NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kala Rasulullah Bertengkar dengan Istrinya

Senin, 30 April 2018 18:00 Hikmah

Bagikan

Kala Rasulullah Bertengkar dengan Istrinya
Rasulullah adalah manusia, namun tidak seperti manusia biasa. Dia makan, minum, tidur, berumah tangga, dan melakukan hal-hal lainnya layaknya manusia pada umumnya. Bedanya, Rasulullah adalah orang yang maksum (terjaga dari perbuatan dosa). Segala tindak tanduknya terbebas dari kemaksiatan karena dijaga oleh Allah.   

Sebagai seorang suami misalnya. Rasulullah juga mengalami hiruk pikuk persoalan rumah tangga sebagaimana suami-suami lainnya. Mulai dari berselisih, berdebat hingga bertengkar dengan sang istri. Terkait hal ini, ada beberapa riwayat yang menceritakan momen Rasulullah kala bertengkar dengan sang istri. 

Salah satunya adalah yang dikisahkan buku Kisah-kisah Romantis Rasulullah. Suatu ketika Aisyah berbicara dengan keras dan lantang kepada Rasulullah dari bilik kamar. Abu Bakar as-Siddiq yang saat itu bertamu di rumah Rasulullah segera mengetahui kalau anaknya (Aisyah) dan menantunya (Rasulullah) sedang bertikai.

Mendapati hal itu, Abu Bakar meminta izin Rasulullah untuk menemui putrinya. Ketika sudah berhadapan dengan Aisyah, Abu Bakar langsung mengangkat tangannya hendak memukul Aisyah karena telah berbicara keras dengan Rasulullah. Namun kemudian Rasulullah mencegahnya. 

Di hari berikutnya, Abu Bakar berkunjung ke rumah Rasulullah. Dia menyaksikan kalau anak dan menantunya telah baikan dan tidak bertengkar lagi pada hari itu.

Diceritakan juga bahwa suatu ketika Rasulullah marah kepada Aisyah karena satu dua hal. Lalu kemudian Rasulullah meminta Aisyah untuk menutup mata dan mendekat. Seketika itu Aisyah merasa cemas karena mengira akan dimarahi Rasulullah. Apa yang dibayangkan Aisyah ternyata meleset. 

Khumaira ku (panggilan sayang Rasulullah untuk Aisyah) telah pergi rasa marahku setelah memelukmu,” kata Rasulullah. 

Dari cerita Rasulullah di atas, ada dua hikmah yang bisa dipetik. Terutama bagaimana seharusnya sikap seorang suami kepada istri ketika mereka cekcok.

Pertama, tidak melibatkan orang lain. Persoalan rumah tangga sebaiknya diselesaikan sendiri, tidak perlu melibatkan orang lain meskipun itu orang tua sendiri atau mertua. Rasulullah pun mencegah Abu Bakar yang notabennya mertuanya sendiri untuk ‘ikut campur’ dalam permasalahan rumah tangganya. 

Kedua, menghilangkan kemarahan terhadap istri dengan mendekapnya. Seperti yang dilakukan Rasulullah, ketika seorang suami atau istri marah atau berselisih dengan pasangannya maka hendaknya ia langsung memeluk pasangannya. Jangan malah menampar atau memukulnya. (A Muchlishon Rochmat)