::: NU: Kepastian awal Ramadhan akan diikhbarkan pada 15 Mei 2018 petang hari ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Diplomasi untuk Palestina: Fakta Tersembunyi

Jumat, 18 Mei 2018 09:00 Pustaka

Bagikan

Diplomasi untuk Palestina: Fakta Tersembunyi
Sejarah mencatat, Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia saat pertama kali diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 saat umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan puasa Ramadhan. Upaya bangsa Indonesia untuk mendapatkan dukungan negara-negara di dunia bukan tanpa upaya, karena para pendiri bangsa, terutama para kiai dari kalangan pesantren mengenal dan berhubungan baik negara-negara di Timur Tengah sebagai sesama negara mayoritas Muslim kala itu.

Memahami akar sejarah tersebut, bangsa Indonesia juga terus berusaha keras untuk membantu kemerdekaan rakyat Palestina yang hingga kini masih jauh panggang dari api. Diplomasi tiada henti dilakukan oleh pemerintah RI untuk menghentikan kebrutalan Israel yang di-backup penuh oleh Amerika Serikat dalam menduduki wilayah Palestina sebab setiap hari menimbulkan banyak korban.

Eskalasi konflik bersenjata tersebut semakin meningkat ketika Amerika Serikat yang kini sedang dipimpin oleh Donald Trump memindahkan kantor Kedutaan Besarnya ke Yerussalem. Itu artinya, Israel secara tidak langsung telah menguasai Al-Quds. Padahal, kota suci tersebut merupakan kediaman dari tiga bangsa, Islam, Nasrani, dan Yahudi itu sendiri. Artinya, Israel seharusnya tak saling mengkoloni, melainkan harus hidup berdampingan sebagai sebuah bangsa.

Tercatat, pemindahan kedutaan besar AS ke Yerussalem memunculkan protes dari rakyat Palestina di perbatasan jalur Gaza dan wilayah lain. Namun, protes tersebut ditanggapi dengan peluru Israel sehingga sekitar 58 rakyat sipil gugur. Bangsa Palestina, bukan hanya yang beragama Islam, tetapi juga yang beragama Nasrani dan Yahudi, kini sebagian besar wilayahnya diduduki oleh Israel. Dari konflik yang membara sejak 1930, sudah tidak terhitung lagi jumlah korban yang bergelimpangan sia-sia.

Medan konflik Palestina-Israel meluas ke sejumlah negara termasuk Indonesia. Namun, konflik yang muncul justru dianggap sebagai konflik agama sehingga memunculkan sentimen kaum beragama di dalam negeri. Bahkan kini dijadikan komoditi politik untuk menarik simpati sejumlah golongan dalam rangka meraih kekuasaan. Persoalan penyelewengan akar konflik Palestina inilah yang menjadi salah satu poin utama dalam buku Makarim Wibisono yang diberi judul Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Makarim merupakan salah seorang diplomat senior yang ditunjuk menjadi pelapor khusus untuk PBB dalam upaya mendapatkan informasi valid mengenai konflik Palestina-Israel. Informasi-informasi dari pelapor khusus tersebut dijadikan pertimbangan-pertimbangan dalam memutuskan kebijakan dua negara serumpun itu. Namun, informasi dan data lengkap yang fakta-fakta di lapangan yang didapatkan oleh Makarim Wibisono seolah hanya menjadi pelengkap report. Sebab hingga kini, PBB tidak berkutik menyelesaikan konflik yang telah merenggut banyak nyawa tersebut.

Setiap upaya pendudukan (baca: penjajahan) selalu memunculkan tragedi dan banyak korban dari kalangan sipil. Upaya pendudukan inilah yang dilakukan oleh pihak Israel sehingga mendapat perlawanan dari rakyat Palestina. Sehingga bukan hanya keliru, tetapi juga sangat salah jika seseorang atau kelompok mempunyai pretensi bahwa konflik Palestina-Israel adalah konflik Islam dan Yahudi. Mengapa sangat salah? Sebab bangsa dan negara Palestina tidak hanya terdiri dari umat Islam, tetapi juga umat Nasrani dan Yahudi. Bahkan, beberapa kali terjadi eskalasi konflik, tidak sedikit umat Yahudi di seluruh dunia mengecam kebrutalan Israel.

Artinya, umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia harus cerdas memahami akar konflik kedua negara tersebut, yakni politik pendudukan, bukan agama. Langkah ini dalam rangka mengurangi medan konflik dalam negeri untuk mencegah sentimen-sentimen umat beragama. Memahami akar konflik ini juga penting untuk tujuan menyamakan persepsi dan memperkuat visi bersama untuk membantu kemerdekaan rakyat Palestina secara de facto dan de jure.

Penjelasan di atas hanya salah satu poin untuk mengurai informasi dan data yang banyak diungkap Makarim Wibisono dalam bukunya itu. Buku ini bukan hanya penting sebagai catatan lengkap yang berisi fakta, informasi, dan data, tetapi juga sebagai input sekaligus instrumen diplomasi untuk rakyat Palestina yang hingga kini masih berjuang keras meraih kemerdekaannya. (Fathoni Ahmad)

Identitas buku
Judul: Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa
Penulis: Makarim Wibisono
Penerbit: LP3ES
Cetakan: Pertama, Mei 2017
Tebal: xxiv + 221
ISBN: 602798428-7