::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Catatan Jelang Seabad NU Surakarta (6)

Rabu, 02 Mei 2018 17:00 Fragmen

Bagikan

Catatan Jelang Seabad NU Surakarta (6)
sebagian mahasisiwa PTINU Surakarta tahun 1961
Dari Surakarta, NU Miliki Perguruan Tinggi Pertama

Di berbagai daerah, kini telah berdiri banyak lembaga pendidikan setingkat perguruan tinggi yang dimiliki NU. Namun, tahukah anda, bila sejarah awal berdirinya perguruan tinggi NU tersebut dimulai dari Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Tepatnya pada tanggal 2 Oktober 1958, berdirinya Perguruan Tinggi Islam (PTI) NU Surakarta, ditandai dengan acara peresmian yang diselenggarakan di Gedung Balaikota Surakarta. Presiden Soekarno pun hadir dalam acara tersebut.

Berdirinya sebuah pendidikan tinggi di kalangan NU di masa tersebut, tentu sangat berarti bagi eksistensi NU sendiri. Sebab dari lembaga tersebut, NU dapat menyiapkan calon kader mereka, yang akan ditempatkan di posisi strategis.

Hal ini sekaligus menjadi jawaban dari pertanyaan “nyinyir” beberapa pihak yang pernah mempertanyakan, apakah NU sudah mempersiapkan tokoh-tokoh untuk calon menteri, duta besar, gubernur, dan sebagainya berapa NU memiliki Mr, Dr, Ir?

Penulis mendapatkan sejumlah catatan penting, dari buku yang diterbitkan UNU Surakarta, bahwa untuk merealisasikan rencana ini, terlebih dahulu dibentuk sebuah panitia yang diketuai KH R. Chasbullah (Jakarta), Wakil Ketua Kiai Raden M Dimyati al-Karim (Surakarta), Sekretaris R Suprapto (Surakarta) dan Wakil Sekretaris A Sarnadi (Surakarta). Untuk jabatan Bendahara KH Mochtar Rosjadi (Surakarta), Wakil Bendahara KH A Mudzakir (Surakarta) dan pembantu kepanitiaan ada dua orang, yakni, Ruhani (Surakarta) dan H Mustahal Ahmad BA (Surakarta).

Panitia kemudian berkonsultasi ke sejumlah tokoh di Jakarta pada tanggal 13–14 Mei 1958. Mereka yang ditemui antara lain KH Abdul Wahab Chasbullah (Rais ‘Aam PBNU), KH Masjkur (Menteri Agama RI), Dr KH Idham Chalid (Wakil Perdana Menteri II/Ketua Umum PBNU), KH Saifuddin Zuhri (Sekjen PBNU), Abdul Azis Diyar (Ketua PB LP Maa’rif) dan lainnya.


Rektor Pertama Kiai Idham

Setelah berdiri, posisi rektor dipegang Dr KH Idham Chalid (periode 1958-1975), didampingi KRM Dimyati Al Karim sebagai dekan. Untuk sekretaris dipercayakan kepada KH Mochtar Rosjadi, TU dipegang H Mustahal Ahmad BA, Bagian Pengajaran S Mulyono dan Bagian Keuangan, A Sarnadi.

Estafet posisi rektor kemudian dilanjutkan Prof RHA Soenarjo SH (1975-1992), KH Abdul Wahab Shiddiq Lc (Ketua STAINU Surakarta periode 1994-2000), KH Mahfudh Ridwan MA (Rektor UNU periode 2000-2010), dan Dr H Ahmad Mufrod Teguh Mulyo (2010 - sekarang).

Sedangkan untuk fakultas yang pertama kali dibuka yakni Kulliyatul Qadha (Fakultas Hukum Islam). Sejumlah ulama besar ikut mengabdikan diri untuk menjadi pengajar, di antaranya Seperti KH Abdul Wahab, DR KH Idham Chalid, KH Anwar Musadad, Mr Imron Rosjadi, Mr RA Soenarjo, KH Mochtar Rosjadi, KRM Al Karim, dan lain sebagainya.

Hj Aminatun Imam Syuhuri, salah satu mahasiswi kulliyatul qadha PTI-NU Surakarta di periode awal, ia mengenang ketika itu lokasi kampus masih terletak di sebelah Masjid Tegalsari Laweyan Surakarta.

“Dulu gedung kuliah di Madrasah Asasut Ta’mir (sekarang SD Ta’mirul Islam, pen) di sebelah Masjid Tegalsari,” kenang Hj Aminatun, yang kemudian juga menjadi pengajar di UNU Surakarta.

Aminatun sendiri, merupakan satu dari sedikit perempuan yang di masa tersebut berkesempatan untuk mengenyam bangku kuliah. Dari sebuah foto Dies Natalis (Harlah) ke-III PTI-NU Surakarta, 2 Oktober 1961, hanya terdapat 7 perempuan yang ikut berfoto bersama puluhan mahasiswa lainnya.

Sedangkan nama-nama mahasiswa di periode awal, antara lain KH Mahdi Salam, KH Ma’mun Muhammad Murai, KH Irfan Zidni, KH Nuril Huda, H M Laily Mansur. Dua nama terakhir merupakan tokoh pendiri PMII.

Dalam perkembangannya, tahun 1961, nama perguruan tinggi ini pun diubah. Yakni, dari PTI-NU menjadi Universitas Nahdhatul Ulama (UNU) Surakarta, kemudian berubah menjadi Institut Agama Islam Nahdhatul Ulama (IAINU) Surakarta. Tahun 1991, nama kembali berubah menjadi STAINU Surakarta, dan terakhir pada tahun 2000 berubah menjadi UNU Surakarta yang bertahan hingga sekarang. (Ajie Najmuddin)

Sumber :
1. Buku wisuda UNU Surakarta
2. Wawancara Ibu Hj. Aminatun, 11 Mei 2015, di Sondakan, Laweyan, Surakarta.
3. Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, LKiS (2013)