::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Membangkitkan Kembali Spirit Nasionalisme yang Rapuh

Senin, 21 Mei 2018 13:30 Opini

Bagikan

Membangkitkan Kembali Spirit Nasionalisme yang Rapuh
Ilustrasi (ist)
Oleh Al-Zastrouw Ngatawi

Tanggal 20 Mei kemarin merupakan hari yang menumental  bagi bangsa Indinesia, karena merupakan Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan hari Kebangkitan Nasional  adalah tonggak sejarah bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan dan kesadaran sebagai sebuah bangsa untuk memajukan diri melalui gerakan yang terorganisir. Lahirnya hari kebangkitan Nasional tidak bisa lepas dari berdirinya organisasi Boedi Oetomo sebagai organisasi yang pertama kali menggelorakan semangat nasionalisme.

Semangat Nasionalisme ini juga muncul di kalangan kaum agamawan khususnya kalangan pesantren. Pada saat itu kalangan pesantren yang dimotori para kiai juga menggalang gerakan untuk menyebarkan semangat nasionalisme dengan membentuk organisasi Nahdlatul Wathan (gerakan kebangsaan) yang dipimpin oleh KH Wahab Chasbullah. Gerakan kebangsaan kaum pesantren ini terus bergerak hingga lahirnya kemerdekaan dan terbentuknya NKRI. Gerakan ini tidak hanya dalam bentuk diskusi, fatwa agama tetapi juga pertempuran fisik di medan perang.

Dengan terlibatnya para santri, ulama dan kiai dalam gerakan Nasional, menunjukkan bahwa hubungan antara agama (Islam) dan paham kebangsaan di Indonesia sudah selesai dan final. Bagi umat Islam Indonesia, nasionalisme adalah cerminan dari ajaran Islam dan menjadi sarana untuk mengamalkan ajaran Islam. Sedangkan agama adalah sumber inspirasi dari nasionalisme (KH Saifuddin Zuhri, 1965). Spirit inilah yang dirumuskan KH Hasyim Asy'ari dalam statemen yang sangat terkenal, hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

Sikap dan pemahaman seperti inilah yang membuat umat Islam Indonesia bisa menerima NKRI sebagai bentuk negara dan Pancasila sebagai dasar negara setelah melalui perdebatan panjang yang melibatkan pemikiran Islam dari berbagai disiplin ilmu, terutama fiqih. Dengan demikian, mempertanyakan kembali hubungan agama dan negara apalagi menggugat bentuk dan dasar negara atas nama agama sudah tidak relevan lagi, seperti memutar balik arah jarum jam. Selain itu hal ini juga akan memancing perdebatan sia-sia yang bisa menghambat kemajuan bahkan bisa mengancam integritas bangsa

Ada kondisi memprihatinkan terkait dengan semangat nasionaliame bangsa Indonesia saat ini. Maraknya gerakan internasionalisme dalam bentuk liberalisme-kapitalisme di satu sisi dan fundamentalisme-puritanisme agama di sisi lain telah menggerus kesadaran nasionalisme warga bangsa Indonesia.

Akibat paham internsionalisme yang didukung oleh kemajuan teknologi informasi, hari ini kita melihat terjadi gerakan transformasi kesadaran dari citizenship menjadi nitizenship. Kewargaan yang dibatasi oleh identitas kenegaraan menjadi kewargaan lintas negara dan lintas geografis.

Kenyataan ini menunjukkan, sekarang telah terjadi anomali sosial di kalangan bangsa Indonesia. Dulu tekanan bangsa lain mampu menciptakan kesadaran kebersamaan dalam perbedaan sehingga tumbuh harga diri sebagai bangsa. Bangsa Nusantara yang beragam menggali dan menyatukan potensi sosial dan kultural yang ada untuk menghadapi tekanan dari luar. Kini tekanan dari bangsa lain justru mengancam kebersamaan dan persatuan. Ikrar sebagai bangsa dicampakkan, martabat bangsa diabaikan. 

Dengan kata lain orang-orang dulu memiliki kesadaran kreatif menggali potensi diri untuk membangun kekuatan sendiri melawan kekuatan luar. Orang sekarang justru hanyut dan larut dalam gerakan transnasional dengan mencampakkan potensi diri sebagai bangsa. Mereka bangga menjadi pemulung ide dan pengais sampah peradaban bangsa lain sambil mencaci maki peradaban bangsa sendiri. Mereka menggunakan pemikiran dan budaya luar untuk menghancurkan dan melemahkan budaya dan khazanah pemikiran bangsa sendiri.

