::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Upaya Mengamputasi Pangkal Terorisme

Rabu, 16 Mei 2018 12:30 Nasional

Bagikan

Upaya Mengamputasi Pangkal Terorisme
Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid
Dalam beberapa hari terakhir Indonesia mengalami guncangan berat akibat serangkain serangan bom bunuh diri di Surabaya dan sebuah ledakan bom di Sidoarjo Jawa Timur. Jika benar tujuan dari teror ini adalah untuk melahirkan kegelisahan di tengah masyarakat, maka aksi ini bisa dibilang 'sedikit' berhasil. Pasalnya kejadian ini memang melahirkan kegelisahan yang cukup mewabah. Kita harus mengakui itu.

Namun, kejadian itu tidak lantas membuat masyarakat panik hingga kehilangan akal sehat. Sebaliknya, sebagian besar tetap berkepala dingin dan berupaya menemukan solusi atas situasi ini. Salah satunya seperti yang diperlihatkan oleh Wahid Foundation melalui sebuah diskusi yang digelar di Griya Gus Dur di Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat sehari setelah pemboman Polrestabes Surabaya.

Sejatinya, diskusi ini sendiri sebenarnya merupakan sebuah pesan positif yang dikirimkan Wahid Foundation kepada masyarakat luas. Pesan itu berbunyi ‘keadaan di Indonesia telah membaik’. Bahkan, melalui diskusi tersebut, Wahid Foundation mencoba mencari jalan keluar dan menemukan 'cara untuk mengatasi terorisme' ini sesegera mungkin.

Dalam diskusi itu Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid memaparkan asal-usul paham terorisme. Terorisme, kata dia, lahir dari sebuah 'tahapan' yang diawali intoleransi, melahirkan radikalisme dan berujung pada terorisme. 

"Intoleransi adalah 'pintu gerbang'. Maka semakin tinggi intoleransi di satu tempat, bisa dipastikan tinggi pula kemungkinan lahirnya radikalisme dan terorisme," ujar Yenny Wahid di tengah diskusi terorisme bertajuk Setelah Mako Brimob dan Bom Surabaya di Griya Gus Dur, Jakarta Pusat, Selasa (15/5). Ia mengatakan, ketiga hal ini merupakan sebuah rangkaian proses. Singkatnya, kata dia, cara mengatasi terorisme dan radikalisme adalah dengan membasmi intoleransi terlebih dahulu.

Tingginya intoleransi, lanjut Yenny, mendapat angin segar dari kebebasan berpendapat yang difasilitasi era media sosial saat ini, di mana setiap orang dapat mencari dan bahkan memproduksi informasi dengan leluasa.

Di saat yang bersamaan, lanjutnya, keadaan ini dimanfaatkan secara sengaja oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan ujaran kebencian terutama melalui media sosial. Ditambah lagi dengan rendahnya upaya verifikasi berita, membuat fitnah semakin mudah menyebar.

“Sekarang ada fenomena di mana kebenaran informasi tidak lagi penting. Asalkan kontennya simpel, menarik, dan tersebar secara sistematis, berita itu dikonsumsi. Perkara berita itu fitnah, tidak lagi dipermasalahkan,” tuturnya.

Senada, Peneliti Senior Wahid Foundation Alamsyah M Djakfar dalam tulisannya Peta Jalan Mengatasi Intoleransi (Kompas, 2018) mengungkapkan bahwa muara intoleransi adalah ketidaksukaan. Ketidaksukaan yang tidak ditangani dengan baik pada akhirnya melahirkan kebencian dan mengkristal menjadi tindakan intoleransi.

Jika dilihat dari hasil Laporan Survey Nasional Wahid Foundation tentang Potensi Radikalisme Sosial Keagamaan dan Intoleransi tahun 2016 mengenai ketidaksukaan, kita patut menigkatkan rasa waspada. Pasalnya sebanyak 59,9 persen responden (yang diasumsikan mewakili penduduk Indonesia secara keseluruhan) memiliki kelompok yang tidak disukai.

Dalam artikel itu pula Alamsyah menulis bahwa ketidaksukaan berasal dari informasi yang diterima seseorang. “Tantangannya apa yang disukai dan tidak disukai sering kali dibentuk oleh informasi, termasuk media sosial. Maka upaya upaya mengatasi intoleransi juga harus dimulai dari sini,” tulis Alamsyah.

Mengatasi Radikalisme adalah Tugas Bersama

Namun demikian Yenny menilai, upaya membasmi terorisme hingga ke akar-akarnya tak bisa dilakukan oleh pemerintah sendirian tanpa keterlibatan elemen lain. Justeru, peran masyarakat dalam hal ini merupakan kunci bagi kesuksesan pembasmian terorisme. Ia mendorong adanya peningkatan dukungan dan partisipasi masyarakat sipil, seperti ormas keagamaan, Non Government Organization, komunitas lokal, dan komunitas lain seperti sektor swasta.

Lebih spesifik Yenny mengatakan bahwa masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama dalam upaya pencegahan berkembangnya kebencian yang beredar di tengah masyarakat. "Pemerintah dan masyarakat harus serius dalam upaya mengurangi peredaran materi-materi berisi kebencian," terangnya. (Ahmad Rozali)