NU: IDUL FITHRI 1439 H MENUNGGU HASIL RUKYAH KAMIS 14 JUNI 2018::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tanpa Gerakan Masyarakat, Entaskan Masalah Sampah itu Berat

Jumat, 25 Mei 2018 15:15 Lingkungan

Bagikan

Tanpa Gerakan Masyarakat, Entaskan Masalah Sampah itu Berat
Ilustrasi (abc.net.au)
Jakarta, NU Online
Sampah menjadi salah satu masalah yang belum juga terselesaikan di negeri ini. Masyarakat masih banyak yang belum sadar bahwa sampah memiliki nilai ekonomi. Akibatnya, mereka masih dengan mudahnya membuang begitu saja. Terlebih bukan pada tempatnya.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyatakan bukan perkara mudah menangani sampah, jika tanpa peran serta masyarakat di dalamnya.

“Yang paling penting dan paling cepat menyelesaikan masalah sampah adalah kita bersama, melalui gerakan-gerakan masyarakat”, katanya di hadapan 350 orang dari perwakilan asosiasi Bank Sampah, Pengusaha Daur Ulang Plastik, Pemerhati Lingkungan dan Lembaga Pelestarian Alam MUI, di Jakarta, Kamis (24/5), sebagaimana bunyi siaran pers Kementerian LHK di situs resminya. 

Selain keterlibatan masyarakat, hal lain yang mendukung pengentasan masalah sampah adalah pengelolaan sampah. Saat ini, bank sampah tengah berkembang secara masif. Masyarakat diberikan pengetahuan untuk memilah sampah di rumahnya dan membawanya ke bank sampah guna didaur ulang.

Bank Sampah saat ini telah berjumlah 5.244 di 31 propinsi dan 218 kabupaten/kota di seluruh Indonesia dengan nasabah sebanyak 174.904 orang. Kontribusi bank sampah terhadap pengurangan sampah nasional sebesar 1,7 persen. Hal ini dapat  menumbuhkan ekonomi sirkular di masyarakat.

Ketua Asosiasi Bank Sampah Indonesia Saharudin Ridwan menuturkan bahwa konsep Bank Sampah adalah dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Dengan adanya bank sampah, lingkungan jadi bersih, dan masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi.

“Sekarang telah muncul berbagai inovasi misalnya sampah tukar air galon, sampah tukar beras, dan lain-lain,” kata Saharudin.

Sejalan dengan isu pengelolaan sampah yang terus menjadi perhatian masyarakat, komunitas atau pemerhati lingkungan yang konsen terhadap pengelolaan sampah nasional mulai menjamur. Saat ini tercatat sudah terdapat 722 komunitas, kelompok, atau gerakan masyarakat yang peduli terhadap pengelolaan sampah.

“KLHK sangat mengapresiasi semua gerakan berbasis masyarakat ini”, ucap Siti Nurbaya.

Diharapkan hal ini dapat mendorong target pencapaian pengelolaan sampah nasional sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Presiden No 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan Strategi Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, yaitu 30% pengurangan sampah dan 70% penanganan sampai tahun 2025.

Selama Ramadhan, Kementerian LHK menggelar Green Ramadhan 2018 dengan tema Berjuta Cinta untuk Indonesia Hijau, Adil dan Lestari saban Selasa dan Kamis. Diskusi perdana itu mengangkat topik Bisnis Kelola Sampah yang Berkah. (Syakir NF/Mahbib)