::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Tradisi KH Hasyim Asy’ari di Bulan Ramadhan

Kamis, 24 Mei 2018 03:00 Fragmen

Bagikan

Tradisi KH Hasyim Asy’ari di Bulan Ramadhan
Menurut KH Saifuddin Zuhri pada buku Berangkat dari Pesantren, KH Hasyim Asy'ari meskipun dikenal sebagai hadits, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sebenarnya memiliki pemahaman yang dalam di bidang fiqih. Sehingga bagi Kiai Saifuddin, ia tergolong fuqaha. 

Tak heran karena ia sejak belia menempa diri di berbagai pesantren. Ia dilahirkan di Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur, tanggal 24 Dhulqaidah 1287 H (14 Februari 1871 M). Ia wafat di Tebuireng pada 27 Juli 1947 M)

Kiai Hasyim sejak muda adalah seorang santri kelana. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lain di Jawa dan Madura. Untuk memperdalam ilmu lebih lanjut, kemudian ia belajar di Tanah suci Makkah. Selain belajar, ia juga mengajar di sana.   

Pada tahun 1313 Hijriyah ia mengajar di Makkah sambil belajar. Tahun 1321 H hingga 1324 mengajar di Kemuning, Kediri. Kemudian pada tahun 1324 hingga wafatnya, mengajar di Tebuireng, Jombang.

Namun, dalam bidang ilmu hadits KH Hasyim Asy'ari memiliki kecenderungan lebih. Ia sangat ahli. Membaca hadits seperti wiridan (kebiasaan rutin) saja. Itulah yang kemudian ia memiliki tempat tersendiri di mata ulama-ulama Indonesia waktu itu. Sebab tentu saja, hadits merupakan sumber kedua hukum Islam setelah Al-Qur’an. 

Menurut Afriadi Putra pada Pemikiran Hadis KH M. Hasyim Asy’ari dan Kontribusinya terhadap Kajian Hadtis di Indonesia, Kiai Hasyim Asy’ari dalam bidang hadits memberikan pengaruh yang cukup besar di Indonesia pada masanya. Sebab kajian hadits belum begitu banyak waktu itu. Bahkan bisa dikatakan melalui kitabnya Risalah Ahlussunnah wal Jamaah telah berhasil meletakkan dasar-dasar kajian hadis dan solusi teologis bagi persoalan yang sedang dihadapi masyarakat. 

Melalui kitab itu juga, ia  telah berhasil memperkenalkan kajian hadis kepada umat Islam di Indonesia yang diambil lansung dari kitab-kitab hadis primer, meskipun tidak semuanya.

Hadits telah mendarah daging pada kesehariannya. Terutama pada bulan Ramadhan. KH Hasyim Asy'ari memiliki kebiasaan membaca kitab hadits Sahih Bukhari, kitab yang berisi himpunan hadits Nabi sebanyak 7.275. Tradisi ini di kalangan pesantren disebut pasanan atau pasaran.  

Pada tiap Ramadhan, pengajian hadits KH Hasyim Asy'ari terkait kitab hadits itu para kiai dari berbagai pelosok negeri menyempatkan diri mondok selama sebulan. Mereka menyimak bacaan hadits Rais Akbar Nahdlatul Ulama itu. 

Ia membacanya dengan cermat, tetapi cepat, seolah-olah kitab hadits itu sudah dihafalnya.

Pada buku lain, Aboebakar Atjeh dalam Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim, sebagaimana dikutip Ajie Najmuddin, pada masa hidup Kiai Hasyim, lumrahnya di Bulan Ramadhan pesantren menjadi sepi, sebab para santri diliburkan untuk diberikan kesempatan pulang ke kampungnya masing-masing. Namun, sebaliknya di Tebuireng, suasana justru bertambah ramai, karena kedatangan oleh para santri yang ingin menghabiskan Ramadhan bersama sang guru tercinta.

“Ia (Hadratussyaikh, red) selama bulan puasa memberi kuliah istimewa mengenai ilmu hadist karangan Al-Bukhari dan Muslim. Kedua kitab hadist yang penting ini harus khatam dalam sebulan puasa itu dan oleh karena itu, jadilah bulan ini suatu bulan yang penting bagi kiai-kiai bekas muridnya di seluruh Jawa. Dalam bulan puasa, bekas murid-muridnya yang sudah memimpin pesantren di mana-mana, biasanya memerlukan datang tetirah ke Tebuireng, tidak saja untuk melanjutkan hubungan silaturahmi dengan gurunya, tetapi juga untuk mengikuti seluruh kuliah istimewa mengenai hadist Al-Bukhari dan Muslim guna mengambil berkah atau tabaruk,” (Atjeh, 105-106).

Pengajian tersebut biasanya diselenggarakan di pendopo masjid. Tempat ini dalam kesehariannya juga digunakan untuk mengajar para santri. Biasanya beliau mengajar bahkan sampai tengah malam. Sebagai tempat duduk, digunakan alas sepotong kasur yang ditutupi dengan sepotong tikar atau sepotong kulit biri-biri, dan di sampingnya terdapat sebuah bangku untuk meletakkan beberapa kitab. (Abdullah Alawi)