Sikap ini muncul karena minimnya pemahaman terhadap sejarah bangsa sendiri dan miskinnya kesadaran terhadap tradisi dan budaya sendiri. Sejarah adalah referensi hidup bagi setiap bangsa. Suatu generasi yang tidak memiliki pemahaman terhadap sejarahnya sendiri seperti buih di atas gelombang lautan.

Mudah diombang-ambingkan keadaan dan dibohongi bangsa lain. Mereka menelan mentah-mentah setiap informasi dan pemikiran yang diberikan, tanpa reserve dan sikap kritis karena mereka tidak memiliki pemahaman sejarah yang bisa menjadi referensi hidup untuk mengkritisi setiap informasi dan pemikiran yang diterima dari bangsa lain.

Tradisi adalah jangkar yang membuat suatu bangsa memiliki karakter yang kokoh dan kuat sehingga tidak mudah hanyut dalam pusaran arus gelombang budaya dan pemikiran bangsa lain. Setiap bangsa yang tidak memiliki tradisi atau tidak paham terhadap budaya masyarakatnya akan mudah hanyut dalam arus kebudayaan bangsa lain. Jika sudah demikian maka bangsa tersebut akan keropos karena tidak memiliki kekuatan kultural dan sumber inspirasi untuk menghadapi gempuran budaya.

Inilah yg menyebabkan para pendiri bangsa tidak mudah hanyut dan larut dalam pemikiran bangsa lain. Ki Hadjar Dewantara, dr Soetomo, Moh. Hatta, A.A. Maramis, Sosro Kartono dan lain-lain semua belajar ke Eropa. Tetapi mereka tidak hanyut dalam budaya Eropa. Demikian juga para ulama Nusantara seperti  Syekh Nawawi Al-Bantani, Syech Abdusshomad al-Palimbani, Syekh Arsyad al-Banjari, Syekh Khatib al-Minangkabawi, Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari, Kiai Ahmad Dahlan, semua belajar ke Arab. Tapi mereka semua tidak hanyut dalam budaya Arab. 

Sekalipun hidup dan berada di negara lain, para leluhur itu tetap bisa memilah mana ajaran mana pemikiran dan budaya. Ini terjadi karena mereka memiliki pemahaman sejarah dan akar tradisi yang kuat yang bisa dijadikan referensi dan pijakan dalam membangun pemikiran dan menentukan sikap

Hal yang sama juga terjadi pada bangsa-bangsa lain, terutama bangsa Eropa, Amerika, Jepang, China yang tetap kokoh dan tegak spirit kebangsaannya sekalipun berada dalam pusaran arus modernisme dan globalisasi. Mereka tetap bangga dan menjaga martabat bangsanya meski telah menjadi bagian dari warga bangsa dunia maya (netizen). Ini karena mereka memiliki pamehaman yang baik terhadap sejarahnya sendiri dan tradisi yang mereka miliki.

Karena vitalnya peran dan posisi  sejarah dan tradisi suatu bangsa inilah maka strategi utama untuk bisa menguasai bangsa tersebut adalah dengan menghancurkan tradisi dan sejarahnya agar bangsa tersebut kehilangan jejak dan akar-akar sosialnya. Jika sudah demikian bangsa tersebut akan mudah dikuasai atau dihancurkan. Inilah yang sedang terjadi di negeri ini, hingga semangat kebangsaan bangsa ini rapuh dan luluh.

Di tengah kepungan arus ideologi dunia dan pusaran arus budaya global yang telah menggerogoti semangat kebangsaan sehingga melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, maka perlu adanya penguatan pemahaman sejarah dan akar-akar tradisi bangsa Indonesia yang beragam.

Hal ini bukan dimaksudkan untuk membanggakan diri yang bisa membuat bangsa ini terjebak dalam sikap narsis. Pemahaman sejarah dimaksudkan sebagai penggalian nilai yang dalam setiap penggalan sejarah bangsa untuk dijadikan referensi hidup agar bisa bersikap kritis terhadap keadaan dan pemikiran dari bangsa lain.

Sedangkan pemahaman tradisi dimasudkan sebagai jangkar untuk membentuk karakter diri sekaligus sebagai sumber  kreatifitas membangun budaya alternatif di era global. Dengan cara ini rasa bangga sebagai bangsa akan tumbuh sehingga martabat bangsa akan dapat dikembalikan.

Penulis adalah pegiata budaya, dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta