NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Hubbud Dunia Tertancap di Hati Menurut Ibnu Athaillah

Jumat, 04 Mei 2018 19:30 Tasawuf/Akhlak

Bagikan

Ketika Hubbud Dunia Tertancap di Hati Menurut Ibnu Athaillah
(Foto: ss.lv)
Hati adalah salah satu ruang penting dalam kehidupan manusia. Bahkan fungsi ruang ini sangat menentukan warna hidup keseharian mereka. Pertikaian atau peperangan antarnegara, antarakelompok, atau antarfaksi politik berangkat dari keruhnya hati manusia yang penuh dengan dunia.

Pentingnya ruang ini digambarkan oleh Syekh Ibnu Athaillah. Menurutnya, ruang ini dibersihkan sedapat mungkin dari hubbud dunia yang mengantarkan manusia ke aneka jalan celaka.

تمكن حلاوة الهوى من القلب هو الداء العضال

Artinya, “Kedudukan kenikmatan hawa nafsu di hati adalah penyakit kronis.”

Hati adalah ruang kosong yang bisa diisi apa saja. Tetapi orang beriman sebaiknya mewarnai hati dengan keimanan, makrifat, dan keyakinan. Hal ini disampaikan oleh Syekh Ibnu Abbad dalam Ghayatul Mawahibil Aliyah fi Syarhil Hikam Al-Athaiyyah yang kami kutip berikut ini:

القلب محل الإيمان والمعرفة واليقين

Artinya, “Hati adalah tempat keimanan, makrifat, dan keyakinan,” (Lihat Syekh Ibnu Abbad, Ghayatul Mawahibil Aliyah fi Syarhil Hikam Al-Athaiyyah, [Semarang, Thaha Putra: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 35).

Hanya saja ketika hati telah mengalami penyakit kronis berupa hubbud dunia, maka keimanan, makrifat, dan keyakinan tidak mendapat tempat di dalamnya. Bahkan semua itu tidak bisa memulihkan hati yang menderita sakit hubbud dunia itu sebagai keterangan Syekh Syarqawi berikut ini:

تمكن حلاوة الهوى) الهوى ميل النفس والمراد به المهوي وهو الشهوات أي تمكن حب شهوات الدنيا (من القلب هو الداء العضال) أي الذي لا تنفع فيه الحيل والأسباب والأدوية كالإيمان والمعرفة فإن الداء إذا تمكن من القلب لم يبق للدواء محل فلذا أعضل أمره وتعذر برؤه فلا يفيد فيه إلا وارد إلهي

Artinya, “(Kedudukan kenikmatan hawa nafsu) hawa adalah kecenderungan nafsu. Kecenderungan yang dimaksud adalah sesuatu yang diinginkan. Itu tidak lain adalah syahwat. Dengan kata lain, kedudukan hubbud dunia yang menggiurkan (di hati adalah penyakit kronis) yang mana segala upaya, sebab, dan aneka “obat” baik itu iman maupun makrifat, tidak bermanfaat. Pasalnya, ketika penyakit tertancap kuat di hati, maka tiada lagi tempat bagi obat di dalamnya dan karenanya penyakit menjadi kronis dan sulit sembuh. Dalam kondisi seperti ini, apapun tidak akan bermanfaat kecuali pertolongan ilahi (apapun bentuknya),” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Semarang, Thaha Putra: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 35).

Orang yang batinnya mengalami sakit kronis akan tenggelam dalam hubbud dunia. Ia tidak pernah puas dengan apapun di dunia ini. Bahayanya, orang yang tengah mabuk dunia ini akan mengejar bayang-bayang dunia dengan jalan kehinaan dan jalan yang merusak sekalipun. Satu orang yang mengalami sakit  kronis ini berdampak pada dunia yang luas.

Nasihat apapun tidak akan menyadarkannya. Hanya kondisi khas yang mencekam dan menakutkan orang ini dapat mengembalikannya ke jalan Allah. Hal lain yang memaksanya pulang ke jalan Allah adalah suasana tertentu yang membuatnya rindu kepada-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)