::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Perbedaan Pendapat Jangan Sebabkan Retaknya Persatuan

Selasa, 08 Mei 2018 23:00 Daerah

Bagikan

Perbedaan Pendapat Jangan Sebabkan Retaknya Persatuan
KH Adam Malik Azzuhri
Bekasi, NU Online 
Perbedaan pendapat dalam tafsir dan pandangan terhadap sesuatu merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Hal itu tidak semestinya menjadi penyebab retak dan hancurnya kebersamaan dan persatuan. 

Demikian dikatakan Wakil Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Cabang Nahdlatul Kota Bekasi KH Adam Malik Azzuhri, kepada NU Online, Selasa (8/5).

"Dalam beragama dan bermasyarakat, dibutuhkan setiap kita untuk berpikir dewasa dan bijak dalam bersikap, serta arif dalam bertindak. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain dan tetap memiliki prinsip-prinsip dalam mempertahankan keyakinan dengan tetap memegang kaidah yang baik dan benar," katanya.

Justru seharusnya, lanjut Kiai Adam, perbedaan itu menunjukkan dinamika, kreativitas, serta produktivitas berpikir telah berjalan dan berfungsi sebagaimana mestinya. 

Ia mengimbau umat Islam, khususnya Nahdliyin, dalam menghadapi dinamika itu sikap yang harus dikedepankan adalah merasa terus termotivasi untuk bersaing secara sehat (fastabiqul khoirat).

"Baik bersaing, berlomba dalam pemikiran, maupun karya, tidak saling meremehkan apalagi menjatuhkan. Selanjutnya kita bisa lihat dan rasakan di antara kita, siapa yang bisa berlomba dan bersaing secara sehat dalam menuangkan ide, gagasan, saran, masukan, dan kritikan secara beradab dan konstruktif," katanya. 

Kiai ini menganjurkan agar perbedaan yang ada justru menjadikan seseorang sombong dan menang, kemudian merasa mampu menjatuhkan lawan hingga hilang keseimbangan diri.Sehingga sikap tawadhu hilang, dan muncul keangkuhan. 

"Seperti itulah sikap kegagalan dalam kedewasaan membawa diri. Sikap seperti itu jangankan di hadapan Tuhan, di depan manusia pun secara umum hampir bisa dipastikan tidak simpatik terhadap sikap tersebut," ucap kiai yang memiliki rambut gondrong ini.

Kunci yang harus dipegang dan diamalkan, menurutnya, adalah membangun diri dengan Akhlakul Karimah. Yakni membuang jauh-jauh sifat ingin menang sendiri, terlebih merasa paling benar dan menganggap orang lain salah.

"Dan yang harus kita sadari bahwa setiap kita tidak pernah tahu derajat kita di sisi Allah. Sehingga tidak layaklah kita menempatkan diri lebih baik dari orang lain. Apalagi sampai merendahkan orang lain," pungkasnya. (Aru Elgete/Abdullah Alawi)