NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Adzan dan Tafsir Kemanusiaan

Ahad, 20 Mei 2018 04:30 Opini

Bagikan

Adzan dan Tafsir Kemanusiaan
Oleh Moh Wasik

Bukankah sudah menjadi nyata saat adzan dikumandangkan, bukan hanya suara manusia yang berkumandang di masjid, mushala, langgar, surau? Pangiilan Allah itu juga menjelma di telinga-telinga kaum Muslim. 

Adzan adalah penanda waktu shalat sudah tiba. Kita tahu shalat merupakan instruksi khusus dari Tuhan yang diperintahkan kepada mahlukn-Nya dengan mengundang langsung Rasul-Nya. Penanda masuknya shalat inilah juga memiliki makna dalam dan mulia.  Dalam kaidah fiqih sudah jelas wasilah menuju sesutu sama dengan hukum tujuannya atau mala yatimmul wajibu bihi fawuha wajibun.

Lalu apa makna adzan bagi kemanusiaan? Tentu tidak sebatas penanda masuknya shalat; tidak hanya ajakan mendirikan shalat.  Lebih jauh, adzan mengandung kalimat kemanusiaan. Dalam adzan kalimat pertama "Allahuakbar, allahuakbar." Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada yang lebih daripada kekuasaan-Nya. Sebaliknya manusia ini kecil dan lemah. Hanya Allah yang kuasa.

Jika demikian pantaskah manusia sombong, dengki, mengeksploitasi sifat kemanusiaan? Jika kalimat "Allahuakbar" menjadi kalimat takbir berbangsa dan bernegara tidak hanya terucap saat shalat saja maka dipastikan manusia akan hidup rukun dan tenteram di bawah kalimat takbir ini. 

"Asyhadu allah ila ha ilallah." Tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada yang pantas dan wajib disembah kecuali Allah SWT, Dzat Tunggal yang Maha Tunggal Pencipta alam semesta.  Kalimat persaksian ini merupakan manifestasi dari lailaha illallaah (tidak ada tuhan selain Allah), yang berarti lailaha illahua  laahua illahua , lailaha illa anta  laa anta illaanta, lailaha illa anaa laa Ana illa Ana. Tidak ada yang ada kecuali yang Ada. 

Implikasi kalimat tauhid ini tidak ada yang boleh mengatur kecuali Allah. Bebaskan dirimu dari siapa bahkan dari dirimu sendiri.  Hanya Allah yang mengatur kehidupan manusia. Penguasa, birokrasi, orang yang dzalim tidak boleh mengatur kebebasan kehendak hidup manusia. Sayyidina Umar ibn Khottob berkata, "Manusia diciptakan bebas sejak kelahirannya." Bagaimana mungkin manusia mengekang kebebasannya, apalagi menindas, mengeksploitasi kemanusiaan? Jelas hal ini vis a vis dengan kalimat tauhid.

Pada sisi lain makna tauhid "Ashadualla ilaa haillallah," persaksian tidak ada Tuhan dalam kehidupan kecuali lilla ta'ala. Menuhankan Tuhan (baca: Allah), bukan menuhankan jabatan, tahta, harta, popularitas, politik, kepentingan dan ego pribadi. Tuhan harus diletakkan sebagai skala prioritas. 

Lafaz adzan selanjutnya "Ashadualla ilaaa ha illallaah." Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Persaksian oral, hati, dan tindakan bahwa sosok Muhammad SAW adalah manusia mulia, agung dan bijaksana. Tergambar dalam Al-Qur'an sebagai suri tauladan yang menjadi anutan bersosial.

Keagungan dan kehebatannya tidak hanya mengundang para tokoh Muslim saja yang mengaguminya, sehingga menempatkan Nabi di berbagai literatur karyanya sebagai sosok pertama yang berhasil mencerahkan dan menciptakan peradaban. Tokoh non-Muslim dan tokoh Barat sekalipun kagum dan mengakui kehebatan dan keberhasilan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Kita lihat pengakuan Sir George Bernard Shaw; novelis, esais, orator Irlandia. Pengakuan Michael Hart, seorang guru besar astronomi,  fisika, sejarawan, sains. Juga pengakuan Keren Amstrong.

