::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Sayyidina Umar Menolak Minum Air Dingin

Sabtu, 28 April 2018 15:00 Hikmah

Bagikan

Ketika Sayyidina Umar Menolak Minum Air Dingin
Orang-orang sufi dahulu banyak yang menghindari kenikmatan-kenikmatan dunia dengan tujuan supaya tidak mengurangi kenikmatan di surganya kelak. 

Salah satu contohnya adalah Sayyidina Umar radliyallahu anh. Satu saat beliau sedang dilanda kehausan di waktu cuaca sekitar sedang panas. Betapa segarnya jika tenggorokan yang begitu kering, disiram dengan air dingin. Seperti bumi yang kering kerontang dihantam hujan deras yang pertama kalinya. 

Ada satu orang yang bermaksud menghaturkan minuman air putih dingin untuk membantu dahaga Sayyidina Umar. Namun beliau menolak. 

Lalu ada yang bertanya kepada Sayyidina Umar. "Ya Umar, engkau ini sedang kehausan. Tapi kenapa engkau justru menolak air yang kami berikan?"

"Iya, kalau minuman ini ada hubungannya dengan akhirat, aku tidak mau minum. Namun jika tidak ada hubungannya, aku mau minum. Aku khawatir, kesegaran yang kurasakan sekarang akan mengurangi kenikmatan di surgaku kelak."

Cerita di atas disampaikan oleh KH Abdullah Kafa Bihi Mahrus dalam acara Haul KH Idris Marzuqi yang ke-4 dan Penutupan Ngaji Lapanan Kemis Legi yang dihelat di Aula Al-Muktamar, Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Kamis, (26/4).

Kiai Kafa menimpali, kenikmatan di dunia akan mengurangi kadar kenikmatan di akhirat kecuali memang mendapat fadlal (anugerah) dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Kisah tentang Sayyidina Umar di atas sejalan dengan kisah Kiai Syamsuri Dahlan, pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan, Jawa Tengah. 

Menurut cerita orang dekatnya, saat sakit, Kiai Syamsuri tidak berkenan dikasih kasur yang tebal. Beliau juga beralasan, khawatir akan mengurangi kenikmatannya di surga kelak. (Ahmad Mundzir)