::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Inna lillahi, dalam 7 Hari NU Ditinggal 5 Tokohnya

Kamis, 17 Mei 2018 20:54 Nasional

Bagikan

Inna lillahi, dalam 7 Hari NU Ditinggal 5 Tokohnya
Jakarta, NU Online 
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, kabar duka menyelimuti Nahdlatul Ulama dalam waktu 7 hari ini. Sebanyak lima tokoh populer NU meninggal dunia.  

Secara beruntun NU ditinggal KH Sholeh Qosim (Sidoarjo) pada (10/5), KH Amin Chamid (Magelang) pada Kamis (10/5), dalang Ki Enthus Susmono (Tegal) pada Senin (14/5), KH Bukhori Masruri (Semarang) dan KH Maghfur Utsman pada Rabu (17/5). 

1. KH Sholeh Qosim (Sidoarjo), seorang laskar Sabilillah yang turut bertempur pada peristiwa 10 November di Surabaya, penasihat Masjid Agung Sunan Ampel dan JATMAN Wustho Jatim (banom tarekat NU)
2. KH Amin Chamid (Magelang), Penasihat Majelis Dzikir Rijalul Ansor
3. Dalang Ki Enthus Susmono (Tegal), pernah Satkorcab Banser Tegal, Wakil Ketua Lesbumi PBNU
4. KH Bukhori Masruri (Semarang) seorang penceramah dan pencipta lagu-lagu Nasida Ria, Ketua PWNU Jawa Tengah 1985-1995.
5. KH Maghfur Utsman, Pengasuh Pondok Pesantren As-Salam Cepu, Mustasyar PBNU 2010-2015
Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar ketika diminta pendapat atas wafatnya kiai, mengatakan, meninggalnya para kiai merupakan kesedihan yang luar biasa. 

Menurut dia, meninggal seorang alim ibarat retaknya sebuah bangunan yang sempurna. Keretakan itu tidak akan pernah tersempurnakan lagi karena seorang alim tersebut membawa pergi ilmu, kelebihan, kebijaksanaannya, dan lainnya. 

Karena, sambungnya, ketika seorang alim wafat, yang ditinggalkannya paling juga hanya 10 persen. Sementara sisanya terbawa dengan sendirinya. 

Namun demikian, ia mengajak untuk meneladani sifat-sifat baik mereka dan berusaha menumbuhkan kembali semangat para kiai tersebut. 

Allahummaghfirlahum warhamhum wa 'afihim wa'fu 'anhum wa akrim nuzulahum wawassi' madkhalahum waj'alil jannata matswahum. Al-Fatihah… (Abdullah Alawi)