::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Kajian Hadits Ampunan dan Pembebasan dari Neraka di Bulan Ramadhan

Jumat, 25 Mei 2018 17:00 Ilmu Hadits

Bagikan

Kajian Hadits Ampunan dan Pembebasan dari Neraka di Bulan Ramadhan
Hadits palsu mulai banyak bermunculan setelah Rasulullah wafat. Hadits palsu berati setiap informasi yang mengatasnamakan Nabi Muhammad, padahal informasi tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW. Di antara motif penyebaran hadits palsu ialah untuk kepentingan politik dan mendorong orang lain agar semangat dalam beribadah.

Pada bulan Ramadhan misalnya, ada banyak hadits yang beredar dan disebarkan terkait keutamaan bulan Ramadhan. Bisa dipastikan niat dari penyebar hadits tersebut adalah baik, yaitu mengajak orang untuk memperbanyak ibadah dan amal saleh di bulan Ramadhan.

Tetapi, sebelum mengamalkannya, alangkah baiknya diketahui dulu bagaimana kualitas hadits tersebut. Jangan sampai beramal dengan menggunakan hadits palsu atau hadits yang sangat rendah kualitasnya. Di antara hadits dhaif yang sering beredar di bulan Ramadhan adalah hadits tentang Ramadhan dibagi tiga. Redaksi haditsnya sebagai berikut:

أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ، وأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرَهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Artinya, “Awal Bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Kemudian dalam riwayat lain disebutkan:

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ

Artinya, “Ramadhan adalah bulan yang awalnya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Hadits pertama terdapat dalam Kitab Ad-Dhu‘afa karya Al-‘Uqaili, sementara hadits kedua ditemukan dalam Kitab Shahih Ibnu Khuzaimah. Perlu diketahui, meskipun judul kitab ini Shahih Ibnu Khuzaimah bukan berati seluruh hadits yang terdapat di dalamnya shahih.

Kedua hadits ini sudah pernah diteliti oleh Kiai Ali Mustafa Yaqub. Hasil penelitian tersebut dimuat dalam Buku Hadits-hadits Palsu Ramadhan. Dalam buku ini, Kiai Ali menjelaskan, hadits pertama dihukumi dhaif oleh kebanyakan ulama. Di antaranya Imam As-Suyuthi. Hadits pertama dikatakan dhaif karena diriwayatkan oleh Sallam bin Sawar dan Maslamah bin Shalt.

Sallam bin Sawar dianggap oleh kritikus hadits sebagai munkarul hadits. Sementara Maslamah bin Shalt dinilai sebagai matruk. Munkar dan matruk adalah dua penilaian yang menunjukkan bahwa hadits yang disampaikan oleh perawi tersebut sangatlah lemah dan tidak bisa dijadikan pedoman.

Kemudian pada riwayat kedua, ada seorang perawi bernama Ali bin Zaid bin Jud’an. Ali bin Zaid dihukumi dhaif oleh kebanyakan ulama sehingga hadits kedua ini juga tidak bisa dikatakan shahih karena di dalamnya terdapat rawi bermasalah dan tidak bisa menjadi penguat untuk riwayat pertama, karena kualitas haditsnya lemah.

Meskipun kedua hadits ini lemah, tapi bukan berati kemuliaan dan keutamaan Ramadhan hilang begitu saja. Sebab masih banyak riwayat lain yang shahih menunjukkan Ramadhan adalah bulan mulia dan bulan terbaik untuk beramal saleh, termasuk tobat, karena pintu tobat terbuka lebar.

Di antara hadits keutamaan Ramadhan adalah:

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ، وَفُتِحَتْ أَبُوَابُ الجَّنَةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ

Artinya, “Ketika masuk bulan Ramadhan, maka setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sebagian ulama memahami ditutupnya pintu neraka berarti Allah memaafkan dosa hamba-Nya yang bertobat dan membuka pintu kebaikan sebanyak mungkin. Karena itu, mumpung masih Ramadhan, perbanyaklah beramal saleh dan ibadah. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)