::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Budi Pekerti Penting Diintegrasikan dalam Kurikulum Pendidikan

Kamis, 03 Mei 2018 07:30 Daerah

Bagikan

Budi Pekerti Penting Diintegrasikan dalam Kurikulum Pendidikan
Kongkow Reboan PCNU Jakut (2/5)
Jakarta, NU Online
Belakangan ini muncul gejala penurunan kualitas dalam dunia pendidikan. Ha itu ditandai di antaranya dengan munculnya pola pikir pelajar yang cenderung apatis dalam pergaulan baik di sekolah maupun lingkungan keluarga. Selain itu, paham-paham seperti radikalisme dan fundamentalisme mulai timbul dan menguat di lingkungan pelajar belahan dunia, termasuk Indonesia. 

Pendidikan akhlak, budi pekerti, dan nilai-nilai sosial dan agama merupakan jalan keluar untuk memecahkan persoalan tersebut. Nilai pemahaman akhlak dan budi pekerti serta agama yang kurang baik dari lingkungan atau keluarga, menimbulkan masalah baru. Tak jarang kegaduhan di lingkungan sekolah terjadi.

Di media sosial dan elektronik ditampilkan kejadian guru memukul siswa dan sebaliknya. Atau orang tua siswa melaporkan tindakan guru kepada pihak berwajib. Hal itu menjadi perbedaan pendidikan pada era sebelum tahun 2000 dengan pendidikan zaman sekarang.

Menurut Kiai Hafizhin, Rais Syuriyah PCNU Jakarta Utara, kasus-kasus seperti itu di Indonesia pada umumnya didominasi oleh pemahaman yang berbeda di antara wali murid, guru, siswa, dan komite sekolah. "Akibatnya gejala saling lapor antara pihak sekolah, dan orang tua berimbas pada proses kegiatan belajar mengajar (KBM), di sekolah tersebut," ungkapnya dalam Kongkow  Reboan di Kantor PCNU Jakarta Utara, Rabu (2/5/).

Para pihak tersebut mestinya membangun komunikasi yang baik dengan semua pihak terkait dalam dunia pendidikan.

Pria yang juga dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memaparkan pada masa ia bersekolah SD, SMP, dan pesantren ada siswa yang dicubit, jewer telinga hingga terkadang tangan dipukul menggunakan papan penggaris. Namun, hal itu tidak direspons dengan kemarahan orang tua, apalagi sampai melaporkan guru kepada polisi, karena semua pihak menyadari bahwa cara itu adalah untuk mendisiplinkan siswa.

Fenomena di atas menjadi perbedaan yang sangat mencolok di dunia pendidikan dahulu dan sekarang. Oleh karenan itu, menurutnya penanaman nilai agama, budi pekerti harus diajarkan sejak dini dan berkelanjutan kepada anak-anak dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Pelajaran budi pekerti, jelas dia, harus diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan atau setiap mata pelajaran agama dan budaya. "Sehingga sikap hormat pada orang tua serta guru tertanam kokoh dan menyatu dalam jiwa setiap siswa," pungkasnya. (Akmal/Kendi Setiawan)