganiaya umat Islam. Beliau menatap ke depan, melihat sebuah perubahan keadaan lebih baik bakal datang.

Berbekal jaminan keamanan Nabi itu, Ummu Hakim menempuh perjalanan panjang mencari suaminya. Hingga di ujung pantai Laut Merah, ia menyaksikan suaminya sedang mencoba menaiki kapal yang ke arah Yaman. Ikrimah tampak berdebat dengan nakhoda yang ternyata adalah Muslim.

“Akhlish,” kata nakhoda kapal. Maksudnya, Ikrimah diminta untuk menyucikan keyakinannya dari berbagai kemusyrikan dan beralih kepada prinsip tauhid.

“Apa yang mesti aku ucapkan?” kata Ikrimah.

Lâilâha illallâh (tiada Tuhan selain Allah).”

“Justru aku melarikan diri karena menghindari itu!” sahut Ikrimah bin Abu Jahal.

Ummu Hakim yang datang dalam kesempatan itu memberi tahu Ikrimah soal pertemuannya dengan manusia paling bijak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu meminta suaminya untuk tidak menjerumuskan diri dalam kerusakan karena Nabi telah menjamin keamanannya.

Jika diamati, Ikrimah kala itu betul-betul dalam kondisi terdesak. Pelariannya dapat dipastikan tak akan mulus karena umat Islam sudah ada di mana-mana, termasuk Yaman yang dihuni komunitas besar Muslim. Satu-satunya jalan terbaik adalah tidak memusuhi Nabi. 

Musuh bebuyutan Islam ini pun akhirnya menyerah, kembali ke Makkah dan menghadap Rasulullah. Bila mau Ikrimah sebenarnya cukup dengan taat peraturan dan tidak melawan, maka dirinya pasti aman. Tapi kekagumannya dengan kepribadian Nabi, membuatnya mantap mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sejak saat itu Ikrimah bergabung dengan kaum Muslimin dalam kerja-kerja dakwah, termasuk terlibat dalam sejumlah pertempuran hingga ia masuk kategori sahabat agung yang syahid pada perang Yarmuk. Demikianlah Allah membalikkan hati seseorang. Orang yang paling membenci Islam berbalik arah menjadi orang yang paling mencintainya lewat samudera maaf dan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (Mahbib)