Tokoh-tokoh itu dalam beberapa tulisan mengakui kehebatan sosok kepemimpinan Rasulullah. Sifat Rasul yang penyabar, santun,  jujur,  bijaksana,  cerdas, adil, arif, humanis. Jika sifat-sifat ini diterapkan dalam kehidupan di muka bumi ini, dipastikan manusia hidup dalam kedamaian. 

"Hayya alaa sholaah."  Mari mendirikan shalat. Shalat dalam etimologi disebut doa. Terminologisnya aktivitas yang diawali dengan takbirotul ihram dan diakahiri dengan salam. Inti dari adzan mengajak manusia dengan serentak untuk mendirikan shalat. Kenapa shalat? Karena sudah jelas shalat memuat nilai-nilai kemanusiaan, mulai takbiratul ihram, i'tidal, rukuk,  sujud dan salam penuh muatan nilai kemanusiaan. Shalat adalah satu-satunya perintah Tuhan yang diperintahkan secara langsung berhadap-hadapan dengan Kanjeng Rosul melalui peristiwa Isra' Mi'raj. 

Yang terakhir, "Hayya alallfalah." (Mari menuju kemenangan). Kemenangan yang bagaimana? Kemenangan melawan egosentrisme pribadi yang ingin menindas, mengeksploitasi, sombong, menang sendiri, tirani, menyalahkan kelompok lain dan membenarkan kelompok sendiri. Kemengan seperti Islam pada masa Rasul memimpin penuh rahman yang menebarkan cinta kasih sesama. 

Sebagai catatan akhir tulisan sedikit mengulang sejarah azdan. Adzan disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah, di mana Rasulullah mengumpulkan para sahabat untuk menentukan masuknya shalat. Ada yang mengusulkan dengan terompet, tapi hal ini ditolak karena menyerupai kaum Yahudi. Ada sahabat yang mengusulkan membunyikan lonceng, hal ini juga ditolak karena sama dengan kaum Nasrani. 

Lalu Umar Ibn Khattab mengusulkan agar ditunjuk seseorang sebagai pemanggil kaum Muslim untuk shalat saat waktu shalat tiba. Usulan inilah yang diterima Nabi. Sedangkan kalimat adzan sebagaimana yang dilafalkan sampai detik ini adalah hasil mimpi dari sahabat Abdullah bin Zaid.

Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid berkata sebagai berikut: "Ketika cara memanggil kaum Muslimin untuk shalat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual lonceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja. Orang tersebut malah bertanya, 'Untuk apa?' Aku menjawabnya, bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum Muslim untuk menunaikan shalat.

Orang itu berkata lagi, "Maukah kau kuajari cara yang lebih baik?" Dan aku menjawab "Ya!" Lalu dia berkata lagi dan kali ini dengan suara yang amat lantang:

Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya 'alash sholah hayya 'alash sholah 
Hayya 'alal falah hayya 'alal falah 
Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallah.
Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Nabi Muhammad.SAW. dan menceritakan perihal mimpi itu kepadanya. Kemudian Nabi Muhammad SAW berkata, "Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang." Lalu aku pun melakukan hal itu bersama Bilal. Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar ia juga menceritakannya kepada Nabi Muhammad SAW. 

Terlepas dari faktor historis yang melatarbelakanginya, adzan memiliki makna filosofis kemanusiaan yang sangat dalam. Semestinya kita ejewantahkan dalam kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Tidak hanya instrumen penanda masuknya shalat, tapi instrumen pelekat sosial kemasyarakatan. 

Wallahu a'lam bish shawab.

Penulis adalah Ketua BEM I IAIN Jember dan Koordinator Keilmuan PMII Komisariat IAIN Jember.