::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sang Putra Ungkap Kepribadian Ki Enthus Susmono

Selasa, 15 Mei 2018 16:31 Nasional

Bagikan

Sang Putra Ungkap Kepribadian Ki Enthus Susmono
Ki Enthus Susmono (detikcom)
Tegal, NU Online
Putra bungsu dalang kondang Ki Enthus Susmono, Firman Haryo Susilo mengisahkan, almarhum Enthus Susmono merupakan seorang pekerja keras, pribadi pembelajar, dan orang yang kepo, selalu ingin tahu. Selama hidupnya bekerja tanpa mengenal waktu, lelah, dan tidak pernah sakit ataupun mengeluh sama sekali

“Kalau mengeluh capek iya, biasanya Abah cuma minum obat terus tidur kemudian bangun sudah guyonan lagi,” ungkapnya yang keluarga saat penghormatan terakhir dan pelepasan Jenazah almarhum di Pendopo Amangkurat Pemkab Tegal, Selasa (15/5).

Menurut Firman Haryo, sejak menjadi dalang sampai sekarang menjadi bupati, almarhum selalu bekerja tidak mengenal lelah dan terus belajar mengaji. Bahkan Firman mengaku iri terhadap semangat belajar ayahnya.


Jenazah Ki Enthus Susmono sebelum dikebumikan. (Foto: Istimewa)

Terlebih sampai detik akhir usia hidupnya, almarhum tidak merasa capai untuk belajar hingga menghasilkan karya-karya luar biasa dan berbagai prestasi.

“Saya yang muda merasa iri dengan Abah. Beliau seniman yang terus belajar serta rajin mengaji. Saya tidak bisa seperti itu, bahkan saat SMA saya mbedud (bandel) dan sering bolos. Ketika saya melihat Abah mengaji dan belajar tentang pemerintahan, mencatat pakai tulisan tangan bukan ketikan, itu yang memotivasi saya untuk terus belajar,” terangnya.

Sembari terisak Firman mengatakan, sebenarnya masih banyak capaian yang ingin dipertahankan dan diraih. Antara lain pengentasan kemiskinan, penurunan angka pengangguran, memperbanyak pemugaran rumah tidak layak huni, dan jambanisasi.

“Saya atas nama keluarga mohon maaf sebesar-besarnya dan sedalam-dalamnya segala kesalahan Abah selama menjabat maupun sebelum menjabat bupati. Semua kejelekan almarhum mohon dimaafkan, Terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Tegal, semoga pengabdiannya selama lima tahun bisa mengantarkan Abah ke surga dan berdampingan dengan Rosululloh SAW,” harapnya. 

Pantauan NU Online, ribuan pelayat turut mengantarkan jenazah almarhum. Dari masyarakat, warga NU, Ansor, Banser, ulama, kiai, seniman, budayawan, pejabat hingga politisi.

Dari Pendopo Amangkurat Pemkab Tegal, selanjutnya jenazah almarhum disholatkan di Masjid Agung Kabupaten Tegal. Untuk selanjutnya dimakamkan di Rumah Duka Sanggar Satria Laras di Desa Bengle Kecamatan Talang Kabupaten Tegal. (Nurkhasan/Fathoni)