::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kreativitas dan Inovasi, Kunci Sukses NU dalam Berdakwah

Senin, 07 Mei 2018 14:00 Daerah

Bagikan

Kreativitas dan Inovasi, Kunci Sukses NU dalam Berdakwah
Peserta Lakut PW IPNU Jabar di Cirebon
Cirebon, NU Online
Kreativitas dan inovasi merupakan cara untuk mencapai kesuksesan, keduanya telah dilakukan Nahdlatul Ulama (NU) dalam rangka menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja) An-Nahdliyah di Indonesia. 

Demikian diungkapkan Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon KH Abdul Hayyi saat memberikan materi keaswajaan dalam Latihan Kader Utama (Lakut) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar NU (IPNU) Jawa Barat, di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Sabtu (5/5) malam.

"Orang yang ingin sukses itu harus kreatif dan melakukan inovasi. Dalam berdakwah pun, NU senantiasa melakukan kedua hal itu. Namun tidak melupakan atau meninggalkan tradisi lama yang baik. Itulah yang disebut Al-Muhafadzhotu ala qodimissholih wal akhdzu bil jadidil ashlah," katanya. 

Tradisi tahlilan itu adalah salah satu bentuk kreativitas dan inovasi yang dilakukan NU dalam berdakwah. Sebab, NU selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Aswaja An-Nahdliyah. Sehingga hingga kini, NU mampu terus berkembang dan bertahan di tengah perkembangan zaman.

"Sekarang-sekarang ini, banyak yang mengaku sebagai kelompok Aswaja. Tapi jelas berbeda dengan NU. Makanya, sebagai warga NU kita harus menambahkan satu kata di belakang, yaitu An-Nahdliyah. Aswaja An-Nahdliyah itu berdiri di atas prinsip tasamuh (toleran), tawazzun (netral), tawassuth (moderat), dan i'tidal (adil) yang tidak dimiliki kelompok yang mengaku sebagai Aswaja itu," ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon ini.

Kiai humoris ini mengatakan bahwa nahdliyin harus toleran. Tidak mudah mengklaim kebenaran dan menuduh salah orang atau kelompok lain yang berbeda. Sehingga mampu bersikap netral dalam segala hal. Tidak ekstrem ke kiri atau pun ke kanan. 

"Kemudian juga kita harus adil dalam bertindak. Tidak mengeluarkan dalil untuk kepentingan kelompok atau bahkan kepentingan politik. Kita harus proporsional menempatkan segala sesuatu," pungkasnya. (Aru Elgete/Muiz