NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Ishom: Teroris Bukan Mujahid yang Perlu Dibela

Senin, 14 Mei 2018 10:30 Nasional

Bagikan

Gus Ishom: Teroris Bukan Mujahid yang Perlu Dibela
KH Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriyah PBNU
Bandarlampung, NU Online
Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin (Gus Ishom) menegaskan bahwa tindakan teror selalu dilakukan oleh mereka yang berpikiran buruk, jahat, dan biadab. Demikian pula mereka yang menyetujui serta menaruh simpati kepada para teroris pada hakikatnya juga para penjahat. Sebaliknya, mereka yang berani mengecam atau melawannya adalah manusia yang mulia.

“Tidak ada satu aturan agama pun yang menyerukan untuk memulai perang atau melakukan teror terhadap pihak lain, bahkan saat pihak lain itu berbeda identitas, seperti berbeda keyakinan atau berbeda agama. Jika pun keyakinan para teroris itu melakukan tindakan terornya dengan bom bunuh diri atau lainnya sebagai jihad dalam arti perang, sungguh itu hanyalah alasan yang keliru, sama sekali tidak bisa dibela apalagi dibenarkan,” tegasnya.

Meskipun penebar teror beralasan atas nama  agama seperti merasa berjihad sebenarnya mereka adalah pihak yang buruk, jahat, biadab. Para pembelanya juga sama seperti mereka yakni tidak menghargai nyawa mànusia dan tergolong manusia yang menyombongkan diri dan melampaui batas.  

“Tidak ada alasan yang bisa dibenarkan untuk membela mereka,” tegasnya melalui pernyataan tertulis kepada NU Online, Senin (14/5).

Dalam perspektif fikih Islam lanjutnya, empat madzhab fikih berabad-abad lalu sudah menyatakan bahwa  alasan dibolehkannya perang hanyalah ketika terjadi penyerangan, permusuhan dan peperangan, bukan kekafiran dan bukan karena perbedaan agama. Sehingga tidak boleh ada yang disakiti, dilukai atau dibunuh karena ia tidak beragama Islam.

“Jadi, para teroris yang menyerang non Muslim dengan melakukan bom bunuh diri di beberapa gereja sehingga mengakibatkan banyak korban itu telah melanggar ajaran Islam, tidak sah disebut sebagai jihad dan tidak patut disebut sebagai mujahid yang mati syahid,” pungkasnya. (Red: Muhammad Faizin)