::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Beda Identitas Bukan untuk Intoleransi

Kamis, 10 Mei 2018 03:00 Pustaka

Bagikan

Beda Identitas Bukan untuk Intoleransi
Bapak Taipei mama Indramyu 
Dia sendiri mirip gadis Turki 
Mengaku lahir di Los Angeles

Potongan syair di atas merupakan lirik lagu berjudul Mucikari karya Doel Sumbang. Syair itu merupakan tren zaman globalisasi yang meniscayakan orang bertemu, berkomunikasi dengan orang tanpa batas negara semudah membalikkan tangan. Beragam media siap memfasilitasinya. Kata orang, dunia makin sempit, sehingga pernikahan antarbangsa dan antarnegara mudah terjadi. Hasil pernikahan tersebut menyebabkan anaknya memiliki identitas yang terpecah, terfragmentaris. Hasil pernikahan orang Indramyu dan Taipei melahirkan anaknya di Los Angeles itu melahirkan gadis berparas Turki. 

Anak itu akan merujuk suku bangsa mana? Ibunyakah (Sunda)? Ayahnyakah (Tionghoa). Atau tak memiliki identitas? Karena itulah sebagian kalangan ada yang menyatakan identitas adalah sesuatu yang terus berubah dan terus berubah. Bahkan jenis kelamin. Tak sedikit orang yang berubah dari pria menjadi wanita. Bahkan sebaliknya. Ini merupakan konsekuensi dari teknologi yang terus berkembang. 

Terlepas dari itu semua, fakta yang tak bisa dibantah adalah identitas itu demikian banyaknya. Mungkin sebanyak manusia itu sendiri. Cuma di antara mereka ada yang beririsan dengan identitas orang lain, semisal sama satu bangsa, satu bahasa, satu negara, satu agama, dan yang lainnya. 

Tentang ragam identitas tersebut, Allah berfirman dalam Al-Qur’an. 

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13).

Namun, fakta yang tak bisa dibantah juga, karena perbedaan identitas itu ada pihak yang tergoda, dalam kadar ekstrem memusnahkan identitas yang lain dengan genoside misalnya. Dalam bentuk terkecil adalah pengucilan. 

Di Indonesia, negara dengan 17000 pulau, 300 lebih suku bangsa dan 210 juta penduduk, penyingkiran dan pengucilan atas satu identitas terhadap identitas lain sangat berpotensi terjadi. Bukan potensi lagi, tapi kerap terjadi. Terutama kalangan minoritas. Tak sedikit warga yang mengalami intoleransi oleh sesama warga atau bahkan pemerintah. 

Pengalaman mendapatkan intoleransi terdokumentasi pada Antologi Kisah Orang Muda Untuk Perdamaian. Buku ini merupakan kisah nyata dari 12 anak muda di tiga daerah yaitu Cirebon, Tasikmalaya, dan Sukabumi. Ke-12 anak muda itu tentu saja memiliki latar belakang berbeda, ada yang Syi’ah, Ahmadiyah, Ahlussunah. Ada juga yang berpindah identitas dari agama Islam ke Katolik. 

Mereka yang minoritas mengalami intoleransi sejak kecil yang menyisakan trauma di masa dewasanya. Seperti yang dialami Sida (hal 114-123). Di buku ini, tentang Sida diberi judul Ingatan-Ingatan Sida. Kisahnya dimulai dengan ingatan masa kecilnya. Tiada lain adalah ingatan tentang kecemasan. Pada 2007 misalnya, ia melihat sekelompok orang menyerang masjidnya. Peristiwa itu kemudian menjadi jalan pembuka bagi teman-temannya di SD untuk bertanya. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu pun membuat Sida tertekan. Hingga kemudian, ia menyadari identitasnya tidak diterima teman-temannya. 

Anak muda yang seidentitas dengan dia, Aulia, di Kuningan, juga mengalami hal serupa pada kisah Kampung Tanpa KTP (hal 48-57). Ia lebih berat lagi kadarnya. Tak diterima identitasnya oleh pemerintah. Orang sekampungnya, yang identitasnya sama, tidak mendapatkan hak atas KTP elektronik. Karena benda itu adalah dasar pegangan tiap warga, akibatnya orang sekampung itu tak bisa mendapatkan akses lain semisal rekening bank, BPJS, dan lain-lain.

Di sisi lain, buku ini juga menampilkan anak muda dari kalangan mayoritas melakukan inisiatif-inisiatif pengikisan intoleransi, dan menampilkan bahwa agamanya tidak mengajarkan sikap seperti itu, misalnya Ahmad Hadid di Cirebon. Ia ingin mengubah citra Islam agama teroris. Islam agama perdamaian. 

Islam menurut saya tidak melakukan kekerasan. Islam itu rahmatan lil alamin. Ya, saya tidak mau agama saya dicap begitu. Saya ingin membuktikan agama agama ‘Islam itu teroris’ salah!

Hadid yang masih berstatus mahasiswa jurusan matematika di Cirebon itu kebetulan senang dengan pemrograman. Ia mengupayakan aplikasi android game toleransi. Anak muda lain, Neneng, menyampaikan toleransi melalui seni. Gugun melalui profesinya sebagai guru dan lain-lain. 

Buku ini cocok untuk dibaca anak muda lain sebagai bahan refleksi dan perbandingan. Sebagai cermin, untuk lebih peka dengan tidak turut melakukan intoleransi, tapi justru toleran. Buku ini ditulis dengan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dipahami. Disusun secara berkisah. Tak hanya itu, buku ini juga dikemas dengan gaya anak muda sekali, ada warna-warna ngejreng. Huruf-hurufnya nyaman di mata. Diawali quote dengan huruf-huruf besar. Serta gambar-gambar ilustrasi dengan kartun.    

Data buku 
Judul Buku : Antologi Kisah Orang Muda untuk Perdamaian
Penulis       : Fatimah Zahrah & M. Ahsan Ridhoi
Penerbit     : Wahid Foundation
Cetakan     : Pertama, 2017
ISBN           : 978-602-7891-06-7
Peresensi :  Abdullah Alawi